Sabtu, 02 Juni 2012

5. Menjalankan Praktik Selaras Dengan Alam



Sampai disini, ini hanyalah kekuatan dan kemurnian yang pikiran peroleh dari samadhi. Tingkatan samadhi ini adalah samadhi yang mencapai puncaknya. Pikiran telah mencapai puncak samadhi, bukan lagi sekedar konsentrasi sesaat. Bila anda menggunakannya untuk meditasi vipassana pada titik ini,
kontemplasi menjadi tak terputus dan penuh insight. Atau anda bisa saja memakai energi yang terpusat tersebut untuk hal lainnya. Dari sini anda dapat mengembangkan kesaktian,melakukan hal gaib atau apapun yang ingin anda lakukan.
Para asketik dan pertapa telah menggunakan energi Samadhi untuk membuat air suci, jimat atau guna-guna. Semuanya mungkin pada tahapan ini, dan bisa menguntungkan untuk beberapa hal; tetapi itu seperti keuntungan dari alkohol. Anda meminumnya dan anda mabuk.
Mengertikah anda maksud kisah ini?
Segala sesuatu yang dialami dengan pikiran damai akan langsung memberi- kan pemahaman yang luar biasa. Takkan lagi kita membuat pelbagai interpretasi pada apa yang dialami. Harta-benda,kemasyhuran,cacian, pujian, kebahagiaan dan kesedihan datang berjalan sendiri; dan kita tetap tenteram-damai; kita bijaksana. Bahkan ini jadi sangat menyenangkan. Menyaring
dan memisah-misahkan hal-hal ini adalah pekerjaan yang mengasyikkan. Apa yang orang sebut dengan baik, buruk,jahat, begini, begitu, kebahagiaan, kesedihan, atau apapun —semuanya diambil buat keuntungan kita. Orang lain memanjat pohon mangga dan menggoyang dahannya agar buahnya jatuh ke anda. Kita hanya menikmati mengumpulkan buah tanpa perlu merasa cemas. Yah, apa lagi yang harus ditakutkan?
Adalah orang lain yang memetik untuk kita. Kekayaan,kemasyhuran, pujian, hinaan, kebahagiaan, kesedihan dan lainnya tidak lebih daripada buah-buah mangga jatuh.
Kita memeriksanya dengan hati tenang. Kemudian kita akan mengetahui mana yang baik dan mana yang busuk.
Ketika kita mulai menggunakan kedamaian dan ketenangan dari samadhi untuk mengkontemplasikan segala sesuatu, muncullah kebijaksanaan. Yang demikianlah yang saya sebut: wisdom.
Inilah vipassana. Ini bukanlah sesuatu yang dibuat-buat ataupun penafsiran. Vipassana akan berkembang secara alami bila kita bijak. Kita tidak perlu memberi nama apa apa yang terjadi. Jika saat itu ada sedikit pemahaman (insight) yang jernih, kita menyebutnya ‘vipassana kecil’. Kalau insight ini bertambah sedikit, kita menyebutnya ‘vipassana cukupan’.
Bila pikiran (knowing) sepenuhnya mengetahui sesuai dengan kebenaran, kita menyebutnya ‘vipassana besar’. Sebenarnya saya lebih suka menggunakan kata ‘kebijaksanaan’ (panna) daripada ‘vipassana’. Jika kita berpikir kita mau duduk dari waktu ke waktu dan mempraktikkan meditasi-vipassana, kita bakal mengalami kesulitan. Insight harus datang dari kedamaian dan ketenang-seimbangan. Keseluruhan proses ini akan terjadi secara alami sesuai hukumnya sendiri. Kita tak dapat memaksakannya.
Sang Buddha mengatakan proses ini matang dengan sendirinya. Ketika praktik mencapai tahap ini, kita membolehkannya berkembang sesuai dengan kemampuan, kecakapan spiritual dan kebajikan (merit) yang kita kumpulkan di masa lampau. Tetapi kita tidak berhenti berusaha dalam berlatih.
Apakah perkembangannya mulus atau lambat adalah di luar kendali kita. Seperti menanam pohon, pohon tersebut tahu seberapa cepat ia harus tumbuh. Kalau kita menginginkannya tumbuh lebih cepat, itu adalah kebodohan. Kalau kita mau ia tumbuh lebih lambat, kenalilah ini adalah kebodohan juga. Jika kita telah melakukan pekerjaan, hasilnya pasti akan datang belakangan — ibarat menanam pohon. — Contoh,katakanlah kita menanam pohon cabai. Tanggung-jawab kita adalah menggali lubang, menanam biji cabai, menyiramnya,memberi pupuk dan menjaganya dari serangan serangga.
Inilah tugas kita, kesepakatan kita. Disinilah faktor keyakinan berperan. Apakah pohon cabai tumbuh atau tidak terserah padanya. Bukan urusan kita. Kita tidak dapat menarik-narik tanaman itu, meregangkan dan membuatnya tumbuh lebih cepat. Itulah bukanlah cara kerja alam. Pekerjaan kita adalah menyirami dan memupuknya. Mempraktikkan Dhamma dengan cara demikian akan membuat hati kita ringan. Kalau kita bisa mencapai pencerahan pada kehidupan ini,
itu baik. Apabila memang harus menunggu hingga kehidupan yang akan datang, juga tak masalah. Kita mempunyai keyakinan dan kepastian yang tak terpatahkan dalam Dhamma.
Apakah kita berkembang cepat atau lambat tergantung pada kemampuan bawaan kita, kecakapan spiritual dan kebajikan yang telah terkumpul. Mempraktikkan Dhamma seperti ini akan memudahkan kita. Seperti mengendarai kereta kuda. Kita tidak meletakkan kereta di depan kudanya. Atau malah berjalan di depan kerbau ketika sedang membajak.
Yang saya bicarakan di sini adalah pikiran tak sabar yang nyondol-nyondol sendiri. Ingin hasil cepat-cepat bukanlah caranya. Jangan berjalan di depan kerbau. Anda harus berjalan di belakang-nya.
Seperti tanaman cabai yang sedang kita rawat. Berikan air dan pupuk, dan ia akan menyerap nutrisinya sendiri. Ketika semut atau rayap datang mengganggu, kita menggebahnya pergi. Mengerjakan ini sudah cukup bagi pohon cabai tersebut tumbuh subur dengan caranya sendiri; dan saat ia tumbuh dengan bagus, janganlah memaksanya berbunga ketika kita pikir seharusnya sudah berbunga. Itu sama sekali bukan urusan kita. Itu hanya menimbulkan penderitaan yang tidak perlu. Biarkan ia mekar dengan sendirinya. Dan saat mulai berbunga, jangan menuntutnya segera menghasilkan
cabai. Jangan memaksanya. Itu sungguh akan menimbulkan penderitaan. Begitu kita paham urusan ini, kita bakal tahu mana yang jadi tanggungjawab kita dan mana yang bukan.
Masing-masing mengerjakan tugasnya sendiri. Pikiran pun tahu apa yang mesti dilakukannya. Namun apabila pikiran tidak mengerti akan perannya, ia akan memaksa tanaman itu menghasilkan lombok sejak di hari ia ditanam . Pikiran akan menuntutnya untuk tumbuh, berbunga dan menghasilkan lombok seluruhnya dalam satu hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar