Kamis, 14 Juni 2012

Bab 7. Di Kegelapan Malam


  

LIHATLAH KETAKUTAN MU... Suatu hari, ketika malam menjelang, tiada yang lainnya... Jika saya berunding dengan diri sendiri, saya tak akan pernah pergi, jadi saya mengajak seorang pa-kow dan pergi.

"Jika tiba saatnya mati maka biarlah mati. Jika pikiranku bandel dan bodoh maka biarlah ia mati..." begitulah saya memikirkan untuk diri sendiri. Sesungguhnya di dalam hati saya tidak ingin pergi tetapi saya paksakan diri". Bila demikian keadaannya, lalu jika kamu tunggu sampai semuanya beres maka kamu tak akan pernah pergi. Kapan kamu akan melatih dirimu?" Oleh karena itu saya pergi juga.

Sebelumnya saya tidak pernah tinggal di tanah perkuburan. Ketika saya sampai di sana, tiada kata-kata yang bisa menggambarkan perasaan saya. Si pa-kow ingin berada di samping saya tetapi tidak saya berikan. Saya menyuruhnya diam di kejauhan. Sebenarnya saya ingin dia berada di dekat saya untuk menemani, tetapi tidak saya lakukan. Saya biarkan ia pergi, kalau tidak saya akan mengharapkan dukungannya.

"Jika saya begitu takut maka biarlah saya mati malam ini".

Saya takut, tetapi saya tertantang. Bukannya saya tidak takut, tetapi saya punya semangat. Bagaimanapun juga toh akhirnya kita harus mati.

Ketika hari mulai gelap saya mendapat kesempatan, yaitu orang-orang datang membawa sesosok jenazah. Beruntunglah saya! Saya bahkan tak bisa merasakan kaki saya menyentuh tanah, saya begitu ingin keluar dari sana. Mereka menginginkan saya melakukan upacara pemakaman tersebut tetapi saya tak mau terlibat, saya hanya menyingkir. Tak lama kemudian, setelah mereka pergi, saya kembali dan menemukan bahwa mereka telah mengubur jenazah tepat di samping tempat saya.

Sekarang apa yang harus saya kerjakan? Ini bukannya karena di sini dekat desa, yang sekitar tiga kilometer jaraknya.

"Baik, jika saya akan mati, biarlah saya mati..."

Jika kalian tak pernah berani melakukannya, kalian tak akan pernah mengetahui bagaimana sesungguhnya. Ini sungguh merupakan satu pengalaman.

Ketika hari bertambah gelap saya bigung kemana harus lari di tengah daerah pekuburan.

"Oh, biarlah mati. Orang lahir dalam kehidupan ini hanyalah untuk mati".

Segera setelah matahari terbenam sang malam mengisyaratkan agar saya masuk kedalam "glot" ("Glot" —payung besar milik"dhutanga" Thai atau para bhikkhu yang berdiam di hutan, yang digantungkan di pohon, di mana mereka memasang jala nyamuk (kelambu) sebagai tempat tinggal selama berada di hutan.). Saya tidak ingin melakukan meditasi berjalan sedikit, saya hanya ingin masuk kedalam kelambu saya. Setiap kali saya berusaha jalan ke arah kuburan tampaknya ada sesuatu yang mendorong saya kembali dari belakang, yang mencegah saya berjalan. Tampaknya perasaan takut dan semangat saya bersaing ketat. Tetapi saya lakukan itu. Begitulah cara kalian melatih diri sendiri.

Ketika hari telah gelap, saya masuk kedalam kelambu saya. Rasanya bagaikan saya mempunyai tembok berlapis tujuh di sekeliling saya. Melihat mangkuk saya yang setia di sisi saya bagaikan melihat seorang teman lama. Kadangkala hanya sebuah mangkuk bisa menjadi teman! Keberadaannya di sisi saya sungguh menyenangkan. Paling tidak saya mempunyai mangkuk sebagai teman.

Sepanjang malam saya duduk di dalam kelambu mengamati badan jasmani. Saya tidak rebahan ataupun tertidur sejenak, saya hanya duduk tenang. Saya tidak bisa mengantuk walaupun saya ingin bisa mengantuk, saya begitu takut. Ya, saya takut, meskipun demikian saya melakukannya. Saya duduk sepanjang malam.

Sekarang siapa yang punya keberanian untuk praktek seperti itu? Cobalah dan alamilah. Jika pengalamannya seperti ini, siapa yang berani pergi dan tinggal di daerah perkuburan? Jika kalian tidak menjalankannya sendiri, kalian tidak memperoleh hasil, kalian belum praktek sesungguhnya. Kali ini saya sudah mempraktekkannya.

Ketika fajar menyingsing saya merasa, "Oh! Saya berhasil!" Saya begitu gembira, saya hanya ingin siang hari, tanpa malam hari sama sekali. Saya ingin memusnahkan sang malam dan menyisakan siang hari saja. Saya begitu senang, saya telah berhasil. Saya berpikir, "Oh, sesungguhnya tidak ada apapun, hanya ada ketakutan saya, itulah semuanya".

Setelah pergi berpindapata dan makan, saya merasa baikan. Matahari bersinar, membuat saya merasa hangat dan enak. Saya beristirahat dan berjalan sebentar. Saya berpikir, "malam ini saya akan bermeditasi dengan lebih baik dan tenang, karena saya sudah melaluinya malam tadi. Mungkin tidak ada yang lebih dari itu".

Selanjutnya, ketika lewat tengah hari, tahukah kalian apa yang terjadi? Datang lagi jenazah yang lain, kali ini jenazah yang besar (Pada malam pertama tampaknya jenazah seorang anak keci). Mereka membawa jenazah itu dan memperabukannya tepat di sebelah tempat saya, tepat di depan "glot" saya. Ini bahkan lebih buruk dari kemarin malam!

"Baik", saya pikir, "dengan membawa jenazah dan membakarnya di sini akan membantu praktek saya".

Tetapi saya tetap tidak melakukan upacara apapun untuk mereka, saya tunggu mereka sampai pergi sebelum melihatnya.

Membakar badan/jenazah itu untuk saya amati sepanjang malam, tak dapat saya katakan bagaimana sebenarnya. Kata-kata tidak dapat menggambarkannya. Tak ada yang bisa saya sampaikan untuk menggambarkan rasa takut saya. Di kegelapan malam, ingat itu. Api pembakaran jenazah berkelip-kelip merah dan hijau serta nyala api meletup-letup pelan. Saya ingin melakukan meditasi jalan di depan jenazah itu tetapi saya hampir tidak bisa melakukannya. Akhirnya saya masuk ke dalam kelambu saya. Bau busuk dari daging yang terbakar tetap ada sepanjang malam.

Dan hal ini, sebelum semuanya benar-benar terjadi...

Ketika nyala api berkelip-kelip lemah saya membelakangi api itu. Saya lupa tentang tidur, saya bahkan tak bisa memikirkannya, mata saya kaku ketakutan. Dan tak ada orang yang bisa ditoleh, hanya ada saya. Saya harus percaya pada diri sendiri. Saya tak bisa berpikir harus ke mana, tak ada tempat untuk berlari pada malam yang kelam itu.

"Baik, saya akan duduk dan mati di sini. Saya tak akan pindah dari tempat ini".

Di sini, berbicara dengan pikiran biasa, apakah ia mau melakukannya? Apakah ia akan membawa kalian pada situasi semacam itu? Jika kalian berusaha untuk menimbang-nimbang, kalian tak akan pernah pergi. Siapa yang mau melakukan hal ini? Jika kalian tidak mempunyai keyakinan yang kuat pada ajaran Sang Buddha, kalian tak akan pernah melakukannya.

Sekarang, sekitar pukul sepuluh malam, saya duduk membelakangi api. Saya tidak tahu apa yang terjadi, tetapi terdengar suara langkah kaki terseret dari api di belakang saya. Apakah peti jenazahnya telah hancur? Atau mungkin seekor anjing mendekati jenazah itu? Tetapi tidak, suara itu lebih mirip langkah pasti seekor kerbau.

"Oh, tak apalah..." Tetapi selanjutnya ia mulai berjalan ke arah saya, persis seperti orang! Ia berjalan di belakang saya, langkahnya berat, seperti seekor kerbau, tetapi bukan...! Gemerisik daun di bawah langkah kaki tampak berputar ke depan. Baik, saya hanya bisa bersiap untuk yang terburuk, kemana lagi harus pergi? Tetapi semuanya tidak terjadi, ia hanya berkeliling di depan dan selanjutnya pergi ke arah pa-kow. Selanjutnya semua tenang. Saya tidak tahu apa yang terjadi, tetapi ketakutan membuat saya berpikir tentang berbagai kemungkinan.

Satu setengah jam kemudian, saya kira, langkah kaki tersebut datang kembali dari arah pa-kow. Persis seperti orang! Ia datang tepat ke arah saya, kali ini menuju ke arah saya bagaikan mau menubruk saya! Saya memejamkan mata dan tak mau membukanya.

"Saya akan meninggal dengan mata terpejam".

Ia lebih mendekat sampai akhirnya berhenti di hadapan saya dan duduk tidak bergerak. Saya merasa seolah-olah ia melambai-lambaikan tangan di depan mata saya yang terpejam. Oh! Memang begitu! Saya membuang segalanya, lupa semua tentang Buddho, Dhammo dan Sangho. Saya melupakan semuanya, hanya ada rasa takut dalam diri saya, menumpuk sepenuhnya. Pikiran saya tak bisa pergi kemana pun, hanya ada rasa takut. Sejak saya dilahirkan saya belum pernah mengalami rasa takut seperti ini. Buddho dan Dhammo telah menyingkir, saya tidak tahu kemana. Hanya ada rasa takut yang mengalir di dada sampai terasa menyesakkan.

"Baik, biarlah begitu, tak ada yang bisa dikerjakan".

Saya duduk bagaikan tidak menyentuh tanah dan hanya mengamati apa yang terjadi. Rasa takut begitu menguasai saya, bagaikan kendi yang penuh terisi air. Jika kalian mengisi kendi hingga penuh, lalu menuang sedikit lagi, kendi itu akan meluap. Begitu pula, rasa takut berkembang dalam diri saya sampai mencapai titik puncak dan mulai meluap.

"Mengapa aku begitu takut?" Suara dalam diri saya bertanya.

"Saya takut akan kematian", suara yang lain menjawab.

"Baik, sekarang di manakah kematian itu? Mengapa panik? Cari di mana tempat kematian. Di manakah kematian?"

"Mengapa, kematian ada di dalam diriku!"

"Jika kematian ada di dalam diriku, kemanakah kamu akan lari untuk menghindarinya? Jika kamu lari kamu mati, jika kamu tetap di sini kamu mati. Kemana pun kamu pergi ia pergi bersamamu karena kematian berada di dalam dirimu, tidak ada tempat bagimu untuk melarikan diri. Apakah kamu takut atau tidak, kamu akan mati, tidak ada tempat untuk menghindari kematian".

Segera setelah saya berpikir begitu, pemahaman saya sepenuhnya berubah. Semua rasa takut hilang semudah membalikkan telapak tangan. Ini sungguh menakjubkan. Begitu besar rasa takut tadinya toh itu bisa hilang begitu saja! Rasa tidak takut muncul di tempat rasa takut tadi. Sekarang batin saya bangkit lebih tinggi dan lebih tinggi sampai saya merasakan bagaikan berada di awan.

Segera setelah saya mengalahkan rasa takut, hujan mulai turun. Saya tidak tahu hujan macam apakah itu, anginnya begitu kencang. Tetapi saya tidak takut mati lagi. Saya tidak takut bahwa dahan-dahan di pohon bisa jatuh menimpa saya. Saya tidak mempedulikannya. Hujan bergemuruh bagaikan aliran air yang deras di musim panas, sungguh lebat. Ketika hujan reda semuanya basah kuyub.

Saya duduk tidak bergerak.

Lalu apakah yang saya lakukan selanjutnya, dengan keadaan basah kuyub seperti itu? Saya menangis! Air mata membasahi kedua pipi saya. Saya menangis karena berpikir, "Mengapa aku duduk di sini bagaikan anak yatim piatu atau anak yang ditinggalkan, duduk, berbasah kuyub di bawah hujan bagaikan orang yang tidak memiliki apapun, bagaikan orang bujangan?".

Selanjutnya saya berpikir, "Semua orang yang duduk nyaman di rumah saat ini mungkin sama sekali tidak menduga bahwa ada seorang bhikkhu yang duduk di sini, berbasah kuyub di bawah curah hujan sepanjang malam seperti ini. Apakah tujuannya semua itu?" Dengan berpikir begitu saya mulai menyesali akan air mata yang telah mengalir.

"Air mata ini bukanlah barang yang baik, biarlah mereka mengalir keluar semuanya".

Beginilah cara saya berlatih.

Sekarang saya tidak tahu bagaimana saya bisa menjelaskan hal-hal seterusnya. Saya duduk... duduk dan mendengar. Setelah mengalahkan perasaan saya, saya hanya duduk dan mengamati semua hal yang muncul dalam diri saya, begitu banyak hal yang bisa diketahui tetapi tidak mungkin untuk dijabarkan. Dan saya merenungkan kata-kata Sang Buddha.... Paccattam veditabbo viññuhi.(Baris terakhir ungkapan tradisional Pali yang mencantumkan sifat-sifat Dhamma.) "Ia yang bijaksana akan mengetahui untuk dirinya sendiri".

Bahwa saya sudah menahan penderitaan seperti itu dan duduk di bawah curah hujan... siapakah yang mengalami bersama saya? Hanya saya saja yang bisa mengetahuinya. Begitu banyak air mata namun rasa takut lenyap. Siapakah yang bisa menjadi saksi? Mereka yang berada di rumahnya di kota tak bisa mengetahuinya, hanya saya yang bisa melihatnya. Itu merupakan pengalaman pribadi. Meskipun saya ceritakan pada orang lain mereka tidak akan mengerti sepenuhnya, itu merupakan sesuatu untuk dirasakan oleh tiap-tiap orang untuk dirinya sendiri, lebih banyak saya merenungkan hal ini, ia menjadi lebih jelas. Saya menjadi lebih kuat, keyakinan saya menjadi lebih kokoh, sampai fajar menyingsing.

Sang fajar ketika saya membuka mata, semua tampak kuning.

Semalam sesungguhnya saya ingin buang air kecil tetapi perasaan telah menghalanginya. Pada pagi hari ketika saya bangkit dari duduk di manapun yang saya lihat tampak kuning, seperti sinar matahari pagi pada hari lain. Ketika saya buang air kecil, ada darah di sana.

"Eh? Apakah usus saya sobek atau ada sesuatu?" Saya agak takut... "Mungkin benar ada yang sobek di dalam".

"Baik, lalu kenapa? Jika memang sobek siapa yang harus disalahkan?" Segera suatu suara berkata. "Jika sobek tetap sobek, jika saya mati tetap mati. Saya hanya duduk di sini, saya tidak melakukan kejahatan apapun. Jika akan meledak, biarlah meledak", kata suara itu.

Batin saya bagaikan sedang berdebat dan berperang dengan dirinya sendiri. Satu suara dari sisi lain berkata, "Hei, ini berbahaya!" Suara yang lain akan menjawab, menegur dan mengesampingkannya.

Air seni saya tercemar oleh darah.

"Hmm. Di manakah saya bisa mendapatkan obat?"

"Saya tak akan mempedulikan hal itu. Bagaimanapun, seorang bhikkhu tak mungkin memotong tanaman untuk obat. Jika saya mati, lalu kenapa? Apa lagi yang harus dilakukan? Jika saya mati ketika sedang berlatih seperti ini maka saya sudah siap. Jika saya mati karena melakukan keburukan itu tidak baik, tetapi mati karena berlatih seperti ini saya siap".

Jangan ikuti suasana-hati kalian. Lihatlah dirimu sendiri. Praktek ini membutuhkan pertaruhan kehidupan kalian. Kalian harus sudah menangis paling tidak dua atau tiga kali. Itu baik, itulah praktek. Jika kalian mengantuk dan ingin berbaring maka jangan biarkan sampai tertidur. Singkirkan rasa kantuk sebelum kalian berbaring. Tetapi lihatlah diri kalian, kalian tidak mengetahui bagaimana cara berlatih.

Kadang-kadang, saat kalian kembali dari berpindapata dan kalian merenungkan makanan itu sebelum dimakan, kalian tidak bisa tenang, pikiran kalian bagaikan seekor anjing gila. Air liur mengalir, kalian begitu lapar. Kadang-kadang kalian bahkan tidak mempedulikan perenungan, kalian langsung makan. Itu adalah suatu malapetaka. Jika batin tak mau tenang dan sabar maka singkirkan mangkuk kalian dan jangan makan. Latihlah dirimu sendiri, itulah praktek. Jangan hanya mengikuti pikiran kalian. Singkirkan mangkuk kalian, berdiri dan tinggalkan, jangan izinkan diri kalian makan. Jika ia begitu ingin makan dan begitu keras kepala maka jangan biarkan ia makan. Air liur akan berhenti mengalir. Jika kekotoran-kekotoran batin tahu bahwa ia tak akan mendapatkan apapun untuk dimakan maka mereka akan takut. Besok mereka tak berani mengganggu kalian, mereka takut tak mendapatkan apapun untuk dimakan. Cobalah jika kalian tidak mempercayai saya.

Orang-orang tidak mempercayai praktek, mereka tidak berani untuk benar-benar melakukannya. Mereka takut akan kelaparan, mereka takut mati. Jika kalian tidak mencobanya kalian tak mengetahui yang sebenarnya. Kebanyakan kita tak berani melakukannya, tak berani mencobanya, kita takut.

Jika tiba saatnya makan dan semacamnya, saya sudah mengalaminya lama sekali, sehingga saya mengerti seperti apa mereka itu. Dan itu juga hanyalah hal kecil. Jadi praktek bukanlah sesuatu yang bisa dipelajari dengan mudah.

Pertimbangkan: Apakah yang paling penting di antara semuanya? Tiada yang lain, kecuali kematian. Kematian adalah hal yang terpenting di dunia ini. Pertimbangkan, praktekkan, selidiki... Jika kalian tak mempunyai pakaian, kalian tak akan mati. Jika kalian tak mempunyai buah pinang untuk dikunyah atau rokok untuk dihisap, kalian tetap tak akan mati. Tetapi jika kalian tidak mempunyai nasi atau air, maka kalian akan mati. Saya melihat di dunia ini hanya dua hal ini yang penting. Kalian memerlukan nasi dan air untuk memberi makan tubuh ini. Jadi saya tidak tertarik pada yang lainnya, saya puas dengan apapun yang diberikan. Selama saya mendapatkan nasi dan air, itu cukuplah untuk praktek, saya merasa puas.

Apakah itu cukup bagi kalian? Semua yang lainnya hanyalah barang tambahan, kalian memperolehnya atau tidak, itu tidaklah penting. Kalian memperolehnya atau tidak, itu bukanlah masalah, bahan-bahan yang terpenting hanyalah nasi dan air.

"Jika saya hidup seperti ini mampukah saya bertahan?" Kutanyai diri sendiri, "Tampaknya cukup untuk dilewati dengan baik. Paling tidak saya bisa mendapatkan nasi pada saat berpindapata di desa manapun, sejumput dari setiap rumah. Air biasanya tersedia. Hanya dua ini saja cukup..." Saya tidak bertujuan untuk menjadi kaya.

Berkenaan dengan praktek, benar dan salah biasanya berdampingan. Kalian harus berani melakukannya, berani praktek. Jika kalian belum pernah ke tanah perkuburan, kalian harus melatih diri untuk pergi. Jika kalian tidak bisa pergi saat malam, pergilah di siang hari. Selanjutnya latihlah diri kalian untuk pergi sore sampai kalian bisa pergi saat menjelang malam dan tinggal di sana. Maka kalian akan melihat efek-efek dari praktek itu. Selanjutnya kalian akan mengerti.

Batin ini sekarang sudah diperdaya sebanyak berapa kali kehidupan yang tidak kita ketahui. Kita menghindari apapun yang tidak kita sukai atau cintai, kita hanya menuruti ketakutan-ketakutan kita. Dan kita katakan kita sedang praktek. Ini tidak bisa disebut "praktek"! Jika itu adalah praktek yang sejati, kalian bahkan akan mempertaruhkan kehidupan kalian. Jika kalian benar-benar telah memutuskan untuk praktek, mengapa kalian memperhatikan urusan-urusan yang sepele?... "Saya hanya mendapat sedikit, kalian memperoleh banyak". "Kamu berdebat denganku maka aku berdebat denganmu..." Saya sama sekali tidak memiliki pikiran-pikiran semacam ini karena saya tidak mencari hal-hal demikian. Apapun yang dilakukan orang lain itu urusan mereka. Pergi ke vihara lain, saya tidak melibatkan diri dalam urusan-urusan seperti itu. Bagaimanapun tinggi atau rendah praktek orang lain, saya tak akan mencampurinya, saya hanya mengurusi urusan saya sendiri. Dengan begitu saya berani praktek, dan praktek itu membangkitkan kebijaksanaan dan pandangan terang.

Jika praktek kalian benar-benar telah mengenai sasaran maka kalian benar-benar praktek. Siang atau malam kalian tetap berlatih.

Pada malam hari, ketika sunyi, saya akan duduk bermeditasi, lalu turun untuk berjalan, bergantian ke muka dan ke belakang, semalam paling tidak dua atau tiga kali. Berjalan lalu duduk, terus berjalan lagi... Saya tidak bosan, saya menikmatinya.

Kadang-kadang turun hujan rintik-rintik dan saya merenungkan saat saya dulu bekerja di ladang padi. Celana kerja saya masih basah dari hari sebelumnya tetapi saya harus bangun sebelum fajar dan mengenakannya lagi. Selanjutnya saya harus ke kolong rumah untuk mengeluarkan kerbau. Yang bisa saya lihat dari si kerbau hanyalah lehernya saja, karena di situ sangat berlumpur. Saya jangkau talinya yang terbungkus lumpur. Selanjutnya ekor kerbau akan dikibaskan dan ujungnya akan memercikku dengan lumpur. Kaki saya pedih karena kutu air dan saya akan berjalan dengan merenungkan, "Mengapa hidup begitu menyengsarakan?" Dan sekarang di sini saya sedang bermeditasi-jalan... apakah arti sedikit hujan bagi saya? Dengan berpikir begitu saya mendorong diri saya dalam praktek.

Jika praktek sudah memasuki sang arus maka tidak ada apapun yang bisa dibandingkan dengannya. Tiada penderitaan seperti penderitaan seorang pencari Dhamma, dan tiada kebahagiaan seperti kebahagiaannya juga. Tidak ada semangat yang bisa dibandingkan dengan semangat seorang pencari Dhamma dan tak ada kemalasan yang bisa dibandingkan dengannya pula. Para pelaksana Dhamma adalah hebat. Itulah sebabnya saya katakan jika kalian benar-benar praktek itu merupakan suatu pemandangan untuk dilihat.

Tetapi kebanyakan dari kita hanya membicarakan praktek tanpa melaksanakan atau mencapainya. Praktek kita bagaikan seorang yang atapnya bocor di satu sisi sehingga ia tidur di sisi lain rumah itu. Ketika cahaya matahari masuk pada sisi itu ia berguling ke sisi lain, dan selalu berpikir "Kapan aku bisa mempunyai rumah yang layak seperti yang lainnya?" Ketika seluruh atap berlubang maka ia akan bangun dan meninggalkannya. Ini bukanlah cara melaksanakan sesuatu, tetapi begitulah orang pada umumnya.

Batin kita, kekotoran-kekotoran batin kita... jika kalian ikuti mereka, mereka akan menimbulkan kesulitan. Lebih banyak kalian mengikutinya lebih merosot praktek kalian. Dengan praktek yang sesungguhnya, kadang-kadang kalian bahkan akan takjub melihat semangat kalian. Apakah orang lain praktek atau tidak, jangan pedulikan, laksanakan saja praktek kalian sendiri secara terus-menerus. Siapapun yang datang atau pergi tidaklah masalah, kerjakan saja praktek itu. Kalian harus melihat ke dalam diri sendiri sebelum hal itu bisa disebut "praktek". Jika kalian benar-benar praktek maka tidak ada konflik/pertentangan di dalam batin kalian, di sana hanya ada Dhamma.

Di mana saja kalian masih merasa janggal, di mana saja kalian masih kurang, di sanalah kalian harus melatih diri kalian. Jika kalian belum memecahkannya janganlah menyerah. Setelah selesai dengan satu hal kalian melekat pada hal lain, begitu terus-menerus sampai itu berakhir. Kapan saja kalian melekat, bertahanlah sampai kalian memecahkannya, jangan berhenti. Jangan merasa puas sampai itu berakhir. Arahkan semua perhatian kalian pada titik itu. Ketika duduk, berbaring, atau berjalan, amatilah tepat di situ.

Bagaikan seorang petani yang belum menyelesaikan sawahnya. Setiap tahun ia menanam padi tetapi tahun ini ia belum menyelesaikannya, sehingga pikirannya melekat pada pekerjaan itu, ia tidak bisa beristirahat. Pekerjaannya belum selesai. Bahkan pada saat ia bersama teman-temannya, ia tidak bisa santai, setiap saat ia dibayangi oleh pekerjaannya yang belum rampung. Atau seperti seorang ibu yang meninggalkan bayinya di atas loteng di dalam rumah ketika ia memberi makan hewan di bawah: ia selalu memikirkan bayinya, kalau-kalau ia terjatuh dari rumah. Walaupun ia mungkin melakukan pekerjaan lain, bayinya tak pernah lepas dari pikirannya.

Semua ini sama bagi kita dan praktek kita —kita tak pernah melupakannya. Walaupun kita mungkin mengerjakan hal lain, praktek kita tak pernah lepas dari pikiran kita, ia selalu bersama kita, siang dan malam. Semuanya harus seperti itu jika kalian ingin memperoleh kemajuan.

Pada awalnya kalian harus mempercayai seorang guru untuk memberi petunjuk serta menasehati kalian. Ketika kalian mengerti, maka praktekkanlah. Bila guru telah memberi petunjuk, kalian ikuti petunjuk-petunjuk itu. Jika kalian mengerti praktek itu, maka tidaklah perlu bagi sang guru untuk mengajar kalian, lakukanlah pekerjaan itu sendiri. Bilamana kelengahan atau sifat-sifat buruk muncul kenalilah sendiri, ajarilah diri kalian sendiri. Lakukanlah latihan itu sendiri. Batin adalah satu-satunya yang mengetahui, yang menjadi saksi. Batin mengetahui jika kalian masih sangat dibodohi atau hanya sedikit dibodohi. Kapan saja kalian masih salah cobalah untuk berlatih tepat pada titik itu, curahkanlah tenaga padanya.

Praktek adalah seperti itu. Hal itu hampir seperti menjadi gila, atau kalian bahkan bisa mengatakan bahwa kalian gila. Jika kalian benar-benar praktek kalian memang gila, kalian "memberontak". Kalian sudah mengubah persepsi/pemahaman dan kemudian kalian menyesuaikan persepsi kalian. Jika kalian tidak menyesuaikannya, ia akan tetap menyusahkan dan menyedihkan seperti sebelumnya.

Jadi ada banyak penderitaan dalam praktek, tetapi jika kalian tidak mengenali penderitaan kalian sendiri, kalian tidak akan mengetahui Kesunyataan Mulia tentang Penderitaan. Untuk mengetahui penderitaan, untuk memusnahkannya, pertama-tama kalian harus mengalaminya. Jika kalian ingin menembak seekor burung tetapi tidak pergi dan mencarinya, bagaimana kalian akan pernah menembaknya? Penderitaan, penderitaan... Sang Buddha mengajarkan tentang penderitaan: Penderitaan karena kelahiran, penderitaan karena usia tua... jika kalian tidak mau mengalami penderitaan kalian tak akan melihat penderitaan. Jika kalian tidak melihat penderitaan kalian tak akan mengerti penderitaan. Jika kalian tidak mengerti penderitaan kalian tak akan bisa bebas dari penderitaan.

Sekarang orang tidak mau melihat penderitaan, mereka tidak mau mengalaminya. Jika mereka menderita di sini mereka lari ke sana. Kalian tahu? Mereka hanya menyeret penderitaan mereka di sekitar mereka, mereka tak pernah mengatasinya. Mereka tidak merenungkan atau menyelidikinya. Mereka berusaha melarikan diri dari penderitaan secara fisik. Selama kalian masih tidak tahu, kemana pun kalian pergi, kalian akan menemui penderitaan. Bahkan jika kalian naik pesawat terbang untuk menghindarinya, ia akan naik pesawat terbang bersama kalian. Jika kalian menyelam di bawah air, ia akan menyelam bersama kalian, karena penderitaan berada di dalam diri kita. Tetapi kita tidak mengetahuinya. Jika ia berada di dalam diri kita, ke mana kita bisa lari untuk menghindarinya?

Mereka pikir mereka telah menghindari penderitaan tetapi sesungguhnya tidak, penderitaan pergi bersama mereka. Mereka membawa serta penderitaan tanpa disadari. Jika kita tidak mengerti penderitaan maka kita tidak bisa mengerti sebab penderitaan. Jika kita tidak mengerti sebab penderitaan maka kita tidak bisa mengerti akhir penderitaan, tidak ada jalan bagi kita untuk menghindarinya.

Kalian harus perhatikan hal ini dengan tekun sampai kalian tidak meragukannya lagi. Kalian harus berani untuk melaksanakan praktek. Jangan melalaikannya, baik ketika di dalam kelompok ataupun sedang sendiri. Jika orang lain malas, itu bukan urusan kalian. Siapa pun yang banyak melakukan meditasi jalan, banyak praktek... saya jamin hasilnya. Jadi kalian benar-benar berlatih dengan konsisten, apakah orang lain datang atau pergi atau yang lainnya, satu masa vassa saja sudah cukup. Kerjakan seperti yang sudah saya ajarkan di sini. Dengarkan nasihat guru, jangan berdalih, jangan keras kepala. Apapun yang beliau katakan untuk dikerjakan, segeralah pergi dan kerjakan. Kalian tidak perlu takut pada praktek, pengetahuan pasti akan muncul darinya.

Praktek adalah juga patipada. Apakah patipada? Prakteklah dengan tekun dan terus-menerus. Jangan berlatih seperti Pendeta Tua Peh. Pada satu masa vassa ia memutuskan untuk tidak berbicara tetapi ia mulai menulis catatan,... "Besok tolong gorengkan nasi untukku". Ia ingin makan nasi goreng! Ia berhenti berbicara tetapi mulai menulis begitu banyak pesan sehingga ia bahkan lebih bingung daripada sebelumnya. Dalam satu menit ia akan menulis satu hal, selanjutnya yang lain, betapa lucunya!

Saya tidak tahu mengapa ia bersusah-payah memutuskan untuk tidak berbicara. Ia tidak mengetahui bagaimana praktek itu sebenarnya.

Sesungguhnya praktek kita adalah merasa puas dengan yang sedikit, hanya bersikap wajar. Jangan risaukan apakah kalian merasa malas atau rajin. Bahkan jangan katakan "aku rajin" atau "aku malas". Orang pada umumnya hanya berlatih ketika mereka merasa rajin, jika mereka merasa malas mereka tidak peduli. Beginilah orang pada umumnya. Tetapi para bhikkhu seharusnya tidak berpikir seperti itu. Bila kalian rajin, kalian berlatih; ketika kalian malas, kalian tetap berlatih. Jangan risaukan hal lain, potong mereka, singkirkan mereka, latihlah dirimu sendiri. Berlatihlah dengan terus-menerus, apakah siang atau malam, tahun ini, tahun depan, apapun waktunya... jangan perhatikan pikiran rajin atau malas, jangan cemas apakah hari panas atau dingin, berlatihlah. Ini disebut sammapatipada —Praktek Benar.

Sebagian orang benar-benar mencurahkan diri mereka pada latihan selama enam atau tujuh hari, selanjutnya, ketika mereka tidak memperoleh hasil yang diinginkan, mereka menyerah dan kembali pada cara semula, gemar mengobrol, bergaul, dan yang lainnya. Lalu mereka teringat praktek itu serta berlatih lagi selama enam atau tujuh hari, menyerah lagi... Ini seperti cara kerja kebanyakan orang. Pertama mereka melibatkan dirinya... lalu, ketika berhenti, mereka bahkan tidak ingat untuk membawa peralatan mereka, mereka hanya pergi dan meninggalkannya di sana. Kelak, ketika tanah semua kering, mereka teringat pekerjaannya dan mengerjakan sedikit lagi, hanya untuk ditinggalkan lagi.

Mengerjakan sesuatu dengan cara ini kalian tak akan pernah memperoleh taman atau padi yang baik. Begitu juga praktek kita. Jika kalian pikir patipada ini tidak penting, kalian tak akan sampai kemana pun dengan praktek ini. Sammapatipada tak dapat disangkal sangatlah penting. Lakukanlah secara terus-menerus. Jangan dengarkan suasana-hati kalian. Lalu kenapa jika suasana-hati kalian baik atau buruk? Sang Buddha tidak peduli dengan hal itu. Beliau telah mengalami semua hal yang baik dan buruk, hal-hal yang benar dan salah. Itulah praktek Beliau. Hanya mengambil apa yang kalian sukai dan membuang apa yang tidak kalian sukai, itu bukan merupakan praktek, tapi itu merupakan malapetaka. Kemana pun kalian pergi kalian tak akan pernah puas, di manapun kalian tinggal di sana ada penderitaan.

