Tampilkan postingan dengan label Damai Tak Tergoyahkan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Damai Tak Tergoyahkan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Juni 2012

Damai Tak Tergoyahkan



Seluruh alasan untuk mempelajari Dhamma, ajaran Sang Buddha, adalah guna menyelidiki: cara mengatasi penderitaan serta mencapai kedamaian dan kebahagiaan.  Apakah kita mau mempelajari fenomena fisik atau mental, pikiran (citta) atau faktor-faktor psikologikal-nya (cetaskas), hanya manakala kita menjadikan pembebasan-dari-penderitaan sebagai tujuan-utama kitalah maka itu berarti kita ada di jalur yang benar — tak lebih, tak kurang. Penderitaan mempunyai sebab dan kondisi bagi keberadaannya.
Harap dipahami dengan jelas bahwa sesungguhnya saat pikiran ini diam, ia ada dalam keadaan alami-nya —keadaan normalnya. Namun begitu pikiran ini bergerak, ia menjadi terkondisi (sankhâra). Ketika pikiran terpikat pada suatu hal, ia menjadi terkondisi (conditioned). Saat kebencian timbul, ia menjadi terkondisi.
Dorongan untuk goyang kesana kemari ini timbul dari pengkondisian. Jika ke-awas-an (awareness) kita kalah cepat dengan munculnya keadaan mental yang segera berentet berkembang-biak itu, maka pikiran ini akan goyah — larut membuntuti serta terkondisi olehnya.
Kapanpun pikiran bergerak, pada saat itu, ia menjadi sebuah realitas-konvensional.
Maka Sang Buddha mengajarkan kita untuk merenungkan kondisi yang mengacaukan pikiran itu. Kapanpun pikiran bergerak, ia menjadi tidak stabil dan tak permanen (anicca),tak memuaskan (dukkha) dan bukan sebuah diri (anattâ).
Ini merupakan tiga corak universal dari semua fenomena yang terkondisi. Sang Buddha mengajarkan kita mengamati serta mengkontemplasikan pergerakan pikiran ini.
Demikian pula halnya dengan ajaran mengenai sebab-musabab saling bergantungan (paticca-samuppâda):kekelirutahuan (avijja) merupakan sebab dan kondisi timbulnya bentuk-bentuk karma kehendak (sankhâra); yang mana kemudian menjadi sebab dan kondisi bagi munculnya kesadaran (viññana); lalu merupakan sebab dan kondisi bagi munculnya bathin dan jasmani (nâma-rûpa) dan seterusnya, sebagaimana yang kita pelajari dalam kitab suci.
Sang Buddha memilah setiap mata-rantai agar membuatnya lebih mudah dipelajari. Sebenarnya ini merupakan penjelasan yang akurat dan teliti tentang realita, tetapi ketika hal ini sungguh terjadi di kehidupan nyata, [pikiran] para cendekiawan kalah sigap, tak mampu mengikuti proses ini. Bagai jatuh terjerembab dari atas pohon hingga menghantam tanah. Kita tak lagi tahu berapa banyaknya ranting yang telah kita lewati sepanjang proses jatuh itu. Sama seperti tatkala pikiran ditubruk oleh suatu kesan mental — apabila tergiur olehnya, maka pikiran ini segera melayang-layang ke dalam suasana bathin yang menyenangkan; ia menganggapnya sebagai suatu hal yang baik tanpa menyadari rantai kondisi yang menyebabkannya.
[Urutan] proses ini memang berjalan sesuai dengan uraian dalam teori, namun pada saat yang sama ia juga melampaui batas-batas teori tersebut.
Tidak ada yang mengumumkan, “Ini lho kebodohan. Ini lho bentuk-bentuk karma, dan inilah kesadaran”.
Proses tersebut manakala sungguh sedang terjadi [berlangsung begitu cepat] tak lagi memberi kesempatan bagi para cendekiawan untuk membaca tabel itu. Walaupun Sang Buddha telah menganalisa dan menjelaskan urutan momen-momen pikiran dengan amat rinci, namun bagi saya kejadiannya lebih mirip seperti jatuh dari pohon. Tiada lagi ada kesempatan bagi kita untuk memperkirakan berapa meter kita telah terjatuh. Apa yang kita ketahui cuma: kita menubruk tanah dengan keras dan itu menyakitkan!
Begitu juga dengan pikiran ini. Saat ia terjatuh untuk suatu hal, apa yang kita sadari hanyalah rasa-sakitnya. Dari manakah datangnya semua penderitaan ini, rasa sakit, kesedihan dan keputus-asaan? Mereka tidak datang dari teori yang ada dalam buku. Tiada dimanapun jua tempat rincian penderitaan ini dituliskan. Penderitaan kita takkan sama persis dengan teori, tetapi keduanya melintasi jalan yang sama.
Jadi sekedar kecendekiawanan itu saja tidaklah bakal mampu mengikuti kenyataan. Itulah sebabnya Sang Buddha mengajarkan kita untuk mengembangkan pemahaman yang jelas (clear knowing) bagi diri kita sendiri. Apapun yang muncul, muncul dengan diketahui. — Manakala “yang-mengetahui” mengetahuinya sejalan dengan kebenaran (truth), maka pikiran ini beserta faktor-faktor mentalnya pun bakal dikenali sebagai: bukan-milik-ku. Dan pamungkasnya, semua fenomena itu adalah cuma untuk ditinggalkan — dibuang layaknya sampah. Kita musti jangan melekat atau memberi arti apapun padanya.

2. Teori Dan Kenyataan



Sang Buddha tidak mengajarkan mengenai pikiran dan faktor-faktor mentalnya untuk kita lekati sebagai konsep. Satu satunya tujuan beliau hanyalah agar kita memahami bahwa semua ini tidak-kekal, tak memuaskan dan tiada-diri. Kemudian: biarkanlah berlalu. Letakkan. Sadar dan ketahuilah saat kemunculannya. — Pikiran ini memang sudah sangat begitu terkondisinya. Ia terlalu lama malah dilatih dan terkondisi untuk selalu lari, meleset dari keadaan kesadaran-murni (pure awareness).
Dan ketika ia menggelincir, ia menciptakan fenomena terkondisi yang selanjutnya mempengaruhi suasana pikiran, demikianlah seterusnya ia beranak-pinak. Proses inilah yang melahirkan baik, buruk serta segala hal di muka bumi ini.
Sang Buddha mengajarkan kita untuk meninggalkan semua itu. Di awal, tentu saja anda harus membiasakan diri mempelajari pelbagai teori supaya nantinya anda mampu meninggalkan semuanya.
Ini sekedar proses alamiah saja. Ya demikianlah pikiran ini. Demikian pula faktor-faktor mental. Ambil sebagai contoh:
Jalan Mulia Berunsur Delapan.
Manakala kebijaksanaan (wisdom) memandang segala sesuatu secara benar dengan wawasan-kebijaksanaan (insight), maka pandangan-benar ini akan membawa kepada pemikiran benar,ucapan-benar, tindakan-benar dan seterusnya. Semua ini meliputi pelbagai kondisi psikologis yang timbul dari hasil pengetahuan-kesadaran-murni (pure knowing awareness).
Pengetahuan ini bagaikan sebuah lentera yang menerangi jalan setapak di hadapan kita di kegelapan malam. Bila pengetahuan ini (the knowing) sudah benar, yakni sesuai dengan kenyataan (truth), ia bakal menyebar serta menerangi setiap langkah pada jalan berikutnya.
Apapun yang kita alami, semuanya muncul dari dalam pengetahuan ini. Apabila pikiran ini tidak eksis, pengetahuan tersebut juga tidak akan ada. Semua ini adalah fenomena pikiran. Seperti yang dikatakan Sang Buddha, pikiran adalah cuma sekedar pikiran. Ia bukanlah makhluk, orang, diri ataupun diri-anda. Juga bukan diri kita maupun mereka. Dhamma itu adalah sekedar Dhamma, begitu saja titik.
 Ia alami, berlangsung dengan sendirinya tanpa ada “diri” yang terlibat. Ia bukanlah kepunyaan kita atau siapapun. Ia bukan pula sesuatu. Apapun yang dialami seseorang tak lain adalah lima gugus fundamental(khandha): tubuh, perasaan, pencerapan (persepsi), bentuk bentuk pemikiran dan kesadaran.
Sang Buddha mengatakan: biarkanlah semua itu berlalu.
Meditasi itu bagaikan sebatang kayu. Pemahaman dan penyelidikan (vipassana) di salah satu ujung; ketenangan dan konsentrasi (samatha) di ujung yang lain. Jikalau kita memungutnya, apakah hanya satu ujung yang terbawa? Atau keduanya? Saat seseorang mengambil sebatang kayu, kedua ujungnya terangkat bersama. Lalu, bagian mana yang vipassana, dan mana yang samatha? Dimana batas persisnya?
Sesungguhnya: keduanya adalah pikiran. Bilamana pikiran ini menjadi damai, awalnya kedamaian ini muncul dari ketenangan samatha. Kita memusatkan dan menyatukan pikiran dalam kekhusukan meditatif (samadhi). Akan tetapi, bilamana kedamaian dan ketenangan dari samadhi itu berlalu,penderitaan bakal datang menggantikan. Mengapa demikian?
Karena kedamaian yang dihasilkan dari meditasi samatha saja itu masih berdasarkan kemelekatan. Kemelekatan ini kemudian bisa justru menjadi penyebab penderitaan lagi. Jadi, ketenangan bukan merupakan tujuan akhir.
Sang Buddha menyaksikan berdasarkan pengalamanNya sendiri bahwa kedamaian pikiran seperti itu bukanlah yang pamungkas. Sebab-sebab terdalam yang mendasari proses eksistensi (bhava) belumlah terpadamkan (nirodha). Kondisi yang menyebabkan kelahiran kembali masih ada. Usaha spiritualnya belum mencapai kesempurnaan.
Mengapa? Karena: masih ada penderitaan. Jadi berlandaskan ketenangan samatha itu beliau melanjutkan kontemplasi, meng-investigasi dan menganalisa hakekat realitas terkondisi hingga ia terbebas dari kemelekatan, bahkan kemelekatan terhadap ketenangan itu sendiri. Ketenangan ini masihlah merupakan bagian dari dunia eksistensi yang terkondisi dan merupakan realitas-konvensional. Melekat pada kedamaian ini adalah kemelekatan pada realitas-konvensional;selama kita melekat, kita akan terjerumus dalam eksistensi dan kelahiran kembali. Jadi, kalau cuma berhenti dan hanya menikmati ketenangan samatha saja masih akan membawa kepada eksistensi berikutnya serta kelahiran kembali. Tatkala kegelisahan dan gejolak pikiran mereda, seseorang melekat
pada buah kedamaian tersebut. Sang Buddha melanjutkan untuk memeriksa sebab dan kondisi yang mendasari keberadaan dan kelahiran kembali. Selama beliau belum sepenuhnya menembus persoalan dengan tuntas dan memahami kebenaran, beliau terus mengamati semakin mendalam dan kian mendalam dengan pikiran yang damai, merefleksikan segalanya — baik yang menyenangkan maupun yang tidak — muncul ke [permukaan] eksistensi.
Investigasi-nya terus merangsek maju hingga segalanya menjadi sangat jelas bagi beliau bahwa: semua yang hadir ke dalam eksistensi ini adalah bagai bongkah besi membara. Lima gugus pengalaman  makhluk hidup (khanda) adalah bongkahan besi yang panas. Apakah kita dapat menyentuh sebongkah besi merah membara tanpa cidera? Apakah terdapat bagian yang dingin?
Coba sentuh bagian atas, samping, ataupun bawahnya.
Apakah ada satu titik pun yang dingin? Tak mungkin.
Bongkahan besi yang terbakar ini seluruhnya panas membara.
Kita bahkan jangan melekat pada ketenangan-bathin. Karena bila kita mengidentifikasikan-diri kita dengan kedamaian itu, lalu beranggapan bahwa ada “seseorang” yang diam dan tenang — ini akan mempertajam rasa adanya diri yang independen atau jiwa.
Rasa-diri ini cuma merupakan bagian realitas konvensional.
Dengan [kebiasaan] berpikir, “Saya tenang”, “Saya gelisah”, “Saya baik”, “Saya buruk”, “Saya bahagia” atau “Saya tidak bahagia”, kita bakal kian terperangkap lebih dalam lagi pada eksistensi dan kelahiran kembali. Bakal kian menderita.
Bila kebahagiaan berakhir, maka penggantinya adalah ketidakbahagiaan.Ketika kesedihan hilang, maka kitapun kembali senang. Terperangkap pada lingkaran tiada akhir ini, membuat kita terus berputar-putar antara surga dan neraka.
Sebelum pencerahannya, Sang Buddha mengenali pola ini dalam hatiNya. Beliau mengetahui bahwa kondisi untuk eksistensi
dan kelahiran kembali belumlah lenyap. Pekerjaannya belum selesai. Dengan berfokus pada kondisi kehidupan, Ia merenungi sesuai dengan hakekat: “Oleh sebab ini maka ada kelahiran, adanya kelahiran menyebabkan adanya kematian,dan semua perubahan datang dan pergi”. Maka Sang Buddha mengambil tema ini sebagai perenungan untuk memahami kebenaran lima khandha.
Segala sesuatu baik mental maupun fisik, semua yang ditangkap dan dipikirkan tanpa kecuali adalah terkondisi. Begitu Ia mengetahuinya, maka Ia mengajar kita untuk melepaskan semua itu. Ia mendorong orang lain untuk memahami kebenaran ini. Jika tidak, kita akan terus menderita. Kita tidak akan dapat melepas hal-hal ini. Bagaimanapun,ketika kita memahami sesuatu sebagaimana adanya, kita akan
mengetahui bahwa semuanya ini telah mengecoh kita.
Sebagaimana ajaran Sang Buddha, “Pikiran ini tak mempunyai substansi, ia bukanlah apa-apa”.Pikiran ini tidak terlahir sebagai milik siapapun. Ia tidak mati sebagai milik seseorang. Pikiran itu [sejatinya] bebas,cemerlang, cerah dan tidak digayuti dengan masalah atau isu apapun. Masalah itu ada karena pikiran dikaburkan oleh hal- hal berkondisi tadi, persepsi yang salah akan diri. Jadi Sang Buddha menyuruh kita mengamati pikiran ini. Apakah yang ada di sana pada mulanya? 
Sebenarnya, tidak ada apapun.
Pikiran tidak lahir dengan hal-hal berkondisi dan juga tidak mati dengannya. Ketika pikiran berjumpa dengan sesuatu yang baik, ia tidak menjadi baik. Ketika berhubungan dengan sesuatu yang jahat, ia tidak pula menjadi jahat.
Demikianlah adanya manakala ada insight yang jernih terhadap hakekat diri seseorang. Inilah pemahaman bahwa pada dasarnya segala hal itu tanpa-substansi.
Sang Buddha melihat dengan sangat jelas bahwa segala sesuatu adalah tidak kekal, tidak memuaskan dan tiada diri.
Ia menginginkan kita juga memahami hal itu sepenuhnya.
Dengan demikian “yang tahu” (the “knowing”) akan memahami sejalan dengan kebenaran (truth). Kemudian manakala ia berjumpa dengan kebahagiaan dan kesedihan, ia kokoh tetap tak-goyah. Emosi bahagia merupakan wujud kelahiran.
Kecenderungan untuk sedih adalah wujud dari kematian.
Bila ada kematian maka ada kelahiran, dan apa yang dilahirkan bakal mati.
Segala yang timbul dan lenyap ini terjebak dalam siklus menjadi-sesuatu (becoming) yang tiada hentinya.
Begitu pikiran seorang meditator mencapai level pemahaman seperti ini,
tiada lagi kebimbangan — baik tentang apakah ada penjelmaan?
Apakah ada kelahiran kembali?
Tiada perlu lagi bertanya kepada siapapun.
Sang Buddha telah menyelidiki fenomena terkondisi ini secara menyeluruh, dengan demikian mampu membiarkan semuanya berlalu.
Kelima khandha dibiarkan berlalu, dan “yang-mengetahui” berlangsung sekedar sebagai pengamat yang tak terpisahkan dari proses tersebut. Jika ia mengalami
sesuatu yang positif, ia tidak berubah jadi positif. Ia sekedar menyimak dan tetap menyadari. Jikalau ia mengalami sesuatu yang negatif, ia tidak menjadi negatif. Mengapa bisa demikian?
Karena pikirannya telah bebas terlepas dari segala sebab dan kondisi.
Ia telah menembus Kebenaran. Kondisi-kondisi yang membawa kelahiran kembali telah tiada. Inilah “si tahu” yang jelas dan bisa diandalkan.
Inilah pikiran yang damai sejati.
Inilah:yang tak dilahirkan, tak menua, yang tidak mengalami sakit dan kematian. Ini bukanlah sebab maupun akibat, juga tidak tergantung pada sebab dan akibat. Bebas dari proses causal conditioning. Penyebabnya lenyap tanpa ada kondisi yang tersisa. Pikiran ini melampaui semua kelahiran dan kematian,
kebahagiaan dan kesedihan, baik dan jahat. Lalu apa?
Ini di luar jangkauan bahasa untuk menjelaskannya. Semua kondisi yang mendukungnya telah lenyap, dan segala usaha untuk mendeskripsikannya cuma akan membawa ke kemelekatan.
Kata-kata yang digunakan kemudian cuma menjadi teori dari pikiran.
Penjelasan teoritis mengenai pikiran dan cara kerjanya memang benar akurat, namun Sang Buddha menyadari bahwa dengan pengetahuan macam ini saja relatif tak banyak berguna. Kita bisa memahami sesuatu secara intelektual lalu mempercayainya, tapi ini bukanlah manfaat yang nyata. Itu takkan membawa ke kedamaian pikiran. Pengetahuan Sang Buddha membawa ke pelepasan (letting go) — yang menghasilkan sikap meninggalkan (abandoning) dan mentas (renunciation).
Oleh sebab pikiran inilah tepatnya yang membawa kita terlibat dengan apa yang benar dan yang salah. Jika kita cerdik, maka kita hanya akan berurusan dengan hal-hal yang benar. Namun kalau kita bodoh kita bakal berurusan dengan hal-hal yang salah.
Pikiran yang begitulah dunia ini, dan Yang Terberkahi mengambil hal-hal dari dunia untuk menyelidiki dunia itu sendiri.
Mengetahui dunia ini sebagaimana adanya,beliau kemudian dikenal sebagai ‘Yang memahami dunia dengan jelas’.
Pembahasan samatha dan vipassana ini, yang penting
bagi diri kita adalah mengembangkan keadaan tersebut dalam bathin kita sendiri. Hanya pada saat kita menumbuhkembangkan sendirilah, baru kita dapat mengetahui seperti apa samatha dan vipassana itu sesungguhnya. Kita bisa saja menempuh belajar segala apa yang dikatakan buku-buku mengenai faktor-faktor psikologis pikiran, tetapi [sekedar] pemahaman intelektual ini tidaklah banyak berguna untuk benar benar dapat memotong nafsu egois keinginan, kebencian dan kebodohan. Hanya mempelajari teori tentang itu sama halnya dengan menjelaskan ciri-ciri dari kekotoran bathin tersebut, ‘nafsu keinginan seperti ini’, ‘kebencian seperti itu’, ‘kebodohan seperti ini’.
Mengetahui ini sebatas teori, kita hanya dapat memperbincangkannya sebatas itu pula. Kita tahu dan kita pandai, tetapi tatkala kekotoran bathin ini sungguh-sungguh muncul dalam pikiran, apakah mereka cocok dengan teori tersebut atau tidak? Contoh, ketika kita mengalami sesuatu yang tidak diharapkan, apakah kita lalu bereaksi dan menjadi murung? Apakah kita melekat? Bisakah kita membiarkannya berlalu?
Jika sesuatu yang tidak disukai timbul dan kita mengenalinya,
apakah kita masih larut padanya? Atau begitu kita telah melihatnya, apakah kita segera melepaskan? — Kalau berjumpa dengan hal-hal yang tidak kita sukai lalu kejengkelan masih saja berkembang di dalam hati, lebih baik kita kembali mulai belajar lagi dari awal.
Ini masih belum benar. Latihan ini belumlah sempurna. Ketika ia memang sudah mencapai kesempurnaan, maka pelepasan pun terjadi. Perhatikanlah ini dengan jelas.
Kita harus benar-benar melihat ke dalam bathin kita sendiri jika ingin mendapatkan buah dari praktik-meditatif.
Sekedar berusaha mendeskripsikan keadaan psikologis pikiran,
dengan cara merinci sejumlah momen-momen terpisah dari kesadaran serta berbagai perbedaaan karakteristiknya,
menurut hemat saya, tidaklah membawa praktik-meditasi kita berkembang. Masih sangat banyak kurangnya. Bila kita
memang hendak mempelajari hal-hal ini, maka kuasailah
mereka sepenuhnya, dengan kejelasan serta pemahaman yang
mendalam. Tanpa kejernihan insight, bagaimana mungkin
kita menuntaskannya? Tak ada akhir dari itu. Kita takkan pernah
menyelesaikan pembelajaran kita.
Mempraktikkan Dhamma sangatlah luar-biasa penting.
Ketika saya praktik, ya dengan begitulah cara saya belajar.
Saya tidak tahu apapun mengenai momen-momen pikiran dan faktor-faktor mental. Saya hanya mengamati kualitas “mengetahui”.
Jika buah pikir kebencian timbul, saya sekedar menanyai diri sendiri:
mengapa ya? Bila buah pikir cinta timbul, saya bertanya pada diri sendiri: mengapa? Inilah caranya.
Apakah ia mau disebut buah-pikir atau faktor-mental, terus ngapain?
J — Cukup tembuslah satu-titik ini saja: hingga anda mampu mengatasi rasa cinta dan benci, sampai mereka sepenuhnya lenyap dari bathin.
Dalam keadaan apapun, ketika saya mampu stop mencintai dan membenci, disitulah saya mampu mengatasi penderitaan. Selanjutnya tiada lagi beban
apapun — hati serta pikiran lega, santai. Tiada yang tersisa.
Semua telah berhenti.

3. SILA, SAMADHI dan PANNA



Berlatihlah seperti itu. Bila orang ingin ngomong panjang lebar tentang teori, itu urusan mereka. Namun tak peduli berapa banyak diperdebatkan, latihan itu selalu tiba pada titik yang satu ini. Ketika sesuatu muncul, ia munculnya di sini. Entah banyak atau sedikit, ia berasal tepat di sini. Ketika ia berhenti, penghentiannya pun tepat di sini. Ya mau dimana lagi?
Sang Buddha menyebut titik ini sebagai “yang Mengetahui”(the “Knowing”).
Ketika the “Knowing” ini mengetahui segala sesuatu dengan akurat, yakni sesuai dengan kebenaran, kita bakal memahami seperti apa pikiran itu.
Segala macam hal tak henti-hentinya membohongi. Anda mempelajarinya, namun pada saat yang sama mereka mengelabui anda. Ya, bagaimana lagi saya harus ngomong? Walaupun anda memahami mereka,namun anda tetap saja masih dikecoh olehnya justru persis pada pemahaman anda itu. Itulah situasinya. Menurut hemat saya, inti masalahnya adalah: Sang Buddha tidak ingin kita cuma sekedar tahu tentang bagaimana menamai hal-hal diatas.
Tujuan dari ajaran Sang Buddha adalah memahami jalan yang membebaskan diri kita dari hal-hal tersebut melalui penyelidikan akan pelbagai sebab [penderitaan] yang mendasari(the underlying causes).
Saya mempraktikkan Dhamma dengan tanpa banyak pengetahuan [teori].
Saya hanya tahu jalan untuk pembebasan dimulai dengan moralitas atau kebajikan (sila). Sila merupakan indahnya permulaan dari Jalan. Kedamaian yang mendalam dari samadhi merupakan indahnya pertengahan. Kebijaksanaan (panna) adalah indahnya akhir. Kendati mereka dapat dibagi atas tiga aspek unik dari latihan, bila kita meninjau lebih dalam lagi ketiga kualitas ini bertemu menjadi satu.
Untuk mendukung kebajikan, anda harus bijak. Kita biasanya menganjurkan orang untuk mengembangkan standar etikanya dengan menjaga lima aturan perilaku (Panca Sila), dengan demikian sila-nya akan menjadi mantap. Bagaimanapun kesempurnaan sila memerlukan banyak kebijaksanaan (wisdom).
Kita harus mempertimbangkan perkataan dan tindakan kita, serta menganalisa konsekuensinya. Inilah pekerjaan dari kebijaksanaan.
Kita musti mengandalkan wisdom untuk menumbuhkan kebajikan.
Menurut teori, kebajikan datang duluan lalu Samadhi dan selanjutnya kebijaksanaan. Namun ketika saya menelitinya sendiri, ternyata saya menemukan bahwa sesungguhnya kebijaksanaan merupakan landasan setiap aspek lain dari praktik.
Agar memahami sepenuhnya segala konsekuensi dari apa yang kita ucapkan dan lakukan — khususnya yang merugikan — kita perlu menngunakan wisdom guna menuntun, mengendalikan,dan menyelidiki bekerjanya sebab-dan-akibat. Ini akan memurnikan (purify) perbuatan dan ucapan kita. Manakala kita menjadi terbiasa dengan tindakan etis dan tidak etis, kita mulai paham untuk berlatih. Kitapun lalu meninggalkan apa yang buruk dan menumbuhkan apa yang baik. Kita meninggalkan yang salah dan mengembangkan yang benar. Inilah: kebajikan.
Dengan menjalankan ini, bathin bertambah kokoh dan tabah.
Ketegaran serta kemantapan ini bebas dari kekhawatiran, rasa bersalah, keraguan dalam bertindak dan berbicara. Inilah: samadhi.
Penyatuan pikiran yang stabil ini membentuk tambahan sumber tenaga yang lebih kuat lagi bagi praktik kita,membuat kontemplasi yang lebih mendalam pada penglihatan,pendengaran, segala yang kita alami. Begitu pikiran telah terbentuk dengan perhatian-penuh (mindfulness) yang kokoh,mantap serta damai — kita bisa memulai penyelidikan tanpa putus terhadap realitas tubuh, perasaan, persepsi, buah pikir,kesadaran, penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan,sensasi dan segala obyek dari pikiran. Sebagaimana mereka selalu muncul, kita pun terus-menerus gigih menginvestigasi dengan sepenuh hati tanpa kehilangan mindfulness sedikitpun.
Kemudian kita akan tahu hal yang sebenarnya.
Mereka sekedar muncul ke eksistensi sesuai dengan hakekat alamiahnya sendiri. Sejalan dengan tumbuhnya pemahaman kita, maka lahirlah kebijaksanaan.
Begitu ada pemahaman jernih akan kebenaran segala sesuatu, maka persepsi-persepsi kolot kita bakal tercerabut dan pengetahuan konseptual kitapun lalu transformasi menjadi wisdom.
Demikianlah kebajikan, samadhi dan kebijaksanaan bergabung serta berfungsi sebagai satu kesatuan.
Dengan bertambahnya kekuatan serta keteguhan dari kebijaksanaan, samadhi akan jadi kian mantap. Semakin samadhi tak tergoyahkan, sila secara menyeluruh pun kian tak tergoncangkan. Sempurnanya sila, akan turut mengembangkan samadhi; meningkatnya penguatan samadhi mendorong matangnya kebijaksanaan. Inilah tiga aspek dari latihan yang saling membaur kait-mengkait. Kesatuannya disebut Jalan Mulia Berunsur Delapan, jalan Sang Buddha. — Ketika Sila,Samadhi dan Panna mencapai puncaknya, Jalan ini mampu mencerabut semua ketidakmurnian dalam pikiran. Saat nafsu keinginan, kebencian dan kebodohan tampil, Jalan inilah
satu-satunya yang dapat membabatnya habis hingga ke akar akar.
Kerangka dari praktik Dhamma adalah Empat Kebenaran Mulia yaitu:
Kebenaran adanya penderitaan (dukkha),
sebab dari penderitaan (samudaya),
berhentinya penderitaan(nirodha) dan
Jalan menuju lenyapnya penderitaan (magga).
Jalan ini terdiri dari kebajikan, samadhi dan kebijaksanaan —kerangka dalam melatih bathin ini. Maksud sebenarnya bukan ditemukan dalam kata-kata tersebut tetapi ada di kedalaman bathin kita. Begitulah sila, samadhi, dan panna. Mereka berputar terus menerus. Jalan Mulia Berunsur Delapan akan melingkupi setiap pemandangan, suara, bau, rasa, sensasi tubuh dan obyek pikiran yang muncul. Namun demikian, apabila unsur-unsur dari Jalan Mulia ini lemah dan lesu, kotoran-bathin akan menguasai pikiran kita. Sebaliknya kalau Jalan ini kuat dan teguh, ia akan mengalahkan dan menghancurkan kekotoran tersebut. Jika kekotoran begitu kuat dan tangguh sementara Jalan ini ringkih dan lemah, maka kekotoran bakal mengalahkan Sang Jalan. Mereka akan menguasai bathin kita.
Apabila the knowing kurang sigap dan gesit, begitu bentuk-bentuk pikiran, perasaan, persepsi serta buah-buah-pikir muncul, maka mereka bakal segera menguasai dan menghancurkan kita. Sang Jalan dan kekotoran bathin itu berjalan ber-iringan.
Dengan berkembangnya latihan Dhamma dalam bathin kita, kedua kekuatan itu mesti bertarung pada setiap langkahnya. Ini seperti dua orang yang bertengkar dalam pikiran kita. Tetapi ini hanyalah Jalan Dhamma dan kekotoran yang saling bergulat buat menguasai bathin. Jalan ini menuntun serta mengembangkan kemampuan kita untuk terus menyelidiki dengan perhatian-penuh. Selama kita mampu berkontemplasi
secara tepat, kekotoran-bathin akan kehilangan pijakannya. Namun bila kita goyah, seketika itu pula kekotoran bersatu-padu dan mendapatkan kekuatannya kembali.
Sang Jalan akan terkepung ketika kekotoran kembali merebut posisinya. Kedua pihak ini akan terus bertempur hingga ada pemenangnya, serta seluruh urusan telah dirampungkan.
Bila kita memusatkan usaha kita untuk mengembangkan Jalan Dhamma, kekotoran akan berangsur-angsur musnah. Begitu tumbuh secara penuh, Empat Kebenaran Mulia akan menetap dalam bathin. Dalam bentuk apapun penderitaan itu hadir, ia selalu berkaitan dengan suatu sebab. Itulah Kebenaran Mulia Kedua. Dan apa penyebabnya? Lemahnya kebajikan, samadhi dan kebijaksanaan. Saat Sang Jalan tak mampu bertahan, kekotoran menguasai pikiran. Ketika mereka menguasai, Kebenaran Kedua berperan dan kekotoran ini menimbulkan beragam jenis penderitaan. Saat kita menderita,segala kualitas untuk menumpas penderitaan pun hilang.
Sebaliknya jika kondisi-kondisi yang menyokong Sila, Samadhi dan Panna mencapai kekuatan maksimal, Jalan Dhamma tidak dapat dihentikan, melaju terus mengatasi kemelekatan dan keterikatan yang telah membuat kita begitu menderita. Penderitaan tidak dapat muncul karena Jalan telah melenyapkan kekotoran bathin. Disinilah berhentinya penderitaan. Mengapa Jalan dapat melenyapkan penderitaan? Karena sila, Samadhi dan panna telah mencapai puncak kesempurnaan, dan Sang Jalan telah membangun suatu momentum yang tidak dapat dibendung lagi. Semuanya hadir bersamaan tepat disini.
Bahkan saya mau katakan bahwa: siapa saja yang berpraktik seperti ini, segala ide teoritis [tentang pikiran] tidak bakalan muncul. Bila pikiran telah terbebaskan dari hal-hal ini, maka ia benar-benar dapat diandalkan dan pasti. Kini apapun jalannya yang hendak ditempuh, kita tidak perlu lagi terlalu pusing mengendalikannya agar tetap lurus.
Bayangkanlah daun-daun pohon mangga. Seperti apakah mereka? Dengan meneliti cukup satu daun saja kita  akan tahu seperti apa yang lainnya walau mungkin terdapat sepuluh ribu daun. Yang lain pada dasarnya sama saja. Begitu juga dengan batangnya, kita hanya perlu melihat batang dari satu pohon mangga untuk mengetahui karakteristik semuanya. Hanya melihat pada satu pohon. Semua pohon mangga lainnya pada dasarnya tidaklah berbeda. Walaupun terdapat seratus ribu pohon, jika satu diketahui maka semuanya juga diketahui. Inilah yang diajarkan Sang Buddha.
Kebajikan, samadhi dan kebijaksanaan memang membentuk Jalan Sang Buddha.
Tapi Jalan ini sendiri bukanlah esensi dari Dhamma. Jalan ini bukanlah tujuan-akhir, bukan sasaran utama Sang Bhagava. Tetapi sekedar jalan yang menuntun ke dalam bathin. Ini seperti saat anda berkunjung dari Bangkok ke vihara ini, Wat Nong Pah Pong. Bukanlah jalan itu yang hendak dicapai. Apa yang diinginkan adalah mencapai vihara, tapi untuk mencapainya anda memerlukan jalan tersebut.
Jalan yang anda lalui bukanlah vihara, ini merupakan cara untuk tiba ke sana.
Hal ini sama seperti kebajikan, samadhi dan kebijaksanaan. Kita dapat mengatakan mereka bukanlah esensi dari Dhamma, tetapi merupakan jalan untuk tiba ke sana.
Saat sila, samadhi dan panna telah kita kuasai, hasilnya adalah kedamaian pikiran yang sangat mendalam. Itulah tujuannya.
Begitu kita tiba disana, walaupun ada kebisingan, pikiran tetap tenang seimbang.
Saat kita mencapai kedamaian ini, tidak ada yang perlu dilakukan lagi.
Sang Buddha mengajarkan untuk melepas. Apapun yang terjadi, tak ada yang perlu dikhawatirkan.Kemudian kita benar-benar yakin dan tahu sendiri. Kita tidak lagi sekedar mempercayai perkataan orang lain.

4. Bahaya Kemelekatan



Prinsip esensial ajaran Buddha Dharma adalah: kosong dari segala fenomena; bukan untuk mempertontonkan kesaktian, kemampuan paranormal, atau apapun yang mistik dan gaib.
Sang Buddha tidak menekankan pentingnya hal itu. Bagaimanapun, kekuatan seperti itu memang ada dan mungkin saja dikembangkan. Namun Dhamma jenis ini menyilapkan, sehingga Sang Buddha tidak menganjurkannya. Orang yang dipuji Sang Buddha adalah mereka yang mampu membebaskan
diri dari penderitaan.
Alat dan perlengkapan yang harus dimiliki untuk menyelesaikan latihan ini adalah: kemurahan-hati, kebajikan,samadhi dan kebijaksanaan. Kita harus mengambilnya dan berlatih dengannya.
Bersamaan mereka membangun jalan ke-dalam bathin dan kebijaksanaan adalah awalnya.
Jalan tersebut tidak dapat matang bila pikiran terbalut dengan kekotoran. Tapi bila kita cukup kuat, Jalan ini akan menyisihkan ketidakmurnian itu. Bagaimanapun kalau kekotorannya yang lebih kuat maka mereka akan menghancurkan Jalan. Praktik Dhamma itu ya cuma menyangkut: kedua kekuatan itu yang saling bertempur tanpa hentinya hingga mencapai ujung jalan.
Mareka berperang terus sampai tamat.Menggunakan peralatan latihan mengandung tantangan yang keras dan melelahkan.
Kita mengandalkan pada kesabaran,ketabahan dan kemandirian.
Kita harus melakukannya sendiri, mengalaminya sendiri dan merealisasikannya sendiri pula.
Namun demikian, para cendekiawan sering kebingungan. Contohnya, saat mereka duduk bermeditasi, sesaat pikiran mereka mengalami setitik ketenangan; mereka mulai perpikir, “Hei, ini pasti jhana pertama.” Beginilah cara kerja pikiran mereka.Dan begitu pemikiran-pemikiran seperti itu muncul, maka ketenangan yang baru dialaminya hancur-berantakan. — Tak lama kemudian mereka mulai berpikir lagi, itu pasti jhana kedua. – Janganlah memikirkan dan berspekulasi tentang itu.
Tidak ada papan yang mengumumkan tingkat samadhi yang kita alami. Di kenyataannya sungguh sama sekali berbeda.Tidak ada petunjuk apapun seperti petunjuk jalan yang memberitahu anda, “Jalan ini menuju Wat Nong Pah Pong”. Tidak seperti itu saya memahami pikiran. Tidak ada pengumuman.
Walaupun banyak cendekiawan papan-atas telah menulis penjelasan-rinci tentang jhana pertama, kedua, ketiga dan keempat, apa yang tertulis hanyalah informasi eksternal.
Apabila pikiran benar-benar memasuki kedamaian mendalam seperti itu, pikiran tidak tahu menahu mengenai apa yang tertulis. Pikiran memang mengetahui, tetapi apa yang diketahuinya tidaklah sama dengan teori yang kita pelajari. Jika para akademisi mencoba untuk menggenggam teorinya dan memeriksanya ke dalam meditasi, mereka duduk dan berpikir,“Hmmm…Apa ya ini? Apakah ini sudah jhana pertama?” Nah! Kedamaiannyapun buyar, dan mereka tidak mengalami apapun yang sungguh bermanfaat. Dan apa sebabnya? Karena terdapat nafsu, dan begitu ada nafsu kemelekatan maka apa
yang terjadi? Pikiran segera keluar dari meditasi. Jadi penting bagi kita semua untuk menyingkirkan segala pemikiran dan spekulasi. Tinggalkanlah mereka seluruhnya. Cukup gunakan tubuh, ucapan dan pikiran dan ceburkan diri seluruhnya ke dalam praktik. Amati langsung cara kerja pikiran ini, tetapi janganlah menyeret serta buku-buku Dhamma saat anda mengamati pikiran. Kalau tidak, maka segalanya bakal berantakan, karena tidak ada isi buku yang cocok persis dengan kenyataan yang sebenarnya.
Orang yang belajar terlalu banyak, yang penuh dengan pengetahuan teoritis, biasanya kesulitan dalam praktikmeditatif. Mereka cuma mandeg pada tingkat informasi. Kenyataannya adalah, pikiran dan bathin ini tidak bisa diukur dengan standar eksternal. Jika pikiran ini damai, sekedar biarkanlah ia menjadi damai. Pelbagai level kedamaian yang amat mendalam memang sungguh ada. – Secara pribadi, saya tidak tahu banyak teori tentang latihan.
Waktu itu saya telah menjadi bhikkhu selama tiga tahun dan masih banyak pertanyaan tentang bagaimana sebenarnya samadhi itu. Saya terus memikirkannya dan membayangkannya saat bermeditasi, tetapi pikiran saya malah menjadi kian gelisah dan bingung.
Jumlah pemikiran-pemikiran kian bertambah. Dan ketika saya tidak bermeditasi kok malah lebih tenang. Aduh, sulitkah,sangat menjengkelkan! Tapi sekalipun saya menjumpai banyak hambatan, saya tak pernah menyerah. Saya teruskan saja. Kala saya tidak berusaha berbuat sesuatu yang khusus, pikiran saya relatif tenteram. Tapi manakala saya bertekad membuat pikiran menyatu dalam samadhi, ia malah kehilangan kontrol.
“Apa yang sesungguhnya terjadi di sini,” pikir saya.
 “Mengapa ini terjadi?”
Belakangan saya mulai menyadari bahwa meditasi itu sama halnya dengan bernapas. Bila kita memaksa napas untuk menjadi dangkal, dalam atau membetulkannya — itu sangatlah sulit. Namun demikian, kalau kita berjalan-jalan, dan tidak menyadari napas masuk, napas keluar, itu sangatlah santai.
Jadi saya berpikir, “Aha? Mungkin begitulah caranya.” Ketika seseorang berjalan biasa di sepanjang hari, tanpa memfokuskan perhatian pada napasnya, apakah napas tersebut membuatnya menderita? Tidak, mereka hanya merasa relax. Tetapi ketika saya duduk dan bertekad-bulat hendak membuat pikiran tenang, maka kemelekatan pun timbul. Ketika saya berusaha mengendalikan napas menjadi dangkal atau dalam, hal itu justru membuat saya lebih tertekan. Mengapa? Karena tekad saya ternoda oleh kemelekatan. Saya justru jadi tidak tahu apa yang terjadi. Semua frustasi dan penderitaan muncul karena saya membawa kemelekatan ke dalam meditasi.
Suatu waktu saya tinggal di vihara hutan sekitar setengah mil dari desa. Pada satu malam penduduk desa merayakan pesta meriah saat saya sedang meditasi-jalan. Ketika itu pukul 11.00 lebih dan saya merasa sedikit ganjil. Saya merasakannya sejak tengah hari. Pikiran (mind) saya hening. Hampir tidak ada pemikiran (thought) apapun. Saya merasa sangat santai dan enteng. Saya melakukan meditasi-jalan sampai lelah dan kemudian duduk [meditasi] di dalam gubuk. Demikian saya duduk, belum lagi menyilangkan kaki, menakjubkan, pikiran ini ingin memasuki kedamaian yang mendalam. Itu semua
terjadi dengan sendirinya. Begitu saya duduk, pikiran langsung jadi sungguh tenteram. Seperti batu karang tak tergoyahkan. Bagaikan saya tidak lagi mendengar riuh nyanyi serta tarian penduduk desa — sebenarnya saya masih bisa mendengar — tetapi saya juga bisa membungkam seluruhnya sama sekali.
Aneh. Saat saya tidak memberi perhatian pada suara itu, ia hening sempurna — tidak mendengar apapun. Tapi kalau saya mau mendengar, saya bisa, tanpa menjadi terganggu.
Saat itu seperti ada dua obyek dalam pikiran saya yang saling berdampingan namun tanpa saling sentuh. Saya dapat melihat pikiran itu dan obyek kesadaran-nya terpisah dan berbeda.
Seperti tempolong dan ceret air ini. Kemudian saya mengerti: ketika pikiran menyatu dalam ketenangan samadhi, bila kita mengarahkan perhatian keluar kita dapat mendengarkan suara
— tetapi jika anda tinggal di kekosongannya maka akan hening sempurna. Saat suara ditangkap, saya dapat melihatnya bahwa “yang-mengetahui” dan suara itu adalah hal yang jelas berbeda. Saya lalu merenung, “Kalau bukan demikianlah ini adanya, ya mau bagaimana lagi?” Ya begitulah adanya.
Kedua hal tersebut terpisah sama sekali. Saya melanjutkan penyelidikan demikian ini sampai pengertian yang lebih mendalam lagi: “Ah, ini penting. Ketika pencerapan fenomena telah terpotong, hasilnya adalah kedamaian.” Ilusi yang berlangsung selama ini (santati) tertransformasi menjadi kedamaian pikiran (santi).
Saya lalu terus duduk, berusaha tetap bermeditasi. Pikiran saat itu hanya terpusat pada meditasi, yang lain diabaikan. Kalaupun saya berhenti bermeditasi pada titik ini, itu hanya oleh karena praktik telah benar-benar sempurna. Saya bisa saja memandangnya enteng, tapi itu bukan karena malas, lelah ataupun kesal. Bukan semuanya.
Hal tersebut tidak ada dalam bathin. Yang ada hanya keseimbangan bathin yang sempurna— pokoknya: pas.
Akhirnya saya istirahat sejenak, tapi itu hanya posisi duduk yang berubah. Bathin saya tetap tenang, tak bergeming, dan tidak lelah. Saya mengambil bantal, bermaksud untuk istirahat.
Sembari hendak berbaring, pikiran tetap damai seperti sebelumnya.
Kemudian sesaat sebelum kepala saya menyentuh bantal, kesadaran (the mind’s awareness) mulai mengalir ke dalam. Saya tidak tahu ini akan menuju kemana, tetapi ia terus mengalir lebih dalam dan lebih dalam lagi. Bagai arus listrik dalam kabel yang mengalir ke saklar. Begitu sampai di saklar, tubuh saya meledak dengan dentum memekakkan. Selama itu “yang-mengetahui” sangatlah luar biasa terang dan jernih. Begitu titik ini lewat, pikiran lepas menembus semakin ke dalam.
Ia meluncur ke dalam lagi hingga mencapai titik dimana tidak ada sesuatu apapun. Sama sekali tidak ada hal dari dunia luar yang bisa sampai ke tempat ini. Tiada apapun yang mampu mencapainya.
Berdiam di dalam untuk beberapa saat, pikiran ini lalu mundur mengalir balik keluar. Namun demikian, ketika saya mengatakan mundur tidak berarti saya yang membuatnya mengalir keluar. Saya hanya seperti seorang pengamat, hanya mengetahui dan menyaksikan saja. Pikiran keluar dan terus
keluar hingga akhirnya kembali “normal”. Begitu kesadaran kembali normal, timbul pertanyaan, “Eh, apakah itu?!” Sesegera itu muncul jawaban, “Semua ini terjadi sendiri sesuai dengan sifat-alaminya. Engkau tidak perlu mencari penjelasan lagi.” Jawaban ini sudah cukup memuaskan pikiran saya.
Sesaat kemudian, pikiran ini mulai mengalir ke dalam lagi. Saya tidak mengarahkannya dengan sengaja. Itu terjadi dengan sendirinya. Bergerak makin mendalam dan mendalam lagi hingga menabrak saklar yang sama. Kali ini tubuh saya pecah berantakan dalam fragmen dan partikel-partikel sangat kecil.
— Lagi, pikiran pun lalu lepas menembus ke dalam dengan sendirinya. Sunyi… — bahkan jauh lebih sunyi dari sebelumnya.
Sama sekali tiada apapun di luar yang dapat menjangkaunya.Pikiran tinggal disini beberapa saat, selama dia mau,kemudian mundur mengalir keluar. Saat itu, semuanya terjadi sesuai dengan momentumnya dan terjadi dengan sendirinya. Saya tidak mempengaruhi atau mengarahkan pikiran saya secara khusus, untuk mengalir ke dalam ataupun ke luar. Saya hanya pihak yang mengetahui dan mengamatinya saja.
Pikiran saya kembali pada kesadaran normalnya lagi, dan saya pun tidak bertanya-tanya atau berspekulasi tentang apa yang baru saja terjadi. Demikian saya bermeditasi, pikiran sekali lagi meluncur ke dalam. Kali ini seluruh jagad-raya hancur berantakan, terburai menjadi partikel-partikel kecil. Bumi, tanah, gunung-gunung, ladang-ladang dan hutan-hutan — seluruh dunia — cerai-berai menjadi elemen-elemen di udara. Orang orang lenyap. Semuanya hilang. Pada kali ketiga ini, sama sekali tiada yang tersisa.
Pikiran ini, setelah meluncur ke dalam, berdiam disana selama ia mau. Saya tidak bisa mengatakan saya mengerti persis bagaimana ia tinggal disana. Sulit untuk menggambarkannya.
Tiada yang dapat saya gunakan untuk membandingkannya. Tidak ada perumpamaan yang cocok. Kali ini pikiran tinggal di dalam jauh lebih lama dari yang sebelumnya, dan hanya setelah beberapa waktu ia kembali keluar. Ketika saya mengatakan “ia keluar”, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa saya telah membuatnya keluar ataupun mengendalikan segala yang terjadi. Pikiran keluar dengan sendirinya. Saya hanya seorang pengamat. Akhirnya pikiran pun kembali pada keadaan kesadaran normalnya. — Bagaimana anda bisa memberi nama apa yang terjadi barusan sebanyak tiga kali? Siapa tahu? Istilah apa yang dapat digunakan untuk menamainya?
Semua yang saya ceritakan pada anda mengenai pikiran mengikuti hukumnya sendiri, terjadi secara alami. Tidak ada penjelasan teoritis dari pikiran atau keadaan keadaaan mental. Semua ini tidak perlu. Dengan keyakinan atau kepercayaan yang anda miliki, praktikkan ini dengan sungguh-sungguh.
Jangan berputar-putar terus, masuklah ke dalam Dhamma. Dan bila praktik anda sudah mencapai tingkatan seperti yang baru saja saya jelaskan, seluruh dunia ini akan jungkir-balik. Pemahaman anda akan realitas akan berbeda sama sekali. Pandangan hidup anda berubah total.
Bahkan kalau ada orang melihat anda pada saat itu, mungkin mereka berpikir anda sinting. Dan jika anda tidak mempunyai keyakinan diri yang sungguh kuat, anda memang bisa jadi benar-benar gila, karena tiada lagi apapun yang sama dengan sebelumnya. Orang-orang tampak berbeda dari yang biasanya dulu. Tetapi cuma anda satu-satunya yang melihat kenyataan ini. Semuanya berubah total. Pemikiran-pemikiran anda juga berubah: Orang lain kini berpikir begini, sementara saya berpikir begitu. Mereka berbicara tentang pelbagai hal begini, sementara anda ngomong dengan cara lain. Mereka mengikuti satu jalan, sedangkan anda mendaki jalan yang lain. Anda tak lagi sama dengan manusia lumrah lainnya. Pengalaman akan hal-hal di atas tidaklah luntur. Ini berlangung terus. Cobalah. —Jika benar-benar mengalami seperti yang saya ceritakan, anda takkan perlu mencari terlalu jauh-jauh. Cukup tengok saja ke dalam bathinmu sendiri. Bathin ini sesungguhnya teguh, kokoh tak tergoyahkan. Inilah kekuatan dari bathin, sumber kekuatan dan energi. Bathin ini mengandung kekuatan yang potensial.
Inilah kekuatan dari samadhi.

5. Menjalankan Praktik Selaras Dengan Alam



Sampai disini, ini hanyalah kekuatan dan kemurnian yang pikiran peroleh dari samadhi. Tingkatan samadhi ini adalah samadhi yang mencapai puncaknya. Pikiran telah mencapai puncak samadhi, bukan lagi sekedar konsentrasi sesaat. Bila anda menggunakannya untuk meditasi vipassana pada titik ini,
kontemplasi menjadi tak terputus dan penuh insight. Atau anda bisa saja memakai energi yang terpusat tersebut untuk hal lainnya. Dari sini anda dapat mengembangkan kesaktian,melakukan hal gaib atau apapun yang ingin anda lakukan.
Para asketik dan pertapa telah menggunakan energi Samadhi untuk membuat air suci, jimat atau guna-guna. Semuanya mungkin pada tahapan ini, dan bisa menguntungkan untuk beberapa hal; tetapi itu seperti keuntungan dari alkohol. Anda meminumnya dan anda mabuk.
Mengertikah anda maksud kisah ini?