Berlatih seperti ini adalah bagaikan kaum Brahmana yang melaksanakan kurban mereka. Mengapa mereka lakukan itu? Karena mereka menginginkan sesuatu sebagai gantinya. Beberapa di antara kita berlatih seperti itu. Mengapa kita berlatih? Karena kita mencari kelahiran-kembali, bentuk keberadaan yang lain, kita ingin mencapai sesuatu. Jika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan maka kita tidak mau berlatih, tepat seperti kaum Brahmana melaksanakan upacara kurban mereka. Mereka melakukan hal itu karena nafsu-keinginan.

Pada suatu ketika ada seorang Thera yang mengikuti tradisi Mahanikai. Tetapi ia menilai itu kurang keras jadi ia mengambil penahbisan Dhammayuttika (Mahanikai dan Dhammayuttika merupakan dua tradisi sangha Theravada di Thailand). Lalu ia mulai berlatih. Kadangkala ia berpuasa selama lima belas hari, selanjutnya ketika makan ia hanya memakan daun dan rumput. Ia pikir memakan daging merupakan karma buruk, dan akan lebih baiklah bila memakan daun dan rumput.

Setelah beberapa saat... "Hmm. Menjadi seorang bhikkhu tidaklah begitu baik, ia tidak menyenangkan. Sangat sulit untuk menjaga latihan vegetarian saya sebagai seorang bhikkhu. Mungkin saya akan lepas jubah dan menjadi seorang pa-kow. Jadi ia lepas jubah dan menjadi pa-kow sehingga ia bisa mengumpulkan daun dan rumput untuk dirinya sendiri serta menggali akar dan ubi jalar. Ia terus begitu untuk beberapa saat sampai akhirnya ia tidak mengetahui apa yang harus ia kerjakan. Ia menyerah. Ia berhenti sebagai bhikkhu, berhenti sebagai pa-kow, ia melepaskan semuanya. Saat ini saya tidak tahu apa yang dikerjakannya. Mungkin ia sudah meninggal, saya tidak tahu. Ini semua karena ia tidak bisa menemukan sesuatu yang cocok untuk batinnya. Ia tidak menyadari bahwa ia hanya mengikuti kekotoran-batin. Kekotoran-batin mengendalikannya tetapi ia tidak mengetahuinya.

"Apakah Sang Buddha lepas jubah dan menjadi seorang pa-kow? Bagaimana Sang buddha berlatih? Apa yang Beliau kerjakan?" Ia tidak mempertimbangkan hal ini. Apakah Sang Buddha pergi dan makan daun serta rumput seperti sapi? Jadi, jika kalian ingin makan seperti itu silahkan —jika itu semua adalah yang bisa kalian lakukan, —tetapi janganlah mencela orang lain. Apapun patokan praktek yang kalian rasa cocok bertahanlah dengan itu. "Jangan mencungkil atau memahat terlalu banyak atau kalian tak akan mempunyai pegangan yang baik" (Ungkapan Thai yang berarti "Jangan berlebih-lebihan dalam mengerjakan sesuatu"). Kalian akan tertinggal tanpa hasil apapun dan akhirnya hanya menyerah.

Sebagian orang memang seperti itu. Jika saatnya meditasi jalan, mereka benar-benar melakukannya selama lima belas hari atau lebih. Mereka bahkan tidak mempedulikan makan, hanya berjalan. Selanjutnya ketika mereka selesai, mereka hanya berbaring dan tidur. Mereka tidak cermat mempertimbangkannya sebelum mereka mulai berlatih. Pada akhirnya tak ada satupun yang cocok dengan mereka. Menjadi bhikkhu tidak sesuai baginya, menjadi pa-kow tidak sesuai baginya... jadi mereka mengakhirinya tanpa hasil.

Orang seperti itu tidak mengerti praktek, mereka tidak menyelidiki alasan untuk berlatih. Pikirkanlah mengapa kalian berlatih. Mereka mengajarkan praktek ini untuk melepas. Batin ingin mencintai orang ini dan membenci orang itu... hal-hal ini bisa muncul tetapi jangan mengira mereka sebagai kenyataan. Jadi untuk apa kita berlatih? Hanya agar kita dapat melepaskan hal-hal itu. Bahkan ketika kalian mencapai kedamaian, lepaskanlah kedamaian itu. Jika pengetahuan muncul, lepaskan pengetahuan itu. Jika kalian tahu maka biarlah kalian tahu, tetapi jika kalian menyimpan pengetahuan sebagai milik kalian maka kalian akan berpikir bahwa kalian mengetahui sesuatu. Seterusnya kalian akan berpikir bahwa kalian lebih baik dari yang lain. Setelah beberapa saat, kalian tak bisa hidup di mana pun, di mana pun kalian hidup persoalan akan timbul. Jika kalian berlatih secara salah, itu bagaikan kalian sama sekali tidak berlatih.

Berlatihlah sesuai dengan kemampuan kalian. Apakah kalian banyak tidur? Cobalah untuk berbuat sebaliknya. Apakah kalian banyak makan? Cobalah untuk makan sedikit, lakukan praktek sebanyak yang kalian perlukan, gunakanlah sila, samadhi danpañña sebagai dasar kalian. Lalu tambahkan juga praktek dhutanga (Dhutanga —tiga belas praktek yang diizinkan oleh Sang buddha, di luar dan melebihi tata-tertib atau disiplin umum (vinaya), untuk mereka yang ingin berlatih lebih ecara tapa brata.)Praktek dhutanga ini untuk menggali kekotoran-kekotoran batin. Kalian mungkin merasakan praktek-praktek dasar tetap belum mampu mencabut kekotoran-kekotoran batin, maka kalian harus menggabungkannya dengan praktek dhutanga.

Praktek dhutanga ini sungguh berguna. Sebagian orang tidak bisa membasmi kekotoran-batin mereka dengan dasar sila dansamadhi, mereka harus menyertakan praktek dhutanga untuk membantunya. Praktek dhutanga memotong banyak hal. Hidup di bawah pohon... dan lain-lain. Hidup di bawah pohon tidaklah bertentangan dengan aturan tata-tertib (vinaya). Atau hidup di tanah perkuburan, itu juga tidak bertentangan dengan peraturan tata-tertib. Tetapi jika kalian memutuskan tidak melaksanakannya, itu merupakan kesalahan. Cobalah melakukannya. Bagaimana kiranya hidup di tanah perkuburan? Apakah sama dengan hidup dalam satu kelompok?

DHU-TAN-GA: diterjemahkan sebagai "praktek-praktek yang sulit untuk dilakukan". Ini merupakan praktek para Siswa Mulia. Siapapun yang ingin menjadi seorang Siswa Mulia harus menggunakan praktek dhutanga untuk memotong kekotoran-kekotoran batin. Adalah sulit untuk menjalani praktek-praktek dhutanga tersebut dan sulit menemukan orang yang menjalankan praktek tersebut, karena praktek-praktek tersebut menentang arus.