Segala sesuatu yang dialami dengan pikiran damai akan langsung memberi- kan pemahaman yang luar biasa. Takkan lagi kita membuat pelbagai interpretasi pada apa yang dialami. Harta-benda,kemasyhuran,cacian, pujian, kebahagiaan dan kesedihan datang berjalan sendiri; dan kita tetap tenteram-damai; kita bijaksana. Bahkan ini jadi sangat menyenangkan. Menyaring
dan memisah-misahkan hal-hal ini adalah pekerjaan yang mengasyikkan. Apa yang orang sebut dengan baik, buruk,jahat, begini, begitu, kebahagiaan, kesedihan, atau apapun —semuanya diambil buat keuntungan kita. Orang lain memanjat pohon mangga dan menggoyang dahannya agar buahnya jatuh ke anda. Kita hanya menikmati mengumpulkan buah tanpa perlu merasa cemas. Yah, apa lagi yang harus ditakutkan?
Adalah orang lain yang memetik untuk kita. Kekayaan,kemasyhuran, pujian, hinaan, kebahagiaan, kesedihan dan lainnya tidak lebih daripada buah-buah mangga jatuh.
Kita memeriksanya dengan hati tenang. Kemudian kita akan mengetahui mana yang baik dan mana yang busuk.
Ketika kita mulai menggunakan kedamaian dan ketenangan dari samadhi untuk mengkontemplasikan segala sesuatu, muncullah kebijaksanaan. Yang demikianlah yang saya sebut: wisdom.
Inilah vipassana. Ini bukanlah sesuatu yang dibuat-buat ataupun penafsiran. Vipassana akan berkembang secara alami bila kita bijak. Kita tidak perlu memberi nama apa apa yang terjadi. Jika saat itu ada sedikit pemahaman (insight) yang jernih, kita menyebutnya ‘vipassana kecil’. Kalau insight ini bertambah sedikit, kita menyebutnya ‘vipassana cukupan’.
Bila pikiran (knowing) sepenuhnya mengetahui sesuai dengan kebenaran, kita menyebutnya ‘vipassana besar’. Sebenarnya saya lebih suka menggunakan kata ‘kebijaksanaan’ (panna) daripada ‘vipassana’. Jika kita berpikir kita mau duduk dari waktu ke waktu dan mempraktikkan meditasi-vipassana, kita bakal mengalami kesulitan. Insight harus datang dari kedamaian dan ketenang-seimbangan. Keseluruhan proses ini akan terjadi secara alami sesuai hukumnya sendiri. Kita tak dapat memaksakannya.
Sang Buddha mengatakan proses ini matang dengan sendirinya. Ketika praktik mencapai tahap ini, kita membolehkannya berkembang sesuai dengan kemampuan, kecakapan spiritual dan kebajikan (merit) yang kita kumpulkan di masa lampau. Tetapi kita tidak berhenti berusaha dalam berlatih.
Apakah perkembangannya mulus atau lambat adalah di luar kendali kita. Seperti menanam pohon, pohon tersebut tahu seberapa cepat ia harus tumbuh. Kalau kita menginginkannya tumbuh lebih cepat, itu adalah kebodohan. Kalau kita mau ia tumbuh lebih lambat, kenalilah ini adalah kebodohan juga. Jika kita telah melakukan pekerjaan, hasilnya pasti akan datang belakangan — ibarat menanam pohon. — Contoh,katakanlah kita menanam pohon cabai. Tanggung-jawab kita adalah menggali lubang, menanam biji cabai, menyiramnya,memberi pupuk dan menjaganya dari serangan serangga.
Inilah tugas kita, kesepakatan kita. Disinilah faktor keyakinan berperan. Apakah pohon cabai tumbuh atau tidak terserah padanya. Bukan urusan kita. Kita tidak dapat menarik-narik tanaman itu, meregangkan dan membuatnya tumbuh lebih cepat. Itulah bukanlah cara kerja alam. Pekerjaan kita adalah menyirami dan memupuknya. Mempraktikkan Dhamma dengan cara demikian akan membuat hati kita ringan. Kalau kita bisa mencapai pencerahan pada kehidupan ini,
itu baik. Apabila memang harus menunggu hingga kehidupan yang akan datang, juga tak masalah. Kita mempunyai keyakinan dan kepastian yang tak terpatahkan dalam Dhamma.
Apakah kita berkembang cepat atau lambat tergantung pada kemampuan bawaan kita, kecakapan spiritual dan kebajikan yang telah terkumpul. Mempraktikkan Dhamma seperti ini akan memudahkan kita. Seperti mengendarai kereta kuda. Kita tidak meletakkan kereta di depan kudanya. Atau malah berjalan di depan kerbau ketika sedang membajak.
Yang saya bicarakan di sini adalah pikiran tak sabar yang nyondol-nyondol sendiri. Ingin hasil cepat-cepat bukanlah caranya. Jangan berjalan di depan kerbau. Anda harus berjalan di belakang-nya.
Seperti tanaman cabai yang sedang kita rawat. Berikan air dan pupuk, dan ia akan menyerap nutrisinya sendiri. Ketika semut atau rayap datang mengganggu, kita menggebahnya pergi. Mengerjakan ini sudah cukup bagi pohon cabai tersebut tumbuh subur dengan caranya sendiri; dan saat ia tumbuh dengan bagus, janganlah memaksanya berbunga ketika kita pikir seharusnya sudah berbunga. Itu sama sekali bukan urusan kita. Itu hanya menimbulkan penderitaan yang tidak perlu. Biarkan ia mekar dengan sendirinya. Dan saat mulai berbunga, jangan menuntutnya segera menghasilkan
cabai. Jangan memaksanya. Itu sungguh akan menimbulkan penderitaan. Begitu kita paham urusan ini, kita bakal tahu mana yang jadi tanggungjawab kita dan mana yang bukan.
Masing-masing mengerjakan tugasnya sendiri. Pikiran pun tahu apa yang mesti dilakukannya. Namun apabila pikiran tidak mengerti akan perannya, ia akan memaksa tanaman itu menghasilkan lombok sejak di hari ia ditanam . Pikiran akan menuntutnya untuk tumbuh, berbunga dan menghasilkan lombok seluruhnya dalam satu hari.

6. Mengubah Pandangan Kita





Ini tak lain adalah Kebenaran Mulia kedua, nafsu-keinginan (craving) akan menimbulkan penderitaan.
Jika sadar akan kebenaran ini dan merenungkannya dengan mendalam, kita akan mengerti bahwa memaksakan hasil dari latihan Dhamma adalah murni kebodohan. Itu salah. Memahami hal ini, kita pasrah dan membiarkannya tumbuh menurut kemampuan, kecakapan spiritual dan pahala yang telah kita kumpulkan. Kita tetap mengerjakan bagian kita. Jangan khawatir berapa lama hasilnya muncul. Walaupun masih seratus, seribu kehidupan lagi untuk mencapai pencerahan, lalu kenapa? Berapa banyakpun kehidupan yang diperlukan, kita terus berlatih dengan bathin yang enteng, melangkah dengan tanpa beban. Begitu pikiran memasuki arus, tidak ada ketakutan. Perbuatan jahat sekecil apapun telah lenyap.
Sang Buddha menyebutkan bahwa pikiran seorang sotapanna — seseorang yang telah mencapai tingkat pertama dalam pencerahan, yang sudah memasuki arus Dhamma — terus mengalir menuju pencerahan.Orang tersebut tak lagi mengalami alam rendah yang menyedihkan, takkan jatuh ke neraka. Bagaimana mungkin mereka yang pikirannya telah terbebas dari niat jahat bisa jatuh ke dalam neraka? Mereka sudah melihat bahaya dari melakukan kamma buruk. Sekalipun anda memaksa mereka untuk melakukan atau mengatakan sesuatu yang jahat, mereka tidak mampu melakukannya. Jadi tak ada kesempatan bagi mereka untuk jatuh ke neraka atau alam yang menyedihkan.Pikiran mereka mengalir sesuai arus Dhamma.
Saat anda memasuki arus, anda tahu apa tanggungjawab anda. Anda memahami kerjanya. Mengerti cara berlatih. Anda tahu kapan harus berjuang keras dan kapan harus rileks.
Anda memahami tubuh dan pikiran anda, proses fisik dan mental ini, dan meninggalkan hal-hal yang musti ditinggalkan, terus menerus melepas tanpa setitik pun keragu-raguan.
Dalam pengalaman saya mempraktikkan Dhamma, saya tidak berharap menguasai semua bagian. Hanya satu: saya memurnikan hati ini. Seperti saat melihat sesosok tubuh. Kalau kita tertarik, maka analisalah. Perhatikan baik-baik: rambut,bulu badan, kuku, gigi, dan kulit yang indah. Sang Buddha mengajarkan untuk meneliti dan berulang-ulang merenungi bagian-bagian tubuh ini. Membayangkannya secara terpisah,memisahkannya dengan mengupas kulit ini dan membakarnya.
Beginilah caranya. Latih terus meditasi ini hingga mantap dan kokoh. Lihat setiap orang secara sama. Sebagai contoh ketika para bhikkhu dan murid pemula (samanera) pergi ke desa untuk mengumpulkan dana makanan di pagi hari, siapapun yang mereka lihat — apakah ia bhikkhu maupun penduduk desa — mereka membayangkannya sebagai tubuh mati, sosok mayat yang berjalan sempoyongan di depan mereka. Selalulah melihat dengan cara seperti itu. Inilah cara kerja kita. Ini akan menuntun kepada kematangan dan perkembangan bathin.Ketika anda melihat seorang wanita muda yang menurut anda menarik, bayangkan ia adalah mayat yang berjalan, badannya busuk dan bau bangkai. Lihatlah setiap orang dengan cara itu.
Jangan biarkan mereka terlalu dekat. Jangan sampai nafsu timbul dalam diri anda. Apabila anda melihatnya busuk dan berbau, saya jamin nafsu tak akan muncul.
Kontemplasikan hingga anda yakin dengan apa yang anda lihat, hingga jelas dan anda menjadi mahir. Maka jalan apapun yang akan anda tempuh, anda takkan tersesat. CEBUR-kan diri sepenuh hati ke dalam meditasi ini. Kapanpun anda melihat seseorang, itu sama dengan mayat. Apakah ia laki-laki atau perempuan, lihatlah mereka sebagai mayat. Hasilnya, mayatlah yang anda lihat.
Berusahalah mengembangkan cara ini dengan seksama semampu anda.
Melatihnya sampai hal tersebut menjadi bagian dalam pikiran anda. Saya jamin, ini bakal sangat mengasyikkan bila anda melatihnya sungguh-sungguh. Apabila hal ini Cuma terbayang-bayang dalam pikiran setelah anda membacanya dari buku, anda akan mengalami kesulitan. Jadi anda harus mem-praktik-kannya. Lakukan dengan sepenuh hati dan ikhlas.