Seperti halnya dengan jubah: mereka mengatakan agar membatasi jubahnya hanya pada tiga jubah dasar; merawat diri sendiri dengan makanan sedekah; hanya makan dari mangkuk; hanya makan apa yang diperoleh dari perjalanan pindapata, dan tidak akan menerima makanan yang diberikan oleh umat setelah itu.

Di Thailand Tengah mudah menjalankan praktek terakhir ini, makanannya cukup memadai, karena mereka memberikan banyak makanan dalam mangkuk kalian. Tetapi ketika kalian berada di Timur-laut Thailand ini "dhutanga" di sini mempunyai perbedaan yang hampir tidak kentara —di sini kalian menerima nasi putih! Kebiasaan di sini hanya memberikan nasi dan makanan/lauk lain pula, tetapi di sekitar sini kalian hanya menerima nasi putih. Praktek dhutanga ini sungguh menjadi tapabrata. Kalian hanya memakan nasi putih, apapun yang dibawa untuk diberikan setelah itu tidak kalian terima. Selanjutnya makan hanya satu kali dalam sehari, pada satu kali duduk, hanya dari satu mangkuk —ketika kalian sudah selesai makan, kalian berdiri dari tempat duduk dan tidak makan lagi pada hari itu.

Inilah yang disebut praktek-praktek dhutanga. Sekarang siapa yang mau berlatih? Saat ini sulit untuk menemukan orang yang cukup bertanggung-jawab untuk mempraktekkan dhutanga karena praktek-praktek tersebut banyak persyaratannya, tetapi itulah sebabnya mereka begitu bermanfaat.

Apa yang orang sebut praktek pada saat ini bukanlah praktek sesungguhnya. Jika kalian benar-benar berlatih itu bukanlah hal sederhana. Orang pada umumnya tidak berani benar-benar berlatih, tidak berani untuk benar-benar melawan arus. Mereka tidak ingin melakukan apapun yang bertentangan dengan perasaan mereka. Mereka tidak ingin melawan kekotoran-kekotoran batin, mereka tidak ingin memukulnya atau bebas dari mereka.

Di dalam praktek kita, mereka mengatakan agar jangan mengikuti selera/suasana-hati kalian sendiri. Pertimbangkan: kita telah dibodohi sejak kehidupan-kehidupan yang tak terhitung banyaknya untuk mempercayai bahwa batin adalah kita sendiri. Sesungguhnya bukan begitu, tetapi ia hanyalah penipu. Ia menyeret kita pada keserakahan, menyeret kita pada pencurian, perampasan, nafsu keinginan, dan kebencian. Hal-hal itu bukanlah milik kita. Tanyailah diri kalian sekarang juga: apakah kalian ingin jadi baik? Semua ingin jadi baik. Sekarang, bila melakukan semua hal itu, apakah baik? Nah! Orang-orang melakukan perbuatan jahat tetapi mereka ingin menjadi baik. Itulah sebabnya saya katakan semua itu tipuan, itulah mereka.

Sang Buddha tidak ingin kita mengikuti batin ini, Beliau ingin kita untuk melatihnya. Jika ia pergi ke satu arah maka bersembunyilah ke arah lain. Jika ia ke sana maka bersembunyilah lagi di sini. Secara sederhana: apapun yang diinginkan batin, jangan biarkan ia memilikinya. Itu seolah-olah seperti kita telah berteman lama tetapi akhirnya kita sampai pada satu titik di mana gagasan kita tidak lagi selaras. Kita berpisah dan menempuh jalan masing-masing. Kita tidak lagi saling memahami, kenyataannya kita bahkan berdebat, jadi kita berpisah. Itu benar, jangan ikuti batin kalian sendiri. Siapapun yang mengikuti batinnya, mengikuti apa yang disukai, diingini, dan yang lainnya, orang itu sesungguhnya belum berlatih sama sekali.

Inilah sebabnya mengapa saya katakan bahwa apa yang orang sebut praktek sesungguhnya bukan praktek... itu malapetaka. Jika kalian tidak berhenti dan melihat, jangan mencoba berlatih, kalian tak akan melihat, karena tak akan mencapai Dhamma. Secara jujur, dalam praktek ini, kalian harus melibatkan kehidupan kalian. Bukan berarti ini tidak sulit, bahkan praktek ini meminta banyak penderitaan. Terutama pada tahun pertama atau kedua, ada banyak penderitaan. Para bhikkhu dan samanera muda akan melewati masa-masa yang sulit.

Saya menemui banyak kesulitan di masa yang lampau, terutama dengan makanan. Apa yang bisa kalian harapkan? Menjadi bhikkhu pada usia dua puluh tahun ketika kalian sedang gemar makan dan tidur... beberapa hari saya akan duduk sendirian dan hanya memimpikan makanan. Saya ingin memakan setup pisang, atau rujak pepaya, dan air liur saya mulai mengalir. Ini merupakan bagian dari latihan. Semua hal ini tidaklah mudah. Persoalan makanan dan makan bisa membawa seseorang melakukan banyak karma buruk. Ambil contoh seseorang yang baru tumbuh dewasa, yang baru saja gemar makan dan tidur, lalu memaksanya hidup dalam jubah ini, sehingga perasaannya bergolak. Ini bagaikan membendung aliran air yang deras, kadang-kadang bendungan itu rusak. Jika selamat itu baik, tetapi jika tidak ia gagal.

Meditasi saya pada tahun pertama tidak ada yang lain, hanya makanan. Saya begitu gelisah... Kadang-kadang saya duduk di sana dan sepertinya saya benar-benar memasukkan pisang ke dalam mulut saya. Saya seperti merasakan diri saya memotong-motong kecil pisang itu dan memasukkannya ke dalam mulut saya. Dan inilah semua bagian dari praktek itu.

Jadi janganlah takut pada hal itu. Sekarang kita semua sudah terpedaya/tertipu selama tak terhitung banyaknya kehidupan, jadi untuk melatih diri sendiri, memperbaiki diri sendiri, bukanlah hal yang mudah. Tetapi jika ia sulit maka ia berharga untuk dikerjakan. Mengapa kita merisaukan hal-hal yang mudah? Kerjakanlah hal-hal yang sulit, siapapun bisa mengerjakan hal-hal yang mudah. Kita harus melatih diri sendiri untuk mengerjakan sesuatu yang sulit.