Melatihnya hingga meditasi ini menjadi bagian dari diri anda. Tanamkan cita-cita yang kuat untuk merealisasikan Kebenaran.
Jika anda termotivasi oleh keinginan untuk mengatasi penderitaan, maka anda akan berada di jalan yang benar.
Saat ini banyak orang yang mengajar Vipassana dan berbagai ragam teknik-teknik meditasi. Saya mau katakan: tidak gampang melakukan vipassana. Kita tidak bisa langsung melompat ke dalamnya. Tak bakal jalan kalau tidak dimulai dengan latihan moralitas yang tinggi. Coba saja. Disiplin moral dan latihan sila adalah penting, karena sebelum perilaku,perbuatan, dan ucapan kita tanpa-cela kita takkan pernah bisa berdikari. Bermeditasi tanpa adanya kebajikan adalah mengabaikan bagian pokok dari jalan.
Begitu pula, terkadang anda mendengar orang berkata, “Anda tak perlu mengembangkan ketenangan (samatha). Loncati, langsung saja meditasi vipassana”. — Orang malas yang grusah-grusuh suka ngomong seperti itu. Mereka bahkan mengatakan anda tak perlu pusing dengan disiplin-moralitas. — Menegakkan dan memurnikan sila memang penuh tantangan. Tidak main main.
Andai saja kita boleh melewati semua latihan laku etis,urusan jadi gampang; begitu ‘kan? Dan lalu setiap menjumpai kesulitan, kita hanya menghindar — lompati saja. Ya tentu, kita semua maunya sih meloncati kesulitan-kesulitan.
Dahulu saya pernah ketemu seorang Bhikkhu yang mengatakan bahwa ia seorang praktisi-meditator. Dia minta ijin untuk tinggal bersama saya di sini dan menanyakan jadwal kegiatan serta peraturan biara. Saya menjelaskan bahwa kita hidup di vihara ini menurut Vinaya, peraturan kebiaraan yang diberikan Sang Buddha. Dan apabila ia ingin tinggal dan berlatih dengan saya maka ia mesti meninggalkan uang dan semua barang miliknya. Dia menjawab bahwa ia berlatih “tidak-melekat kepada aturan-umum (conventions)”. “Dapatkah saya tinggal di sini?”, dia bertanya, “Dan saya mau tetap menyimpan semua uang saya, namun tanpa melekat kepadanya. Uang itu ‘kan cuma konvensi”. — Dia cuma sedang membual. Sebenarnya dia hanya terlalu malas untuk mengikuti vinaya. Makanya saya bilang, ini tidak gampang. — “Jika anda bisa menelan garam dan dengan jujur bisa meyakinkan saya bahwa itu tidak asin,maka saya akan tanggapi anda dengan serius.
Dan ketika anda mengatakan itu tidak asin, saya akan membawakan sekarung lagi untuk anda makan. Coba saja. Asin tidak? Ketakmelekatan terhadap konvensi bukanlah hanya soal pintar bersilat lidah.Kalau anda cuma terus ngomong macam begitu, anda tidak dapat tinggal bersama saya.” Kemudian ia pun ngeloyor pergi.
Kita harus berusaha dan menjaga praktik kebajikan (sila).
Para biarawan musti berlatih dengan berupaya menjalankan praktik asketik (dhutanga), sementara umat awam musti melatih Pancasila Buddhis. Berusahalah mencapai kemurnian dalam setiap ucapan dan perbuatan. Kita harus mengembangkan kebaikan dengan segenap kemampuan kita, dan terus melakukannya.
Ketika kita mulai mengembangkan ketenangan meditasi samatha, jangan membuat kesalahan dengan cuma berlatih sekali dua kali lalu berhenti karena pikiran tidak bisa tenang. Itu bukan cara yang benar. Anda harus menumbuhkan meditasi dalam jangka waktu yang panjang. Mengapa membutuhkan waktu yang panjang?
Coba pikirkan. Entah berapa lama kita telah membiarkan pikiran ini mengembara? [Sejak dahulu kala] sudah berapa tahun anda tidak melakukan meditasi samatha?
Kapan saja pikiran ini memerintahkan hal tertentu, kita tergopoh-gopoh memburunya. Untuk menenangkannya, agar berhenti dan diam, sekedar latihan beberapa bulan belumlah cukup. Pikirkanlah ini.
Ketika kita melatih pikiran agar menjadi tenang di segala situasi, harap dimaklumi bahwa di awal manakala emosi negative muncul, pikiran ini tidak akan tenang. Ia akan terganggu dan hilang kendali.
Mengapa? Karena masih ada nafsu-kemauan (tanha)18. — Kita tidak mau pikiran ini berpikir. Kita tidak mau mengalami gangguan suasana hati atau emosi. Ketidak-mauan ini adalah keterikatan terhadap non-eksistensi [atau maunya:TIDAK-terganggu]. Semakin kita menolaknya semakin kita justru mengundang dan mempersilahkannya masuk. —“Saya tidak menginginkan ini, tapi mengapa mereka datang padaku? Saya tidak mengharapkan begini, tapi mengapa terjadi begini?
” Nah, itu! — Kita mau-nya pelbagai hal jadinya begini atau begitu, karena kita tidak memahami pikiran kita sendiri. Ini bisa memakan waktu yang panjang sebelum kita meng-realisasi (menyadari) bahwa berputar-putar dengan hal tersebut adalah sebuah kesalahan. Pada akhirnya kita akan mengerti dengan jelas, “Ooh, hal-hal tersebut muncul karena aku memang mengundangnya.”
Mendambakan untuk TIDAK-mengalami sesuatu, mendambakan untuk menjadi tenang, mendambakan untuk tidak terganggu atau teragitasi — ini semua adalah tanha. Itu semuanya seperti lempeng besi panas membara. Tetapi, okelah.
Pokoknya berlatihlah terus. Tiap kali mengalami suatu mood atau emosi, periksalah bahwa ini tidak kekal, tidak memuaskan,dan tanpa inti, dan cemplungkan mereka ke dalam salah satu dari tiga kategori ini. Kemudian refleksi dan selidiki: perasaan yang keruh selalu dibarengi dengan pemikiran yang berlebihan (excessive thinking). Manakala suatu mood terbit, pemikiran mesti lalu datang membayang-bayangi. Pemikiran atau mikir mikir (thinking) dan kebijaksanaan (wisdom) adalah dua hal yang sangat berbeda.
Mikir-mikir itu cuma bereaksi dan membuntuti suasana hati kita, dan mereka berlanjut tanpa henti.
Tetapi begitu wisdom bekerja, ia akan membawa pikiran ke keheningan (stillness). Pikiran ini berhenti dan tidak ke manamana.
Yang ada sekedar mengetahui dan mengenali apa yang sedang dialami: ketika emosi ini muncul, pikiran seperti ini; dan saat mood itu muncul, ia seperti itu. Kita pertahankan yang “mengetahui” ini. Akhirnya terjadilah pada kita, “Heii, semua mikir-mikir, ocehan mental tak ada juntrungnya, kekhawatiran serta pelbagai sikap-menghakimi, mengecap, memberi penilaian— ini semuanya gombal tanpa makna. Semuanya tak permanen, tidak memuaskan, bukan aku atau milikku.” Cemplungkan hal tersebut ke dalam satu dari TIGA-KATEGORI yang mencakup semuanya ini, dan tumpas habis. Anda memotong sumbernya.Nanti saat kita bermeditasi lagi, hal ini akan muncul lagi. Terus waspadai dan awasi. Mata-matailah dia.
IBARAT menggembalakan kerbau. Anda punya: petani, tanaman padi, dan kerbau. — Si kerbau maunya memakan tanaman padi. Bukankah tanaman padi adalah makanan yang disukainya?
Pikiran anda adalah ibarat kerbau. Perasaan yang keruh adalah seperti tanaman padi. Yang “mengetahui” adalah petaninya. Praktik adalah seperti itu. Tidak berbeda. Bandingkanlah sendiri. Ketika menggembalakan seekor kerbau, apa yang anda lakukan? Anda melepas, membiarkannya leluasa, tetapi anda memantaunya.
Ketika ia nyeleweng terlalu dekat ke tanaman padi, anda meneriakinya. Ia pun berbalik saat mendengar suara anda.
Tetapi jangan lalai, lengah akan apa yang sedang dilakukan kerbau. Bila anda mempunyai kerbau yang bebal yang tidak nurut pada peringatan anda, ambillah tongkat dan pukul pantatnya. Maka ia takkan berani mendekati tanaman padi. Tetapi anda jangan bobok-siang. Kalau anda rebah terkantuk-kantuk, tanaman padi itu bakal tinggal kenangan.
Demikian juga dengan praktik Dhamma: anda cukup mengawasi pikiran anda; “si tahu” menggembalakan pikiran ini.
“Orang-orang yang mengawasi pikirannya dengan cermat akan terbebas dari jeratan Mara.” Namun demikian “pikiran yang-mengetahui” ini adalah sang pikiran juga, jadi siapakah yang sedang mengamati pikiran ini? Pertanyaan begini ini bisa jadi sangat membingungkan. Pikiran adalah satu hal, yang-mengetahui adalah hal lain; tetapi yang-mengetahui ini terbentuk dalam pikiran yang sama. Apa yang dimaksud dengan mengetahui pikiran? — Yaa, seperti apakah rasanya menjumpai suasana hati dan emosi-emosi? Seperti apakah keadaan perasaan yang jernih? Pengetahuan tentang hal inilah yang dimaksud dengan yang “mengetahui.”
Yang-mengetahui mengikuti pikiran dengan pengamatan, dan dari “mengetahui” inilah lahir kebijaksanaan. — Pikiran yang berpikir dan yang terikat satu sama lain dengan emosi-emosi ini persis seperti kerbau. Ke arah mana pun ia pergi, gunakan pengamatan yang jeli. Bagaimana ia dapat lolos? Kalau ia mendekat tanaman padi, anda bentak. Jika tak mau mendengar, ambil sepotong tongkat dan pukul. “Whack!” Inilah cara menundukkan tanha (craving).
Tak beda pula dengan melatih pikiran. Ketika pikiran mengalami suatu perasaan (emosi) dan sekejab menggenggamnya — merupakan tugas “yang-mengetahui” untuk mendidik.
Selidiki suasana hati tersebut apakah ia baik atau buruk.
JELASKAN pada pikiran bagaimana berlakunya sebab-dan akibat
 Apabila pikiran kembali meraih, memegang sesuatu yang ia sangka menyenangkan, “yang-mengetahui” harus mendidiknya lagi, menjelaskan sebab dan akibatnya sampai ia rela melepaskan hal tersebut. Ini akan membawa kedamaian pikiran. — Setelah menyadari bahwa apapun yang ia ambil dan genggam pada dasarnya tidak memuaskan, pikiran pun berhenti. Ia tak memusingkan hal-hal semacam itu lagi, karena ia di bawah cecaran teguran dan nasehat-nasehat teratur.
Hadang nafsu-pikiran ini dengan gigih. Desak dia sampai ke sarangnya, hingga ajaran ini merasuk dalam bathin. Begitulah cara anda melatih pikiran

7. Mengikuti Jalan Tengah



Saya telah menjalankan demikian ini sejak saya mengasingkan diri ke hutan untuk berpraktik meditasi. Saya melatih murid-murid saya dengan cara seperti itu pula. Karena saya ingin mereka melihat kebenaran, daripada hanya cuma membacanya di dalam kitab suci; saya ingin mereka menyaksikan sendiri bathin yang terbebas dari pemikiran-pemikiran konseptual.
Saat kebebasan terjadi, anda mengetahuinya;
dan kala hal tersebut belum terjadi, anda bisa mengkontemplasikan proses bagaimana satu hal mengakibatkan serta membawa ke hal yang lain. Renungi hingga anda mengerti dengan mendalam dan semakin mendalam. Suatu waktu begitu ia tertembus dengan insight, segalanya terbuka dengan sendirinya.
Ketika sesuatu muncul merintangi dan macet, selidiki. Jangan menyerah hingga ia melepaskan cengkeramannya.
Berulang-ulang selidikilah disini ini. Secara pribadi, inilah cara saya berlatih, karena Sang Buddha mengajarkan bahwa anda harus mengetahuinya sendiri. Para bijaksana mengalami dan menyaksikan sendiri kebenaran. Anda harus menemukannya di kedalaman bathin anda. Ketahuilah sendiri.
Jika anda yakin dengan diri anda dan apa yang anda ketahui, anda tetap tenang saat menerima pujian ataupun teguran.
Apapun yang dikatakan orang, anda merasa santai. Mengapa?
Karena anda mengenal diri anda sendiri. Bila seseorang menyiram
anda dengan pujian, namun sebenarnya anda tak layak menerimanya, apakah anda akan mempercayai mereka?
Tentu saja tidak. Anda sekedar melanjutkan praktik anda.
Ketika seseorang yang tidak yakin dengan pengetahuannya sendiri mendapat pujian dari orang, ia akan terperangkap untuk mempercayai dan menyesatkan pandangannya. Demikian juga jika orang yang mengkritik anda, lihat dan periksa diri anda. “ Tidak, apa yang mereka katakan tidak benar. Mereka menuduh saya salah tetapi sebenarnya tidak. Tuduhan mereka tak benar.
” Kalau kejadiannya seperti ini, mengapa kita harus marah? Perkataan mereka tidak benar. Sebaliknya, jika tuduhan mereka benar atas kesalahan kita, jika kejadiannya seperti ini, mengapa kita harus menjadi marah? Kalau anda mampu berpikir seperti ini, kehidupan itu sebenarnya nyaman dan tanpa masalah. Tidak ada kejadian yang salah. Kemudian segalanya adalah Dhamma. Inilah cara saya berlatih. Ini merupakan jalan yang tersingkat dan langsung. Anda dapat datang ke sini dan memperdebatkan Dhamma dengan saya, tetapi saya tak mau meladeni. Daripada mendebat balik, saya akan memberi anda beberapa hal untuk direfleksikan. Pahamilah bahwa apa yang diajarkan oleh Sang Buddha adalah: lepaskan segalanya. — Lepaskan dengan mengetahui-dan kesadaran.
Tanpa sadar-dan-mengetahui, maka pelepasan ini tak beda dengan sapi-sapi dan kerbau-kerbau itu. Tanpa melibatkan hati anda di dalamnya, pelepasan ini tidak benar.— Anda melepas karena mengerti realitas konvensional.
Ini adalah ketidak-melekatan.
Sang Buddha mengajarkan bahwa perlu usaha yang sangat keras di permulaan praktik Dhamma anda; mengembangkan hal-hal dengan teliti dan banyak melekat.
Melekat kepada Sang Buddha. Melekat kepada Dhamma. Melekat kepada Sangha. Melekat ketat dan mendalam. Inilah yang diajarkan Sang Buddha.
Melekat dengan tulus, tanpa henti dan memegangnya erat-erat.
Dalam proses pencarian ini, saya telah mencoba hampir semua kemungkinan cara ber-kontemplasi.
Saya menyerahkan hidup ini untuk Dhamma, karena saya mempunyai keyakinan akan realitas-pencerahan serta jalan menuju kepadanya.
Pencerahan itu memang sungguh ada, sebagaimana yang dikatakan Sang Buddha. Tetapi butuh praktik untuk mewujudkannya,praktik yang benar.
Perlu mendorong diri sendiri hingga limit. — Ini dibutuhkan keteguhan-hati untuk berlatih, untuk bercermin ke dalam diri, dan untuk perubahan yang mendasar. Dibutuhkan keberanian untuk menempuh apa yang musti ditempuh. Dan bagaimana melakukannya? Latihlah bathin ini. — Pemikiran-pemikiran di dalam benak kita meminta kita pergi ke satu arah, tetapi Sang Buddha menyuruh kita ke arah yang lain. Mengapa berlatih itu penting? Karena bathin ini masih sepenuhnya tertutup oleh kekotoran-kekotoran. Seperti itulah bathin yang belum ter-tranformasi melalui praktik. Ia tak dapat diandalkan, jadi jangan mempercayainya. Ia belum mulia. Bagaimana kita dapat mempercayai bathin yang tidak murni dan tidak jernih.
Oleh sebab itu Sang Buddha mengingatkan agar: jangan mempercayai bathin yang kotor itu.
Mulanya bathin ini hanyalah kaki-tangan dari kekotoran, tetapi apabila mereka lama bergaul, bathin ini akan berubah menjadi kekotoran itu sendiri. Itulah sebabnya mengapa Sang Buddha mengajar kita: untuk tidak mempercayai bathin (pikiran) kita sendiri.
Jika kita perhatikan latihan disipilin di vihara ini, anda akan melihat bahwa semuanya adalah tentang melatih bathin. Dan kapanpun saat kita melatih bathin ini, kita akan merasa: panas dan terganggu (!). — Begitu merasa gerah dan resah, kita akanmulai mengeluh,
“Aduh, latihan ini sulit sekali! Mustahil.” Tetapi Sang Buddha tidak berpikir seperti itu. Dia berpikir bahwa saat praktik menyebabkan panas dan penolakan, itu berarti [justru] kita telah berada di jalur yang benar. Namun biasanya kita tidak berpikir begitu. — Kita [malah] berpikir itu tanda ada sesuatu yang salah. Kesalah-pahaman ini membuat latihan jadi nampak sangat berat. Pada mulanya kita merasa panas dan risih, sehingga kita mengira bahwa kita keluar dari jalur. Setiap orang maunya senang, tetapi mereka kurang perduli apa itu benar atau tidak. — Ketika kita pergi melawan arus kilesa ini dan menghadang nafsu kita, ya tentu saja kita bakal menderita.
Kita panas, jengkel, gerah — [biasanya] lalu menyerah. Kita mengira berada di jalan yang salah. Tetapi Sang Buddha justru mengatakan bahwa: kita telah berada di jalan yang benar.
Kita menempuri kekotoran-kekotoran kita, dan mereka-lah yang jadi terbakar dan gerah. Kekotoran-kekotoranlah yang memberontak dan menjadi tidak bahagia. Hal ini sama pada tiap orang.
Itulah sebabnya mengapa praktik Dhamma dikatakan begitu berat. Orang tidak memeriksa segalanya dengan jelas. Umumnya mereka kehilangan Jalan dan terjebak pada sisi ekstrim, yaitu: memanjakan diri atau menyiksa diri. — Pada satu sisi mereka suka memuaskan, memperturuti keinginan-keinginan bathinnya. Melakukan apa saja yang disukai. Maunya duduk nyaman. Mereka suka rebahan, berbaring di tempat yang lembut. Apapun yang mereka lakukan, maunya mencari nyaman.
Inilah yang saya maksud dengan memanjakan diri:
Keterikatan pada perasaan yang menyenangkan.
Dengan bermanja-manja begitu bagaimana praktik Dhamma bisa maju?
Kemudian kalau kita tak lagi bisa berasyik-asyik dalam kenikmatan, sensualitas dan kesenangan, kita lalu gelisah. Kita jadi sedih, marah, dan menderita karenanya. Ini tergelincir dari Jalan, jatuh ke sisi penyiksaan-diri. Ini bukan Jalan para bijak yang damai; bukan jalan seseorang yang tenang. Sang Buddha memperingatkan agar jangan jatuh pada dua sisi jalur dari memanjakan-diri atau menyiksa-diri. Ketika mengalami kesenangan,sekedar ketahuilah dengan kesadaran. Ketika mengalami kemarahan, kebencian, dan kejengkelan — ketahuilah bahwa kita sedang tidak mengikuti jejak-langkah Sang Buddha. Itu bukanlah jalan orang yang mencari kedamaian, tetapi jalan orang-kampung biasa. Seorang bhikkhu yang tenang tidak berjalan di jalur itu. Dia berjalan lempang di tengah-tengah diantara manja di sebelah kiri dan penyiksaan-diri di kanan.
Inilah praktik Dhamma yang benar.
Bila anda tertarik dengan latihan kebiaraan, anda harus berjalan di Jalan Tengah, tidak diributkan oleh kesenangan maupun ketidaksenangan. Letakkan mereka. Tetapi rasanya mereka menendangi terus. Pertama mereka menendang kita ke sisi yang satu, “Aduh!”, kemudian menendang lagi ke tempat lain, “Aduh!”. Rasanya seperti bandul di lonceng kayu, membentur dari sisi yang satu ke sisi yang lain. — Jalan Tengah adalah melepaskan (letting go) kesenangan dan ketidaksenangan, dan praktik yang benar adalah berlatih di tengah.
Ketika haus-kesenangan datang dan kita tidak menurutinya, kita menderita.