Itu pasti sama bagi Sang Buddha. Jika Beliau hanya mencemaskan keluarga dan kerabatnya, kekayaan dan kesenangan-kesenangan inderawinya, Beliau tak akan pernah menjadi Buddha. Hal-hal ini juga bukan hal remeh, mereka adalah yang dicari-cari oleh orang pada umumnya. Jadi, menjadi pertapa pada usia muda dan melepaskan semua hal itu adalah bagaikan mati. Dan sekarang beberapa orang datang dan berkata, "Oh, itu mudah bagimu, Luang Por. Anda tak pernah memiliki istri dan anak untuk dicemaskan, jadi itu lebih mudah bagi Anda!" Saya katakan, "Jangan terlalu dekat dengan saya ketika Anda berkata begitu, atau Anda akan terpengaruh!" ...seolah-olah saya ini tidak mempunyai hati-nurani atau semacamnya!

Bagi orang kebanyakan, tidak ada persoalan yang sepele/remeh. (semuanya dianggap hal yang penting —red). Itulah semua tentang kehidupan. Jadi kita, pelaksana Dhamma, haruslah sepenuhnya masuk ke dalam praktek, benar-benar berani melakukannya. Jangan mempercayai pihak lain, hanya dengarkan ajaran Sang Buddha. Tegakkan kedamaian di hati kalian. Pada saatnya kalian akan mengerti. Berlatih, pertimbangkan, renungkan, dan buah dari praktek itu akan muncul. Sebab dan akibatnya akan sebanding.

Jangan menyerah pada suasana-hati kalian. Pada awalnya, bahkan untuk menemukan jumlah tidur yang tepat saja sangat sulit. Kalian mungkin memutuskan untuk tidur dalam waktu tertentu tetapi tak mampu mengerjakannya. Kalian harus melatih diri sendiri. Pukul berapa pun kalian putuskan untuk bangun, bangunlah secepatnya begitu kalian terjaga. Kadangkala kalian bisa melakukannya, tetapi kadangkala begitu kalian terjaga kalian katakan pada diri sendiri "bangun!" dan ia tak mau berpindah tempat! Kalian mungkin harus katakan pada diri sendiri, "Satu... Dua... jika saya sampai pada hitungan ketiga dan tetap tidak bangun biarlah saya masuk neraka!" Kalian harus mendidik diri sendiri seperti itu. Ketika kalian sampai pada hitungan tiga kalian akan segera bangun, kalian takut akan jatuh ke dalam neraka.

Kalian harus melatih diri sendiri, kalian tidak dapat melepaskan latihan. Kalian harus melatih diri sendiri dari semua sudut. Jangan hanya bersandar pada guru kalian, teman-teman kalian, atau kelompok kalian sepanjang waktu, atau kalian tak akan pernah menjadi bijaksana. Tidaklah penting mendengarkan begitu banyak petunjuk, dengarkanlah petunjuk hanya satu atau dua kali dan kemudian lakukanlah.

Batin yang terlatih tidak berani menimbulkan kesulitan, walaupun di dalam keadaan yang pribadi. Dalam batin seseorang yang terlatih, tidak ada hal seperti "pribadi" atau "di depan umum". Semua para Suci memiliki kepercayaan dalam hati mereka sendiri. Kita seharusnya seperti itu.

Sebagian orang menjadi bhikkhu hanya untuk mendapatkan kehidupan yang mudah. Dari manakah datangnya kemudahan itu? Apakah sebabnya? Semua kemudahan harus didahului oleh penderitaan. Dalam semua hal keadaan itu sama: kalian harus bekerja sebelum kalian mendapatkan uang, bukankah demikian? Kalian harus membajak sawah sebelum kalian mendapatkan padi.

Dalam semua hal, pertama-tama kalian harus mengalami kesulitan. Sebagian orang menjadi bhikkhu untuk beristirahat dan santai, mereka berkata mereka ingin duduk dan beristirahat sejenak. Jika kalian tidak mempelajari buku-buku apakah kalian berharap bisa membaca dan menulis? Itu tidak mungkin.

Inilah sebabnya mengapa pada umumnya orang yang sudah banyak belajar dan menjadi bhikkhu tak pernah sampai kemana pun. Pengetahuan mereka berbeda macamnya, pada jalan yang berbeda. Mereka tidak melatih diri sendiri, mereka tidak melihat ke dalam batinnya. Mereka hanya mengaduk batinnya dengan kebingungan, mencari hal-hal yang tidak menghasilkan ketenangan dan pengendalian diri. Pengetahuan Sang Buddha bukanlah pengetahuan duniawi, ia merupakan pengetahuan di atas duniawi, satu jalan yang sama-sekali berbeda.

Inilah sebabnya mengapa siapapun yang memasuki kehidupan kebhikkhuan Buddhis harus melepaskan derajat, status, atau posisi apapun yang telah mereka peroleh sebelumnya. Bahkan ketika seorang raja menjadi pertapa ia harus melepaskan status beliau yang sebelumnya, beliau tidak membawa kekayaannya, status, pengetahuan atau kekuasaan dalam kehidupan kebhikkhuan bersamanya. Praktek itu menyangkut membuang, melepaskan, mencabut, menghentikan. Kalian harus memahami ini agar praktek bisa berjalan.

Jika kalian sakit dan tidak mengobati penyakit itu dengan obat apakah kalian pikir penyakit itu akan sembuh sendiri? Tempat apapun yang kalian takuti, pergilah ke sana. Di mana pun ada makam atau tanah perkuburan yang sangat menyeramkan, pergilah ke sana. Kenakan jubah kalian, pergilah ke sana dan renungkanlah, Aniccavata sankhara (Bagian dari satu syair berbahasa Pali, biasanya dibacakan pada saat upacara pemakaman. Arti keseluruhan syair itu adalah, "Aduh, semua hal yang terjadi dari perpaduan bersifat sementara / Setelah timbul, mereka lenyap /Setelah lahir, mereka mati/Berhentinya semua perpaduan sungguh merupakan kebahagiaan sejati")... Lakukanlah meditasi berdiri dan berjalan di sana, lihatlah ke dalam dan kenali di mana letak ketakutan kalian. Semuanya akan sangat nyata. Pahami kebenaran semua hal yang berkondisi. Tinggallah di sana dan amatilah sampai malam menjelang serta keadaan menjadi makin malam dan makin gelap, sampai kalian akhirnya bisa tinggal di sana sepanjang malam.

Sang Buddha bersabda, "Siapapun yang melihat Dhamma ia melihat Sang Tathagata. Siapapun yang melihat Sang Tathagata ia melihat Nibbana". Jika kita tidak mengikuti contoh Beliau bagaimana kita akan melihat Dhamma? Jika kita tidak melihat Dhamma bagaimana kita akan mengenal Sang Buddha? Jika kita tak melihat Sang Buddha bagaimana kita akan mengenal sifat-sifat Sang Buddha? Hanya jika kita berlatih dalam langkah-langkah Sang Buddha kita akan mengetahui bahwa apa yang diajarkan Sang Buddha adalah mutlak pasti, bahwa ajaran Sang Buddha merupakan kebenaran tertinggi.



(www.kalyanadhammo.net)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar