Tampilkan postingan dengan label The Food For The Heart. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Food For The Heart. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Juni 2012

Bab 1. Perjuangan Dhamma



Kalahkan ketamakan, kalahkan kebencian, kalahkan kebodohan... mereka ini merupakan musuh-musuh. Dalam praktik Buddha Dhamma, jalan Sang Buddha, kita berjuang menggunakan Dhamma, menggunakan ketahanan kesabaran. Kita berjuang dengan melawan suasana hati kita yang tak terhitung banyaknya.

Dhamma dan dunia ini saling berhubungan. Di mana ada Dhamma di sana ada dunia, di mana ada dunia di sana ada Dhamma. Di mana ada kekotoran-batin di sana ada orang-orang yang menaklukkan kekotoran-batin, yang berjuang melawan kekotoran-kekotoran batin. Inilah yang disebut berjuang di dalam batin. Kalau berjuang secara fisik, orang-orang menggunakan bom dan senapan untuk melempar dan menembak; mereka menaklukkan dan ditaklukkan. Menaklukkan pihak lain adalah jalan duniawi. Di dalam pelaksanaan Dhamma, kita tidak perlu menaklukkan pihak lain, tapi sebaliknya menaklukkan pikiran kita sendiri, dengan sabar menahan serta melawan semua suasana-hati kita.

Ketika mempraktikkan Dhamma kita tidak menyimpan kemarahan dan kebencian, tetapi sebaliknya melepaskan semua bentuk itikad-jahat di dalam perbuatan dan pikiran kita, membebaskan diri kita dari keirihatian, ketidaksukaan dan kemarahan. Kebencian hanya dapat diatasi dengan tidak menyimpan kemarahan dan dendam.

Perbuatan-perbuatan yang menyakitkan dan pembalasan dendam adalah berbeda tetapi sangat berkaitan. Sekali perbuatan telah dilakukan, tidaklah perlu dibalas dengan dendam dan permusuhan. Itulah yang disebut 'perbuatan' (kamma). 'Pembalasan'(vera) berarti melanjutkan perbuatan itu dengan pikiran 'kamu melakukan hal ini terhadapku maka aku akan membalasnya padamu'. Jika begini tidak akan ada akhirnya. Ini menimbulkan pencarian kesempatan untuk selalu membalas dendam, sehingga kebencian tidak pernah dihapuskan. Selama kita bertindak rantai tetap tidak akan putus, tidak akan ada akhirnya. Ke manapun kita pergi, permusuhan tetap berlanjut.

Guru yang Maha Sempurna (Yaitu Sang Buddha) mengajar kepada dunia, beliau mengasihi semua makhluk. Meskipun demikian dunia tetap berjalan seperti itu. Yang bijaksana harus mempertimbangkan dan memilih hal-hal yang memiliki nilai yang benar. Sewaktu Sang Buddha sebagai pangeran, Beliau telah terlatih dalam berbagai seni berperang, tetapi Beliau menyadari bahwa hal-hal tersebut tidak benar-benar berguna, mereka terbatas hanya dunia dengan peperangan dan agresinya.

Oleh karena itu, dalam melatih diri seperti orang-orang yang telah meninggalkan kehidupan duniawi, kita harus belajar melepaskan semua bentuk kejahatan, melepaskan semua hal yang menyebabkan timbulnya permusuhan. Kita menaklukkan diri kita sendiri, kita tidak mencoba untuk menaklukkan pihak lain. Kita berperang, tetapi kita hanya memerangi kekotoran-batin: jika ada ketamakan, kita perangi dia; jika ada kebencian, kita perangi dia; jika ada kebodohan/khayalan, kita berjuang untuk melepaskannya. Inilah yang disebut 'Perjuangan Dhamma'. Peperangan batin ini sangatlah sulit, pada kenyataannya inilah yang tersulit di antara semuanya. Kita menjadi bhikkhu adalah untuk merenungkan hal ini, untuk mempelajari seni menaklukkan ketamakan, kebencian, dan kebodohan/khayalan. Inilah tanggung jawab utama kita.

Ini adalah peperangan di dalam diri, berperang dengan kekotoran-kekotoran batin. Tetapi sangat sedikit orang yang berperang seperti itu. Kebanyakan orang berperang dengan hal-hal lain, mereka jarang memerangi kekotoran-kekotoran-batin. Mereka bahkan jarang melihatnya.

Sang Buddha mengajarkan kita agar melepaskan semua bentuk kejahatan dan mengembangkan kebajikan. Inilah jalan yang benar. Mengajar dengan cara ini adalah bagaikan Sang Buddha mengambil kita dan meletakkan kita pada awal dari sang jalan. Setelah sampai pada sang jalan, terserah pada kita untuk menjalaninya atau tidak. Tugas Sang Buddha sudah berakhir di situ. Beliau menunjukkan sang Jalan, mana yang benar dan mana yang salah. Itu sudahlah cukup, selebihnya terserah pada kita.

Sekarang, setelah Menemui sang jalan, kita masih belum mengetahui apapun, kita masih belum melihat apapun, jadi kita harus belajar. Untuk belajar kita harus bersiap-siap mengalami berbagai kesulitan, sama seperti murid sekolah. Cukup susah untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang diperlukan untuk membangun karir mereka. Mereka harus bertahan. Jika mereka berpikir salah atau merasa enggan atau malas, mereka harus memaksa diri mereka sendiri agar bisa lulus dan mendapat pekerjaan. Begitu pula praktik bagi seorang bhikkhu. Jika kita memutuskan untuk praktik dan merenungkan, pastilah kita akan menemukan sang jalan.

Ditthimana merupakan hal yang membahayakan, Ditthi berarti 'pandangan' atau 'pendapat'. Semua bentuk pandangan disebut ditthi: melihat kebaikan sebagai kejahatan, melihat kejahatan sebagai kebaikan... bagaimanapun cara kita memandang sesuatu. Ini bukan persoalannya. Persoalannya adalah terletak pada kemelekatan terhadap pandangan-pandangan tersebut, yang disebut mana; berpegang pada pandangan-pandangan tersebut seolah-olah mereka merupakan kebenaran. Inilah yang menyebabkan kita berputar dari kelahiran menuju kematian, tidak pernah mencapai penyelesaian, hanya karena kemelekatan itu. Itulah sebabnya Sang Buddha mendorong kita untuk melepaskan berbagai pandangan.

Jika banyak orang hidup bersama, seperti kita di sini, mereka tetap dapat praktik dengan nyaman jika pandangan mereka selaras/harmoni. Tetapi walaupun hanya dua atau tiga orang bhikkhu, akan menghadapi kesulitan jika pandangan mereka tidak baik atau selaras. Bila kita merendah-hati dan melepaskan berbagai pandangan kita, biarpun kita berbanyak, kita datang bersama ke hadapan Sang Buddha, Dhamma, dan Sangha (Tiga Permata: Sang Buddha, Dhamma, Ajaran Beliau, serta Sangha, Golongan Viharawan, atau mereka yang telah memahami Dhamma.)

Adalah tidak tepat mengatakan bahwa akan ada perselisihan hanya karena ada banyak orang di antara kita. Lihatlah si kaki-seribu. Ia mempunyai banyak kaki, bukan? Dengan melihat padanya, kalian mungkin berpikir ia akan sulit berjalan, tetapi sesungguhnya tidak. Ia memiliki aturan dan iramanya sendiri. Begitu pula dalam praktik kita. Jika kita praktik sesuai dengan yang dipraktikkan oleh Sangha Mulia dari Sang Buddha, maka semuanya akan mudah. Mereka adalah, supatipanno —mereka yang praktik dengan baik; ujupatipanno —mereka yang praktik dengan lurus; ñayapatipanno —mereka yang praktik untuk mengatasi penderitaan, dan samicipatipanno —mereka yang praktik dengan semestinya. Empat sifat ini jika dikembangkan dalam diri kita akan menjadikan kita anggota Sangha yang sejati. Meskipun jumlah kita ratusan atau ribuan, tidak peduli berapapun jumlah kita, kita semua menempuh jalan yang sama. Kita berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, tetapi kita adalah sama. Meskipun pandangan kita mungkin berbeda-beda, jika kita praktik dengan benar maka tak akan terjadi perselisihan. Sama seperti semua sungai besar dan kecil yang mengalir ke laut... begitu mereka sampai ke laut, mereka akan mempunyai rasa dan warna yang sama. Begitu pula halnya dengan orang-orang. Bilamana mereka masuk ke dalam arus Dhamma, hanya ada satu Dhamma. Walaupun mereka berasal dari tempat yang berbeda, mereka selaras dan menyatu.

Tetapi pemikiran yang menyebabkan semua perselisihan dan pertentangan disebut ditthi-mana. Oleh karena itulah Sang Buddha mengajarkan kita supaya melepaskan berbagai bentuk pandangan. Jangan biarkan mana melekat pada berbagai pandangan yang berbeda di luar relevansinya.

Sang Buddha mengajarkan manfaat dari adanya sati —ingatan (Sati: Biasanya diterjemahkan penuh perhatian, tetapi ingatan merupakan terjemahan yang lebih tepat untuk kata-kata 'ra-leuk dai' dalam bahasa Thai) yang terus-menerus. Apakah kita sedang berdiri, berjalan, duduk, atau berbaring, di manapun kita berada, kita harus memiliki kekuatan ingatan ini. Jika kita mempunyai satikita bisa melihat diri kita sendiri, kita melihat batin kita sendiri. Kita melihat 'tubuh yang ada di dalam tubuh', 'batin yang ada di dalam batin'. Jika kita tidak mempunyai sati kita tidak mengetahui apapun, kita tidak menyadari apa yang sedang terjadi.

Jati sati sangatlah penting. Dengan adanya sati yang terus-menerus kita akan mendengarkan Dhamma Sang Buddha pada setiap saat. Ini adalah karena 'mata melihat bentuk-bentuk' adalah Dhamma; 'telinga mendengar suara' adalah Dhamma; 'hidung mencium aroma' adalah Dhamma; 'lidah mencicipi rasa' adalah Dhamma; 'tubuh merasakan sentuhan' adalah Dhamma; ketika kesan muncul dalam batin, itupun Dhamma. Oleh karena itu orang yang memiliki sati yang terus-menerus selalu mendengar ajaran Sang Buddha. Dhamma selalu ada di sana. Mengapa? Karena adanya sati, karena kita selalu sadar.

Sati adalah ingatan, sampajañña adalah kesadaran-diri. Kesadaran inilah Buddho yang sesungguhnya, Sang Buddha. Jika ada sati-sampajañña maka pemahaman akan mengikutinya. Kita tahu apa yang sedang terjadi. Ketika mata melihat bentuk-bentuk: apakah ini pantas atau tidak pantas? Ketika telinga mendengar suara: apakah ini tepat atau tidak tepat? Apakah membahayakan? Apakah salah, apakah benar? Begitulah seterusnya terhadap segala sesuatu. Jika kita mengerti maka kita mendengar Dhamma setiap saat.

Oleh karena itu marilah kita memahami bahwa saat ini juga kita sedang belajar di tengah-tengah Dhamma. Apakah kita berjalan maju ataupun mundur, kita bertemu dengan Dhamma —semuanya merupakan Dhamma jika kita mempunyai sati. Bahkan ketika melihat hewan-hewan yang berlarian di hutan, kita dapat merenungkan, melihat bahwa semua hewan sama seperti kita. Mereka menjauh dari penderitaan dan mengejar kebahagiaan, sama seperti yang dilakukan orang. Apapun yang tidak mereka sukai mereka hindari; mereka takut mati, sama juga seperti orang. Jika kita merenungkan hal ini, kita melihat bahwa semua makhluk di dunia, begitu pula manusia, memiliki kesamaan dalam berbagai naluri mereka. Berpikir seperti ini disebut 'bhavana' (Bhavana berarti 'pertumbuhan' atau 'perkembangan'; tetapi biasanya digunakan untuk menunjuk cittabhavana, pertumbuhan-batin, atau panna-bhavana, pertumbuhan kebijaksanaan atau perenungan.), melihat sesuai dengan kebenaran, bahwa semua makhluk adalah teman dalam kelahiran, usia-tua, sakit, dan kematian. Hewan sama dengan manusia dan manusia sama dengan hewan. Jika kita benar-benar melihat segala sesuatu sebagaimana mereka adanya, batin kita akan melepaskan kemelekatan pada segala sesuatunya.

Itulah sebabnya kita harus memiliki sati. Jika kita memiliki sati kita akan melihat keadaan batin kita. Apapun yang kita pikirkan atau rasakan kita pasti mengetahuinya. Penguasaan ini disebut Buddho, Sang Buddha, ia yang mengetahui... yang mengetahui secara menyeluruh, yang mengerti dengan jelas dan lengkap. Ketika batin mengetahui secara lengkap, kita mendapati praktik yang benar.

Jadi cara langsung untuk melakukan praktik adalah memiliki kesadaran, sati. Jika kalian tidak memiliki sati selama lima menit, kalian gila selama lima menit, lengah selama lima menit. Kapan saja kalian kekurangan sati, kalian menjadi gila. Sati sangat diperlukan. Memiliki sati berarti mengetahui diri sendiri, mengetahui kondisi batin dan kehidupan sendiri. Ini adalah memiliki pengertian dan ketajaman, untuk mendengarkan Dhamma pada setiap saat. Setelah meninggalkan ceramah sang guru, kalian tetap mendengar Dhamma, karena Dhamma berada di mana-mana.

Oleh karena itu, kalian semua, pastikan untuk praktik setiap hari. Apakah sedang malas ataupun rajin, praktiklah yang sama. Praktik Dhamma tidak dikerjakan dengan mengikuti selera atau suasana-hati kalian. Jika kalian praktik mengikuti selera, maka itu bukanlah Dhamma. Jangan bedakan antara siang dan malam, batin sedang tenang atau tidak... tapi praktiklah.

Semuanya seperti seorang anak yang sedang belajar menulis. Pertama tulisannya tidak bagus —besar, panjang dan bengkok-bengkok —ia menulis seperti layaknya anak-anak. Tak lama kemudian dengan latihan yang terus-menerus, tulisannya menjadi lebih baik. Praktik Dhamma juga seperti itu. Pada awalnya kalian canggung... kadang tenang, kadang tidak, kalian tidak mengerti apanya apa. Sebagian orang menjadi kecil hati. Jangan patah semangat! Kalian harus tetap praktik. Hiduplah dengan usaha, seperti anak sekolah: dengan bertambahnya usia ia menulis lebih baik. Dari menulis jelek ia belajar menulis rapi, semuanya karena latihan sejak masa kanak-kanak.

Praktik kita pun seperti ini. Usahakan untuk memiliki kesadaran setiap saat: saat berdiri, berjalan, duduk, atau berbaring. Jika kita melakukan semua kewajiban kita dengan lancar dan baik, kita merasa damai. Jika ada kedamaian dalam pekerjaan kita, kita akan mudah untuk mendapatkan kedamaian dalam meditasi, karena mereka berjalan beriringan. Karena itu kerahkanlah usaha. Anda semua harus berjuang untuk mengikuti praktik. Inilah yang disebut dengan latihan.

(www.Kalyanadhammo.net)

Bab 2. Memahami Vinaya



Praktek kita ini tidaklah mudah. Kita mungkin mengetahui banyak hal, tetapi masih banyak hal lagi yang tidak kita ketahui. Misalnya, ketika kita mendengar ajaran seperti "ketahuilah jasmani, lalu ketahuilah jasmani dalam jasmani itu"; atau "ketahuilah batin, lalu ketahuilah batin dalam batin itu". Jika kita belum mempraktekkan hal-hal ini, ketika kita mendengar perkataan tersebut kita bisa bingung. Begitu pula dengan vinaya ("Vinaya" adalah istilah umum yang diberikan untuk tata tertib kebhikkhuan, aturan kehidupan viharawan. Secara harfiah "vinaya" berarti "mengantarkan keluar", karena pelaksanaan terhadap aturan ini "mengantarkan keluar dari" perbuatan yang tidak baik, dan diperluas menjadi keadaan-keadaan pikiran yang tidak baik. Sebagai tambahan, ia dapat dikatakan "mengantarkan keluar dari" kehidupan berumah-tangga, dan diperluas menjadi keterikatan terhadap dunia ini). Dahulu saya adalah seorang guru (Ini menunjukkan masa awal dari kebhikkhuan Yang Mulia Achan Chah, sebelum beliau praktek dengan tekun), tetapi hanya sebagai "guru kecil", bukan seorang guru besar. Mengapa saya katakan seorang "guru kecil"? Karena saya tidak praktek. Saya mengajar tentang vinaya tapi saya tidak melaksanakan hal itu. Ini saya sebut guru kecil, guru yang kurang bermutu. Saya katakan "guru yang kurang bermutu" karena ketika sampai pada praktek, saya kurang. Sebagian besar praktek saya sangatlah jauh dari teori, bagaikan saya belum mempelajari vinaya sama sekali.

Bagaimanapun, saya ingin menegaskan bahwa dengan pengucapan-pengucapan saja, tidaklah mungkin untuk mengetahuivinaya secara lengkap, karena beberapa hal, apakah kita mengetahui atau tidak, tetaplah merupakan pelanggaran/kesalahan. Ini memang rumit. Namun ditekankan bahwa jika kita belum memahami aturan latihan atau ajaran tertentu, kita harus mempelajari peraturan tersebut dengan penuh semangat dan penuh hormat. Jika kita tidak tahu, kita harus berusaha untuk belajar. Jika kita tidak berusaha, dengan sendirinya itu merupakan suatu pelanggaran/kesalahan.

Misalnya, jika kalian ragu-ragu... seandainya di sana ada seorang wanita dan tanpa mengetahui apakah ia seorang wanita atau pria, kalian menyentuhnya (Pelanggaran sanghadisesa kedua, yang berkaitan dengan menyentuh wanita dengan penuh nafsu.). Kalian tidak yakin, tetapi tetap menyentuh... itu tetap salah. Dahulu saya heran mengapa itu salah, tetapi ketika saya merenungkan prakteknya, saya menyadari bahwa seorang pemeditasi harus memiliki sati, ia harus sangat berhati-hati. Apakah ketika berbicara, menyentuh, atau memegang sesuatu, pertama-tama ia harus mempertimbangkan dengan cermat. Dalam hal/kasus ini kesalahannya adalah pada tiadanya sati, atau kurangnya perhatian pada saat itu.

Ambil contoh lain, misalnya saat itu pukul sebelas siang tetapi langit berawan sehingga kita tidak bisa melihat matahari, dan kita tidak mempunyai jam. Sekarang seandainya kita memperkirakan saat itu telah lewat tengah hari... kita merasa yakin bahwa saat itu sudah lewat tengah hari... tapi kita tetap akan makan. Kita mulai makan dan kemudian awan berlalu dan kita melihat dari posisi matahari, saat itu baru lewat sebelas siang. Ini tetap merupakan pelanggaran (Menunjuk pelanggaran pacittiya No. 36, memakan makanan di luar waktu yang diizinkan —fajar sampai tengah hari.) Dahulu saya heran, "Eh? Belum lewat tengah hari, mengapa merupakan pelanggaran?"

Di sini suatu kesalahan terjadi karena adanya kelalaian, kecerobohan, kita tidak cermat mempertimbangkannya. Ada kekurangan pengendalian diri. Jika ada keraguan dan kita bertindak atas keraguan itu, maka terjadilah pelanggaran dukkata(Dukkata —pelanggaran-pelanggaran karena "perbuatan salah", sekelompok pelanggaran yang paling ringan dalam vinaya yang banyak jumlahnya, parajika —pelanggaran-pelanggaran karena dikalahkan, sejumlah empat, merupakan yang terberat, termasuk dikeluarkan dari Bhikkhu Sangha.) karena bertindak atas dasar keraguan. Kita mengira telah lewat tengah hari yang pada kenyataannya belum. Tindakan makan itu sendiri tidak salah, tetapi ada pelanggaran di sini karena kita ceroboh dan lalai. Jika sudah lewat tengah hari tetapi kita mengira belum, maka terjadi pelanggaran pacittiya yang lebih berat. Jika kita bertindak dengan keraguan, apakah perbuatan itu salah atau tidak, kita tetap melakukan pelanggaran. Jika perbuatan itu sendiri tidak salah maka pelanggarannya lebih sedikit; jika salah maka pelanggaran yang lebih berat sudah kita lakukan. Oleh karena itu vinaya bisa menjadi cukup membingungkan.

Pada suatu ketika saya mengunjungi Achan Mun (Yang Mulia Achan Mun Bhuridatto, merupakan Guru Meditasi yang sangat terkenal dan dihormati dari tradisi hutan di Thailand. Beliau mempunyai banyak murid yang sudah menjadi guru, di antaranya Achan Chah. Yang Mulia Achan Mun wafat pada tahun 1949). Saat itu saya baru mulai berlatih/praktek. Saya sudah membacaPubbasikkha (Pubbasikkha Vannana —"Latihan Dasar" —Penjelasan tentang Dhamma-Vinaya dalam bahasa Thai yang berdasarkan pada Penjelasan-penjelasan dari bahasa Pali; Visuddhi Magga —"Jalan Kesucian" —penjelasan yang mendalam tentang Dhamma-Vinaya oleh Achariya Buddhaghosa.) dan cukup bisa memahaminya. Kemudian saya melanjutkan dengan membaca Visudhi Magga, di mana sang penulis itu menulis tentang Silanidesa (Bagian tentang Peraturan-peraturan/sila),Samadhinidesa (Bagian tentang Pelatihan-Batin/samadhi) dan Paññanidesa (Bagian tentang Kebijaksanaan/paññâ) ...saya merasa kepala saya mau pecah! (Setelah membaca buku itu, saya merasa bahwa semua itu berada di luar kemampuan manusia untuk mempraktekkannya. Tapi kemudian saya merenungkan bahwa Sang Buddha tidak akan mengajarkan sesuatu yang tidak bisa dipraktekkan. Beliau tidak akan mengajarkan dan membabarkannya, karena semua itu tidak akan bermanfaat, baik bagi Beliau sendiri maupun pihak lain. Silanidesa benar-benar sangat teliti, Samadhinidesa lebih dari itu, dan Paññanidesa bahkan jauh lebih dari itu! Saya duduk dan berpikir, "Tampaknya saya tak bisa melanjutkan. Tak ada jalan untuk maju". Sepertinya saya sudah sampai pada jalan buntu.

Saat itu saya tengah berjuang dengan praktek saya... dan saya macet. Begitulah, sampai saya mempunyai kesempatan untuk menemui yang Mulia Achan Mun dan bertanya: "Yang Mulia Achan, apa yang harus saya lakukan? Saya baru saja mulai praktek tetapi saya tetap belum mengetahui cara yang benar. Saya mempunyai begitu banyak keraguan dan saya tak dapat menemukan landasan sama sekali dalam praktek saya". Beliau bertanya, "Apakah persoalannya?"

"Pada saat berlatih, saya mengambil Visuddhi Magga dan membacanya, tetapi tampaknya itu mustahil untuk dipraktekkan. Isi dari Silanidesa, Samadhinidesa, dan Paññanidesa tampaknya sangat tidak praktis. saya pikir tidak seorang pun di dunia ini yang bisa melaksanakannya, bagian-bagian tersebut begitu mendetail dan cermat. Tak mungkin untuk mengingat setiap urutannya, itu berada di luar kemampuan saya".

Beliau lalu berkata kepada saya, "Yang Mulia... memang banyak, itu benar, tetapi sesungguhnya itu hanyalah sedikit. Jika kita harus mencatat setiap aturan dalam Silanidesa itu memang sulit... benar... Tetapi sesungguhnya, apa yang kita sebutSilanidesa adalah berkembang dari batin manusia. Jika kita melatih batin ini untuk memiliki rasa malu dan takut untuk berbuat salah, maka kemudian kita akan terkendali, kita akan berhati-hati...".

"Ini akan mengkondisikan kita untuk merasa puas dengan yang sedikit, dengan sedikit keinginan, karena kita tidak mungkin untuk mencari yang banyak. Bila ini terjadi maka sati kita menjadi lebih kuat. Kita bisa memiliki sati setiap saat. Dimanapun kita berada, kita akan berusaha untuk memiliki sati yang cermat. Kewaspadaan akan berkembang. Apapun yang kamu rasa ragu, jangan katakan tentang itu, jangan bertindak atas keraguan. Jika ada sesuatu yang tidak kamu pahami, tanyakanlah kepada guru. Berusaha untuk mempraktekkan setiap aturan tentu akan sangat memberatkan, tetapi kita harus menguji apakah kita siap untuk mengakui kesalahan-kesalahan kita atau tidak".

Ajaran ini sangat penting. Tidaklah begitu banyak yang harus kita ketahui dari setiap aturan, jika kita mengetahui bagaimana melatih batin kita.

"Semua bahan yang sudah kamu baca muncul dari dalam batin. Jika kamu tetap belum melatih batin untuk memiliki kepekaan dan kejelasan maka akan selalu ragu-ragu. Kamu harus berusaha mengingat ajaran-ajaran Sang Buddha. Milikilah batin yang tenang. Apapun yang muncul yang kamu ragukan, tinggalkanlah itu. Jika kamu benar-benar tidak tahu, janganlah katakan atau lakukan itu. Misalnya jika kamu bingung "Ini salah atau tidak?" —Berarti kamu tidak yakin —maka jangan katakan, jangan bertindak atas dasar itu, jangan tinggalkan pengendalian dirimu".

Ketika saya duduk dan mendengarkan, saya merenungkan bahwa ajaran ini sesuai dengan delapan cara untuk menilai kebenaran ajaran Sang Buddha: Ajaran apapun yang membahas tentang pengikisan kekotoran-batin; yang mengantarkan keluar dari penderitaan; yang membahas tentang pelepasan (dari kesenangan-kesenangan inderawi); tentang kepuasan terhadap yang sedikit; tentang kerendahan hati dan tidak mementingkan kedudukan dan status; tentang pengasingan-diri dan penyepian; tentang usaha yang gigih; tentang mudah dirawat... delapan kualitas ini merupakan ciri dari Dhamma-Vinaya, ajaran Sang Buddha yang sejati. Apapun yang bertolak belakang dengan semua itu bukanlah ajaran Sang Buddha.

"Jika kita benar-benar tulus kita akan mempunyai rasa malu dan takut terhadap perbuatan salah. Kita akan tahu jika terdapat keraguan di dalam batin kita, kita tak akan bertindak atau berbicara atas dasar itu. Silanidesa hanyalah kata-kata. Misalnya, hiri-ottappa (Hiri —rasa malu, Ottappa —takut akan perbuatan salah. Hiri dan Ottappa merupakan keadaan batin yang positif yang menjadi dasar bagi suara hati yang murni serta keutuhan sila. Mereka muncul berdasarkan pada rasa hormat untuk diri sendiri dan pihak lain.) di dalam buku adalah satu hal, tetapi di dalam batin kita adalah hal lain".

Saya memperoleh banyak hal dari mempelajari vinaya kepada Yang Mulia Achan Mun. Ketika saya duduk dan mendengarkan, pemahaman muncul.

Jadi, tentang vinaya saya sudah mempelajarinya. Beberapa hari selama pengasingan diri dalam Masa Vassa saya, belajar dari pukul enam petang sampai fajar keesokan hari. Saya cukup memahaminya. Semua faktor apatti (Apatti: istilah untuk pelanggaran dari berbagai kelompok bagi para bhikkhu.) yang tercakup di dalam Pubbasikkha saya catat dalam buku dan simpan dalam tas saya. Saya sungguh-sungguh mengerahkan usaha terhadap hal itu, tetapi selanjutnya secara bertahap saya lepaskan. Itu terlalu banyak. Saya tidak mengetahui mana intisari dan mana perlengkapannya, saya ambil semuanya. Ketika saya memahami lebih sempurna, saya lepaskan itu, karena itu terlalu berat. Saya hanya mengarahkan perhatian pada batin dan secara bertahap melepaskan naskah-naskah.

Akan tetapi, saat mengajar para bhikkhu di sini saya tetap memakai Pubbasikkha sebagai standar saya. Selama bertahun-tahun di sini di Wat Ba Pong, hanya saya sendiri yang membacakannya pada kumpulan bhikkhu saat pertemuan. Pada waktu itu saya akan menempati kursi-Dhamma dan terus membacakannya paling tidak sampai pukul sebelas atau tengah malam, beberapa hari bahkan sampai pukul satu atau dua dini hari. Kami sangat berminat. Dan kami berlatih. Setelah mendengarkan pembacaanvinaya kami akan pergi dan merenungkan apa yang sudah kami dengar. Kalian tidak bisa memahami vinaya hanya dengan mendengarkan saja. Setelah mendengarkan kalian harus menguji serta menyelidikinya lebih lanjut.

Walaupun saya sudah mempelajarinya selama bertahun-tahun, pengetahuan saya tetap belum sempurna, karena begitu banyak kedwiartian dalam naskah-naskah itu. Sekarang setelah lewat begitu lama dari saat saya mempelajari dari buku-buku, ingatan saya pada berbagai aturan latihan sudah agak berkurang, tetapi tak ada kekurangan dalam batin saya. Ada suatu standar di sana. Tidak ada keraguan, tapi terdapat pemahaman di sana. Saya singkirkan buku-buku itu dan memusatkan perhatian pada pengembangan batin. Saya tidak mempunyai keraguan terhadap aturan latihan (sila) yang manapun. Batin menghargai kebajikan sila, batin tak berani melakukan kesalahan, baik di depan umum maupun secara pribadi. Saya tidak membunuh binatang, bahkan yang kecil sekalipun. Seandainya seseorang, misalnya meminta saya agar sengaja membunuh seekor semut atau rayap, atau melumatnya dengan tangan saya, saya tidak dapat melakukannya, biarpun seandainya mereka akan memberikan banyak uang untuk itu. Hanya seekor semut atau rayap! Bagi saya, kehidupan semut itu lebih berharga daripada uang-uang itu.

Akan tetapi, mungkin saya bisa menyebabkan kematiannya, seperti misalnya sesuatu merayap di kaki saya dan saya mengibaskannya. Mungkin ia mati, tetapi ketika saya melihat ke dalam batin tidak ada rasa bersalah di sini. Tidak ada kegoyahan atau keragu-raguan di sini. mengapa? Karena di sana tidak ada kehendak. Silam vadami bhikkhave cetanaham: "Kehendak adalah intisari dari latihan sila". Dengan pertimbangan itu saya melihat tidak ada kehendak untuk membunuh. Suatu saat ketika sedang berjalan saya mungkin menginjak serangga dan ia terbunuh. Pada masa lalu, sebelum saya betul-betul memahami, saya akan bersedih menghadapi kejadian seperti itu. Saya akan berpikir bahwa saya sudah melakukan pelanggaran. "Mengapa? Tidak ada kehendak di sana". "Tidak ada kehendak di sana, tetapi saya kurang berhati-hati!" Saya akan terus gundah dan gelisah.

Jadi vinaya ini merupakan sesuatu yang bisa mengganggu para pelaksana Dhamma, tetapi ia juga mempunyai nilai tersendiri, berkaitan dengan apa yang dikatakan oleh para guru —"Apapun aturan latihan yang belum kamu ketahui harus kamu pelajari. Jika kamu tidak tahu maka kamu harus menanyakannya kepada yang tahu". Mereka sangat menekankan hal ini.

Sekarang jika kita tidak mengetahui aturan latihan, kita tidak akan menyadari pelanggaran yang sudah kita lakukan. Sebagai contoh misalnya, seorang Thera pada masa lampau, Achan Pow dari Wat Kow Wong Got di Propinsi Lopburi. Pada suatu hari seorang Maha (Maha: gelar yang diberikan kepada para bhikkhu yang sudah menyelesaikan pendidikan bahasa Pali sampai dengan tahun ke-empat atau lebih.), murid beliau, duduk bersamanya, ketika sekelompok wanita datang dan bertanya, "Luang Por! Kami ingin mengajak Anda berpiknik bersama kami, maukah Anda ikut?"

Luang por Pow tidak menjawab. Si Maha yang duduk di dekat beliau menduga bahwa Yang Mulia Achan Pow tidak mendengar, sehingga ia berkata,

"Luang Por, Luang Por! Apakah Anda dengar? Kelompok wanita ini mengundang Anda untuk pergi berpiknik". Beliau menjawab, "Saya dengar". Para wanita itu bertanya lagi,

"Luang Por, Anda mau ikut atau tidak?"

Beliau tetap duduk di sana tanpa menjawab, sehingga tak terjadi apapun dari undangan ini. Ketika mereka pergi, Mahaberkata,

"Luang Por, mengapa Anda tidak menjawab wanita-wanita itu?"

Beliau berkata, "Oh Maha, tidakkah kamu mengetahui aturan ini? Mereka yang tadi datang kemari adalah kaum wanita. Jika kaum wanita mengajakmu pergi janganlah kamu setujui. Jika mereka berunding sendiri di antara mereka, itu baik. Jika saya mau pergi, saya bisa, karena saya tidak mengambil bagian dalam perundingan itu".

Si Maha duduk dan berpikir, "Oh, saya telah bertindak bodoh".

Vinaya menyebutkan bahwa membuat perundingan dan pergi bersama dengan kaum wanita, walaupun tidak hanya berdua, merupakan pelanggaran pacittiya.

Kita ambil kasus lain lagi. Umat awam akan mempersembahkan uang di atas baki kepada Y.M. Achan Pow. Beliau akan mengulurkan kain penerima (Sehelai "kain penerima" merupakan kain yang dipakai oleh para bhikkhu Thai untuk menerima sesuatu dari kaum wanita, dari siapa mereka tidak menerima sesuatu secara langsung. Yang Mulia Achan Pow menarik tangan beliau dari kain penerima, menunjukkan bahwa beliau sesungguhnya tidak menerima uang itu.), dan memegangnya di satu ujung. Tetapi ketika mereka memindahkan dari baki ke kain, beliau akan menarik tangannya dari kain itu. Selanjutnya beliau akan meninggalkan uang itu di tempatnya. Beliau tahu ia di situ, tetapi beliau tidak peduli, hanya bangun dan pergi, karena di dalamvinaya dikatakan bahwa jika seseorang tidak menerima uang tidaklah perlu melarang umat awam untuk mempersembahkannya. Jika ia memiliki keinginan terhadapnya, ia harus memberitahu mereka. Jika kamu memiliki keinginan terhadapnya, kamu harus melarang mereka mempersembahkan sesuatu yang tidak diizinkan. Akan tetapi, seandainya kamu sama sekali tidak mempunyai keinginan terhadapnya (uang itu), hal itu tidak perlu dikatakan. Cukup kamu meninggalkannya di sana dan pergi.

Walaupun Achan Pow dan para murid beliau hidup bersama selama bertahun-tahun, beberapa murid beliau tetap tidak memahami praktek Achan Pow. Ini sungguh keadaan yang menyedihkan. Untuk saya sendiri, saya menyelidiki dan memperhatikan berbagai pokok praktek yang lebih halus dari Yang Mulia Achan Pow.

Vinaya bahkan bisa menyebabkan beberapa orang lepas jubah. Ketika mereka mempelajarinya, semua keragu-raguan muncul. Ia segera melihat masa lalunya... "Penahbisan saya, apakah sudah tepat (Ada aturan yang tepat dan rinci berkenaan dengan prosedur penahbisan yang jika tidak diikuti bisa menyebabkan penahbisan itu cacat.)? Apakah guru penahbis saya bersih? Tak seorang pun bhikkhu yang menghadiri penahbisanku mengetahui seluk-beluk vinaya, apakah mereka duduk pada jarak yang benar? Apakah pembacaan parittanya sudah betul?" Keraguan ini terus bergulir... "Tempat di mana saya ditahbiskan, apakah sudah tepat? Tempat itu begitu kecil..." Mereka meragukan segala sesuatu dan akhirnya jatuh ke dalam neraka.

Jadi sampai kalian mengetahui bagaimana cara menjangkarkan batin kalian, itu benar-benar sulit. Kalian harus sangat tenang, kalian tidak boleh hanya menyela. Tetapi menjadi sangat tenang sehingga kalian sama sekali tidak peduli, juga salah. Saya begitu bingung sehingga hampir lepas jubah karena saya melihat banyak kesalahan dalam praktek saya serta beberapa dari guru saya. Saya gelisah dan tak bisa tidur karena berbagai keraguan.

Semakin banyak saya ragu, semakin banyak saya bermeditasi, semakin banyak saya praktek. Dimana pun keraguan muncul, tepat di sana pula saya praktek. Kebijaksanaan timbul. Keadaan mulai berubah. Sungguh sulit untuk menjabarkan perubahan yang terjadi ini. Batin berubah sampai tidak terdapat keraguan lagi. Saya tidak tahu bagaimana ia berubah, seandainya saya harus mengatakannya kepada seseorang, mereka mungkin tidak bisa memahaminya.

Jadi saya merenungkan ajaran paccattam veditabbo viññuhi —yang bijaksana harus mengetahui untuk dirinya sendiri. Itu haruslah menjadi pengetahuan yang muncul melalui pengalaman langsung. Mempelajari Dhamma-Vinaya tentunya betul, tetapi jika hanya belajar, itu masih ada yang kurang. Jika kalian langsung praktek, kalian mulai meragukan segala sesuatu. Sebelum saya mulai praktek saya tidak tertarik pada pelanggaran kecil, tetapi ketika saya mulai praktek, bahkan berbagai pelanggaran dukkatamenjadi sepenting pelanggaran parajika. Pada awalnya, pelanggaran dukkata tampak sepele, hanya sesuatu yang tidak berarti.

Begitulah saya menilai mereka. Mungkin di petang hari kalian dapat mengakui kesalahan tersebut dan itu bisa dilakukan. Dan kemudian kalian bisa melanggar lagi. Pengakuan semacam ini tidaklah tulus, karena kalian tidak menghentikannya, kalian tidak memutuskan untuk berubah. Tidak ada pengendalian diri, kalian harus melakukannya lagi. Tidak ada pemahaman terhadap kebenaran, tidak ada pelepasan.

Sebenarnya, menurut kebenaran sejati, tidaklah perlu menjalankan kebiasaan rutin berupa pengakuan kesalahan/pelanggaran. Jika kita melihat batin kita bersih dan tidak ada tanda keraguan, maka pelanggaran itu gugur tepat di situ. Bahwa kita belum bersih adalah karena kita masih ragu, kita masih goyah. Kita belum sepenuhnya bersih sehingga kita tidak dapat melepaskannya. Kita tidak melihat diri kita sendiri, itulah permasalahannya. Vinaya kita bagaikan pagar untuk menjaga kita dari melakukan kesalahan, jadi itu merupakan sesuatu yang kita perlukan agar kita menjadi teliti dan hati-hati.

Jika kalian tidak melihat nilai sejati dari vinaya bagi diri sendiri, maka itu akan sangat sulit. Bertahun-tahun sebelum saya datang ke Wat Ba Pong saya memutuskan untuk tidak terikat pada uang. Saya sudah memikirkannya selama dalam pengasingan diri selama Masa Vassa. Akhirnya saya ambil dompet saya dan menemui seorang Maha yang saat itu berdiam bersama saya, meletakkan dompet itu di hadapannya.

"Maha, ambillah uang ini. Mulai saat ini dan seterusnya, selama saya masih menjadi seorang bhikkhu, saya tak akan menerima atau menyimpan uang. Anda dapat menjadi saksi saya".

"Simpanlah Yang Mulia, mungkin Anda memerlukannya untuk keperluan belajar" ...Si Maha tidak tertarik untuk mengambil uang itu, ia merasa dipersulit... "Mengapa Anda ingin membuang semua uang ini?"

"Anda tidak perlu mencemaskan saya. saya sudah mengambil keputusan. Saya putuskan tadi malam".

Sejak saat ia menerima uang itu tampaknya terdapat jurang di antara kami, kami tak dapat saling memahami lagi. Ia tetap menjadi saksi saya sampai hari ini. Sejak hari itu saya tidak menggunakan uang atau terlibat dalam jual beli. Saya telah mengendalikan diri terhadap uang dalam berbagai segi. Saya selalu waspada terhadap perbuatan salah, walaupun saya tidak melakukan kesalahan apapun. Saya mempertahankan latihan meditasi di dalam batin. Saya sudah tidak memerlukan kekayaan, saya memandangnya sebagai racun. Apakah kalian memberikan racun pada manusia, anjing atau yang lainnya, tanpa kecuali itu menyebabkan kematian atau penderitaan. Jika kita melihat dengan jelas seperti ini kita akan selalu menjaga diri untuk tidak mengambil "racun" itu. Jika kita jelas melihat bahayanya, tidaklah sulit untuk melepaskannya.

Mengenai masakan dan makanan yang dibawa sebagai persembahan/dana, jika saya meragukannya saya tak akan menerimanya. Tidak peduli betapa lezat atau nikmatnya masakan itu, saya tak akan memakannya. Ambil contoh sederhana, seperti asinan ikan mentah. Seandainya kalian hidup di hutan dan kalian pergi berpindapata dan hanya mendapatkan nasi dan sedikit asinan ikan yang dibungkus daun. Ketika kalian kembali ke kuti, membuka bungkusan itu dan kalian dapati bahwa itu adalah asinan ikan mentah... maka buanglah itu (Vinaya melarang para bhikkhu untuk makan daging atau ikan mentah.)! Memakan nasi putih lebih baik daripada melanggar aturan. Semuanya haruslah seperti ini sebelum kalian dapat mengatakan bahwa kalian benar-benar telah paham, maka kemudian vinaya menjadi lebih sederhana.

Jika bhikkhu-bhikkhu lain ingin memberikan kebutuhan-kebutuhan kepada saya seperti mangkuk, alat pencukur atau yang lainnya, saya tak akan menerimanya, kecuali saya mengetahui bahwa mereka merupakan teman praktek dengan standar vinayayang sama. Mengapa tidak? bagaimana kalian bisa mempercayai seseorang yang tidak mengendalikan diri? Mereka bisa melakukan hal-hal apa saja. Para bhikkhu yang tiak mengendalikan diri tidak melihat nilai vinaya, jadi mungkin saja mereka mendapatkan barang-barang tersebut dengan cara yang tidak pantas. Saya benar-benar mencermati hal itu.

Sebagai akibatnya, beberapa teman bhikkhu saya tidak setuju pada saya... "Ia tak mau bergaul, ia tidak mau membaur..." Saya tidak goyah, saya pikir: "Pasti, kita akan berbaur ketika kita telah mati". Saya berpikir, "bilamana telah mati, kita semua berada dalam kapal yang sama". Saya hidup dengan kesabaran. Saya adalah orang yang sedikit bicara. Jika pihak lain mengkritik praktek saya, saya tidak goyah. Mengapa? Karena biarpun saya menjelaskannya kepada mereka, mereka tak akan mengerti. Mereka tak mengerti apa-apa tentang praktek. Seperti waktu itu ketika saya akan diundang untuk upacara pemakaman dan seseorang berkata, "...jangan dengarkan dia! Masukkan saja uang itu ke dalam tasnya dan jangan katakan apapun tentang hal itu.. jangan biarkan ia tahu (Walaupun merupakan pelanggaran bagi para bhikkhu untuk menerima uang, banyak juga yang melakukannya. Beberapa bhikkhu mau menerimanya walaupun tampaknya tidak, inilah mungkin yang menyebabkan umat awam menilai penolakan yang Mulia Achan untuk menerima uang, dengan berpikir bahwa beliau sesungguhnya mau menerima jika mereka tidak terang-terangan menyerahkan pada beliau, tetapi menyelipkannya dalam tas beliau.)". Saya katakan, "Hei, kamu pikir saya ini mati atau sejenisnya? Tahukah kalian, hanya karena orang menyebut alkohol sebagai wewangian, tidak akan menjadikannya sebagai wewangian. Tetapi, ketika kalian ingin minum alkohol kalian menyebutnya wewangian, maju terus dan meminumnya. Kalian pasti sudah gila!"

Karena itu vinaya bisa menjadi sulit. Kalian harus puas dengan yang sedikit, menyendiri. Kalian harus melihat, dan melihat dengan benar. Suatu kali, ketika saya pergi melewati Saraburi, kelompok saya tinggal di vihara desa beberapa saat. Ketua vihara di sana kira-kira setua saya. Di pagi hari, kami semua pergi berpindapata bersama, kemudian kembali ke vihara dan meletakkan mangkuk kami. Kemudian umat-umat akan membawa berpiring-piring masakan ke dalam ruang makan dan meletakkannya. Selanjutnya para bhikkhu akan pergi dan mengambilnya, membuka dan meletakkannya dalam satu garis untuk diserahkan secara resmi. Satu bhikkhu akan meletakkan jarinya di atas piring pada satu sisi, dan seorang umat memegang piring di sisi yang lain. begitulah! Dengan demikian cara itu para bhikkhu akan membawa makanan-makanan itu dan membagikannya untuk dimakan.

Kira-kira lima orang bhikkhu yang ikut pergi bersama saya saat itu, tetapi tidak seorang pun dari kami yang mau menyentuh masakan itu. pada pindapata, semua yang kami terima adalah nasi putih, jadi kita duduk bersama mereka dan memakan nasi putih, tidak seorang pun dari kami yang berani makan masakan dari piring-piring itu.

Ini terjadi selama beberapa hari, sampai saya menyadari bahwa sang ketua vihara merasa terganggu dengan perilaku kami. Mungkin salah seorang bhikkhu di sana melaporkan, "Bhikkhu-bhikkhu tamu ini tidak mau memakan masakan manapun. Saya tidak tahu apa maunya mereka".

Saya harus tinggal di sana untuk beberapa hari lagi, maka saya menemui sang ketua vihara untuk menjelaskan. Saya berkata, "Yang Mulia, bisakah saya mengganggu sebentar? Saat ini saya ada sedikit urusan yang mana saya harus meminta kesediaan Anda untuk menerima kami beberapa hari lagi, tetapi saya kuatir ada satu atau dua hal yang membuat Anda dan murid-murid Anda bingung, yaitu berkenaan dengan kami tidak memakan masakan yang diberikan oleh umat. Saya ingin menjelaskan hal ini kepada Anda. Sungguh tidak ada apa-apa, hanya saja saya sudah belajar untuk praktek seperti ini... yaitu, cara menerima dana/pemberian makanan. Ketika umat meletakkan masakan dan seterusnya para bhikkhu pergi dan membuka piring-piring itu, memilih mereka dan kemudian diserahkan secara resmi... ini salah. Ini pelanggaran dukkata. Terutama mengurus dan memegang masakan yang secara resmi belum diserahkan ke dalam tangan para bhikkhu, "merusak" masakan tadi. Menurut vinaya, bhikkhu yang makan masakan itu melakukan suatu pelanggaran.

"Hanya karena itu, kawan. Saya tidak mengkritik siapapun, atau saya berusaha memaksa Anda dan para bhikkhu untuk berhenti berbuat begitu... sama sekali tidak. Saya hanya ingin mengutarakan maksud baik saya, karena saya perlu tinggal di sini untuk beberapa hari lagi".

Ia merangkapkan tangannya ber-anjali (Anjali —cara tradisional untuk memberi salam atau menunjukkan rasa hormat, seperti salam bahasa India "Namaste" atau "Wai" dalam bahasa Thai. Sadhu —"Itu baik" —adalah cara untuk menunjukkan penghargaan, atau persetujuan.), "Sadhu! Hebat! Saya belum pernah menjumpai seorang bhikkhu yang memegang peraturan-peraturan kecil di Saraburi. Sulit menemukan yang seperti ini di masa ini. Jika ada yang seperti itu, mereka pasti hidup di luar Saraburi. Saya menghargai Anda. Saya sama sekali tidak berkeberatan, itu sangat baik".

Keesokan paginya ketika kami kembali pada pindapata, tak seorang bhikkhu pun mendekati piring-piring itu. Umat sendiri yang memilih dan menyerahkan makanan-makanan tersebut, karena mereka takut para bhikkhu tak mau memakannya. Sejak saat itu para bhikkhu dan samanera di sana tampak sangat cemas, maka saya berusaha untuk menjelaskannya pada mereka, untuk menentramkan batin mereka. Saya pikir mereka takut pada kami, mereka masuk ke dalam kamar dan mengunci diri dalam bebisuan.

Saya mengambil Sang Buddha sebagai teladan saya. Ke mana pun saya pergi, apapun yang dilakukan orang lain, saya tak akan melibatkan diri. Saya hanya tekun melaksanakan praktek, karena saya peduli pada diri saya sendiri, saya peduli pada praktek.

Mereka yang tidak menjalankan vinaya atau berlatih meditasi, tidak dapat hidup bersama dengan mereka yang berlatih, mereka pasti mengambil jalan yang terpisah.

Oleh karena itu, kalian yang ingin pergi dan membangun pusat-pusat meditasi di hutan... jangan lakukan itu. Jika kalian belum benar-benar mengerti, jangan bersusah-susah mencoba, kalian hanya akan membuatnya menjadi kacau. Sebagian bhikkhu mengira bahwa dengan hidup di hutan mereka akan menemukan kedamaian, tetapi mereka tetap belum memahami hal-hal pokok tentang meditasi. Mereka memotong rumput sendiri (Pelanggaran lainnya pada peraturan tata-tertib, pelanggaran pacittiya.), melakukan semuanya sendiri... Mereka yang sudah memahami praktek tidak berminat pada tempat-tempat seperti itu, mereka tak akan sejahtera. Bertindak seperti itu tidak akan membawa kemajuan. Tidak peduli betapa damainya hutan itu kalian tidak akan mendapat kemajuan jika kalian mengerjakannya secara salah.

Mereka melihat para bhikkhu-hutan hidup di hutan dan mereka pergi ke hutan untuk hidup seperti mereka, tetapi itu tidaklah sama. Jubah-jubah tidak sama, kebiasaan-kebiasaan makan tidak sama, semua berbeda. Yakni, mereka tidak mengendalikan diri mereka, mereka tidak praktek/berlatih. Tempat menjadi sia-sia, ia tidak mengenai sasaran. Jika ia memenuhi sasaran, hanyalah sebatas satu tempat untuk pamer atau publikasi, sama seperti pertunjukan penjual obat. Tidak lebih dari itu. Mereka yang berlatih hanya sejenak dan selanjutnya pergi mengajar orang lain sesungguhnya belum matang, mereka belum sepenuhnya mengerti. Mereka segera akan menyerah dan semuanya berantakan. Hal itu hanya menimbulkan persoalan.

Jadi agaknya kita harus belajar, lihat Navakovada (Vavakovada —sebuah ringkasan sederhana tentang dasar-dasar Dhamma-Vinaya.), apa yang dikatakannya? Pelajari, ingat, sampai kalian memahaminya. Setiap waktu tanyakanlah kepada guru kalian berkenaan dengan pokok-pokok yang lebih dalam, beliau akan menjelaskannya. Belajarlah seperti itu sampai kalian benar-benar memahami vinaya.

Bab 3. Tegakkan Norma



Hari ini kita bertemu kembali seperti yang kita lakukan setiap tahun setelah ujian Dhamma (Banyak bhikkhu mengikuti ujian tertulis terhadap pengetahuan tentang kitab suci mereka, yang kadang kala —seperti dinyatakan Achan Chah —mengganggu penerapan mereka terhadap berbagai ajaran dalam kehidupan sehari-hari.) tahunan. Kali ini kalian harus merenungkan pentingnya menjalankan berbagai kewajiban terhadap vihara, terhadap pembimbing dan para guru. Hal-hal ini yang menjadikan kita bersama sebagai satu kelompok, yang memungkinkan kita hidup dalam keharmonisan dan kedamaian. Hal-hal ini pula yang menuntun kita untuk saling menghormati, yang pada gilirannya memberikan manfaat kepada masyarakat.

Dalam semua masyarakat, sejak zaman Sang Buddha sampai saat ini, tidak peduli bentuk apapun yang mereka pilih, jika penghuninya tidak mempunyai rasa saling menghormati, mereka tak akan berhasil. Apakah masyarakat awam atau masyarakat viharawan, jika mereka tidak saling menghormati maka mereka tidak memiliki solidaritas. Jika tidak ada saling menghormati, timbul kelalaian dan akhirnya praktek memburuk.

Kelompok pelaksana Dhamma kita sudah tinggal di sini sekitar dua puluh lima tahun, berkembang mantap, tetapi ini bisa merosot. Kita harus menyadari hal ini. Tetapi jika kita semua penuh perhatian, mempunyai rasa saling menghormati dan terus menegakkan norma praktek, saya rasa keharmonisan kita akan kokoh. Praktek kita sebagai satu kelompok akan menjadi sumber perkembangan agama Buddha di masa yang akan datang.

Sekarang mengenai belajar dan berlatih/praktek, mereka merupakan pasangan. Agama Buddha telah tumbuh dan berkembang sampai saat ini karena belajar dan berlatih berjalan seiring. Jika kita mempelajari kitab suci dengan tanpa perhatian maka kelalaian akan muncul... Sebagai contoh, pada tahun pertama di sini kami memiliki tujuh orang bhikkhu yang menjalani Masa Vassa. Saat itu saya berpikir, "Setiap kali para bhikkhu belajar untuk Ujian Dhamma, tampaknya praktek mulai menurun". Menimbang hal ini, saya berusaha mencari penyebabnya, maka saya mulai mengajar para bhikkhu yang berdiam di sana selama Masa Vassa —yaitu mereka bertujuh. Saya mengajar kira-kira selama empat puluh hari, setiap hari mulai sehabis makan sampai dengan pukul enam petang. Para bhikkhu mengikuti ujian dan berhasil baik, ketujuhnya lulus.

Sejauh itu memang bagus, tetapi ada kesulitan tertentu untuk mereka yang kurang berhati-hati. Belajar memerlukan banyak membaca dan mengulang. Mereka yang kurang terkendali dan kurang siap cenderung lalai dengan latihan meditasi dan menghabiskan seluruh waktu mereka untuk belajar, mengulang, dan menghafal. Ini menyebabkan mereka melupakan kebiasaan lama, norma praktek mereka. Dan ini sering terjadi.

Begitulah ketika mereka sudah selesai belajar dan mengikuti ujian, saya melihat perubahan dalam prilaku mereka. Tidak ada meditasi jalan, hanya sedikit meditasi duduk, dan peningkatan di dalam pergaulan. Kurang ada mengendalikan diri dan ketenangan.

Sesungguhnya, dalam praktek kita, ketika kalian melakukan meditasi jalan, kalian harus benar-benar memutuskan untuk berjalan; ketika duduk bermeditasi, kalian harus memusatkan hanya melakukan hal itu. Apakah kalian sedang berdiri, berjalan, duduk, atau berbaring, kalian harus berjuang supaya tenang. Tetapi ketika orang banyak belajar, pikiran mereka penuh dengan kata-kata, mereka mabuk pada buku dan melupakan diri sendiri. Mereka tersesat pada keadaan-keadaan luar. Semua itu hanya bagi mereka yang tidak mempunyai kebijaksanaan, yang tidak terkendali dan tidak mempunyai sati yang kuat. Bagi orang-orang seperti itu belajar bisa menjadi sebab kehancuran. Ketika orang seperti itu sedang belajar mereka tidak melakukan meditasi duduk atau jalan serta menjadi semakin lalai. Batin mereka menjadi lebih kacau. Mengobrol tanpa tujuan, kurang pengendalian diri, serta bermasyarakat menjadi kegiatan sehari-hari. Inilah sebab kehancuran praktek kita. Bukan karena belajar itu sendiri, tetapi karena orang-orang tersebut tidak berusaha, mereka melupakan diri sendiri.

Sebenarnya kitab suci merupakan petunjuk jalan untuk praktek. Jika kita sudah mengerti tentang praktek, selanjutnya membaca atau belajar merupakan segi selanjutnya dari meditasi. Tetapi jika belajar dan melupakan diri sendiri hal itu menimbulkan banyak percakapan dan kegiatan yang tak bermanfaat. Mereka meninggalkan praktek meditasi dan segera ingin lepas jubah. Banyak di antara mereka yang belajar dan gagal lalu segera lepas jubah. Bukan berarti belajar itu tidak baik, atau prakteknya tidak benar. Itu karena mereka gagal untuk menguji diri sendiri.

Melihat hal ini, pada Masa Vassa yang kedua saya berhenti mengajarkan kitab suci. Beberapa tahun kemudian lebih banyak pemuda yang menjadi bhikkhu. Beberapa di antara mereka sama sekali tidak mengerti tentang Dhamma-Vinaya dan meremehkan naskah-naskah, sehingga saya memutuskan untuk memperbaiki keadaan dengan meminta para bhikkhu senior yang sudah belajar untuk mengajar, dan mereka sudah mengajar sampai saat ini. Inilah sebabnya kita menjadi memiliki kelas belajar di sini.

Bagaimanapun, setiap tahun setelah ujian berakhir, saya meminta semua bhikkhu untuk membangun kembali latihan mereka. Semua bagian kitab suci yang tidak berhubungan langsung dengan praktek, simpanlah di dalam almari. Kembangkan kembali diri sendiri, kembali pada norma semula. Bangun kembali latihan bersama seperti bersama-sama dalam chanting (pembacaan paritta) harian. Inilah norma kita. Lakukanlah itu meskipun hanya untuk mengusir kemalasan dan keenggananmu. Ini menumbuhkan ketekunan.

Jangan tinggalkan praktek dasar kalian: sedikit makan, sedikit bicara, sedikit tidur; terkendali dan tenang/sabar; menyendiri; meditasi berjalan dan duduk yang teratur; secara teratur bertemu pada saat yang tepat. Setiap orang dari kalian, berusahalah untuk itu. Jangan biarkan kesempatan baik ini terbuang. Berlatihlah. Kalian memiliki kesempatan untuk berlatih di sini karena kalian hidup di bawah bimbingan guru. Ia melindungi kalian dalam batas tertentu, jadi kalian harus mencurahkan diri untuk berlatih. Sebelumnya kalian sudah melakukan meditasi berjalan, sekarang kalian juga harus duduk. Pada waktu itu kalian sudah membaca paritta bersama pada pagi dan petang hari, sekarang kalian juga harus berusaha. Inilah tugas-tugas khusus kalian, curahkanlah tenaga untuk itu.

Ketahuilah bahwa mereka yang sekedar "membunuh waktu" di dalam jubah tidak mempunyai kekuatan apapun. Mereka yang gelisah, rindu rumah, bingung... apakah anda melihat mereka? Mereka inilah yang tidak memusatkan batin pada latihan. Mereka tidak mempunyai pekerjaan untuk dilakukan. Kita tidak bisa hanya berbaring di sini. Sebagai seorang bhikkhu atau samanera, hidup kalian terjamin, janganlah kalian menganggapnya memang mesti begitu. Kamasukhallikanuyogo (Menuruti kesenangan indera, menuruti kegemaran.) adalah suatu bahaya. Berusahalah untuk menemukan latihanmu sendiri. Tingkatkanlah latihanmu, secara bertahap doronglah dirimu sendiri. Apapun yang salah, perbaikilah, janganlah tersesat dengan keadaan-keadaan luar.

Mereka yang bersemangat tak akan melewatkan meditasi berjalan dan duduk, tak pernah berhenti menjaga pengendalian diri dan ketenangan/kesabaran.

Cobalah perhatikan para bhikkhu di sini. Siapa saja, setelah selesai makan atau pekerjaan lain, setelah meletakkan jubah, berjalan bermeditasi —dan ketika kita melewati kuti (Kuti —tempat tinggal seorang bhikkhu, sebuah gubuk.) nya kita melihat jejak pada jalur jalan, dan kita sering melihatnya —bhikkhu ini tidak jemu berlatih. Inilah orang yang memiliki usaha dan yang memiliki semangat.

Jika kalian mencurahkan perhatian pada praktek seperti ini maka tak akan timbul banyak persoalan. Jika kalian tidak berlatih, meditasi berjalan dan duduk, itu adalah tidak lebih dari sekedar berjalan-jalan. Tidak senang di sini kalian ke sana; tidak senang di sana kalian kembali ke sini. Kalian hanya berjalan terus ke mana saja.

Orang-orang seperti ini tak akan bertahan, ini tidak baik. Kalian tidak perlu terlalu banyak berkeliling, tinggallah di sini dan kembangkan latihan, pelajarilah dengan seksama. Pergi berkeliling bisa dilakukan kelak, itu tidak sulit. Kalian semua, kerahkanlah usaha.

Keberhasilan dan kehancuran bergantung pada hal ini. Jika kalian benar-benar ingin melakukan dengan benar, maka belajar dan prakteklah secara berimbang; gunakanlah keduanya bersama-sama. Ia bagaikan batin dan jasmani. Jika batin tenang serta jasmani bebas dari penyakit dan sehat, selanjutnya batin menjadi tenang. Jika batin kacau, biarpun jasmani kuat akan muncul kesulitan, apalagi bila jasmani mengalami gangguan.

Belajar meditasi adalah belajar mengembangkan dan melepaskan. Yang saya maksudkan dengan belajar di sini adalah: bilamana batin merasakan suatu sentuhan, apakah kita masih melekat padanya? Apakah kita masih menciptakan persoalan di sekitar itu? Apakah kita masih merasakan kesenangan atau keengganan terhadapnya? Secara sederhana: apakah kita masih tersesat dalam pikiran kita? Ya, masih. Jika kita tidak menyukai sesuatu kita bereaksi dengan keengganan; jika kita suka kita bereaksi dengan kegembiraan, batin menjadi kotor dan ternoda. Jika begitu kasusnya maka kita harus melihat bahwa kita masih mempunyai kesalahan, kita belum sempurna, masih ada yang harus kita kerjakan. Lebih banyak yang harus dilepaskan serta lebih gigih mengembangkan batin. Inilah yang saya maksud dengan belajar. Jika kita melekat pada sesuatu, kita mengenali bahwa kita melekat. Kita mengetahui keadaan kita, dan kita berusaha memperbaiki diri.

Hidup secara bersama atau terpisah dari guru haruslah sama. Sebagian orang merasa takut. Mereka takut guru akan mencela atau memarahinya jika mereka tidak melakukan meditasi jalan. Pada satu sisi ini baik, tetapi dalam praktek sebenarnya kalian tidak perlu takut pada orang lain, hanya waspadailah kesalahan yang timbul di dalam perbuatan, ucapan atau pikiran sendiri, kalian harus menjaga diri sendiri. Attano jodayattanam —"kalian harus menasehati diri kalian sendiri", jangan minta orang lain untuk melakukannya. Kita harus secepatnya meningkatkan diri, mengenal diri sendiri. Inilah yang disebut "belajar", mengembangkan dan melepaskan. Perhatikan hal ini sampai kalian memahaminya dengan jelas.

Hidup dengan cara ini berarti kita bersandar pada kesabaran, keteguhan dalam menghadapi semua kekotoran-batin. Meskipun ini bagus, ini tetap berada pada tingkat "mempraktekkan Dhamma sebelum melihatnya". Jika kita sudah mempraktekkan Dhamma serta sudah melihatnya, maka kita akan sudah menghindari apapun yang salah, apapun yang bermanfaat akan telah kita kembangkan. Melihat itu dalam diri sendiri, kita merasakan kesejahteraan. Tidak peduli apa yang dikatakan orang lain, kita mengenali batin kita, kita tidak goyah. Kita merasa damai di manapun.

Sekarang para bhikkhu dan samanera yang baru mulai berlatih mungkin berpikir bahwa Acjhan senior tampaknya tidak banyak melakukan meditasi jalan dan duduk. Dalam hal ini jangan meniru beliau. Kalian harus berusaha melebihi, bukannya meniru. Berusaha untuk melewati adalah satu hal, meniru merupakan hal lain. Kenyataannya, Achan senior itu berdiam dalam kediaman khususnya sendiri yang membahagiakan. Walaupun tampaknya beliau tidak berlatih, tetapi di dalam batin beliau berlatih. Apapun yang ada di dalam batin beliau tak bisa dilihat dengan mata. Praktek agama Buddha adalah praktek batin. Walaupun praktek itu tidak jelas kelihatan dalam perbuatan atau ucapan, batin merupakan hal yang lain.

Jadi seorang guru yang sudah berlatih dalam waktu lama, yang cakap dalam praktek, tampaknya seperti mengacuhkan perbuatan dan ucapannya, tetapi beliau menjaga batinnya. Beliau tenang. Hanya dengan melihat perbuatan luarnya saja kalian boleh berusaha meniru beliau, melepaskan dan mengatakan apa yang ingin dikatakan, tetapi semuanya tidak sama. Kalian tidak berada dalam tingkatan yang sama. Camkan hal ini.

Ada perbedaan yang nyata, kalian bertindak dari tempat yang berbeda. Walaupun Achan tampaknya hanya duduk santai, beliau sama sekali tidak sembrono. Beliau hidup bersama berbagai barang tetapi tidak bingung oleh barang-barang tersebut. Kita tidak bisa melihat itu, apapun yang ada dalam batin beliau tidak dapat kita lihat. Janganlah hanya menilai dari penampilan saja, batin sesungguhnya yang terpenting. Ketika kita berbicara, pikiran kita mengikuti pembicaraan itu. Perbuatan apapun yang kita lakukan, pikiran kita mengikuti, tetapi orang yang sudah berlatih bisa melakukan atau mengatakan sesuatu yang tidak diikuti pikirannya, karena ia menyatu dengan Dhamma dan Vinaya. Misalnya, suatu saat Achan mungkin keras pada muridnya, ucapannya tampak kasar dan sembrono, perbuatannya tampak kasar. Melihat hal itu, semua yang bisa kita lihat adalah perbuatan jasmani dan ucapannya, tetap batin yang menyatu dengan Dhamma dan Vinaya tidak bisa dilihat. Taat pada instruksi Sang Buddha: "Janganlah lengah". "Kewaspadaan adalah jalan menuju ketanpa-matian. Kelalaian adalah jalan menuju kematian". Camkanlah hal ini. Apapun yang dilakukan orang lain tidaklah penting, janganlah lengah, inilah yang terpenting.

Semua yang sudah saya katakan di sini hanyalah untuk mengingatkan kalian bahwa sekarang, setelah menyelesaikan ujian, kalian mempunyai kesempatan untuk pergi berkeliling dan melakukan banyak hal. Semoga kalian selalu ingat bahwa kalian adalah pelaksana Dhamma; seorang pelaksana harus tenang, terkendali dan sangat berhati-hati.

Mempertimbangkan ajaran yang mengatakan "Bhikkhu adalah orang yang mencari sedekah". Jika kita mendefinisikannya dalam cara seperti ini latihan kita... ini sangat kasar. Jika kita memahami kata ini sesuai dengan yang Sang Buddha definisikan, sebagai "orang yang melihat bahayanya Samsara (Samsara —lingkaran kelahiran yang berkondisi, dunia khayalan.)", ini lebih baik lagi.

Orang yang melihat bahayanya samsara adalah orang yang melihat kesalahan-kesalahan dan kekurangan dunia ini. Di dunia ini ada begitu banyak bahaya, tetapi kebanyakan orang tidak melihatnya, mereka melihat kenikmatan dan kesenangan dunia ini. Sekarang Sang Buddha mengatakan bahwa seorang bhikkhu adalah orang yang melihat bahayanya samsara. Apakah samsaraitu? Penderitaan dari samsara sangatlah besar, sangatlah berat. Kesenangan adalah juga samsara.

Sang Buddha mengajar kita agar tidak melekat pada mereka. Jika kita tidak melihat bahayanya samsara, maka ketika timbul kesenangan kita melekat pada kesenangan dan melupakan penderitaan. Kita mengabaikannya, seperti seorang anak kecil yang tidak mengenal api.

Jika kita memahami praktek Dhamma dalam cara begini... "Bhikkhu: orang yang melihat bahayanya samsara" ...jika kita mempunyai pengertian ini, ajaran ini dengan kuat mengilhami keberadaan kita, apakah kita sedang berdiri, berjalan, duduk atau berbaring, ke manapun kita, kita akan merasa tenang. Kita merenungkan diri sendiri, kewaspadaan ada di sana. Bahkan ketika duduk santai, kita merasakannya dalam cara itu. Apapun yang kita kerjakan, kita melihat bahaya ini, jadi kita berada dalam keadaan yang sangat berbeda. Praktek ini disebut "orang yang melihat bahayanya samsara".

Seseorang yang melihat bahayanya samsara, hidup di dalam samsara dan juga tidak. Artinya, ia mengerti konsep-konsep dan ia mengerti kelebihan mereka. Apapun yang dikatakan oleh orang seperti itu tidaklah sama dengan orang kebanyakan. Apapun yang dikerjakannya juga tidak sama, apapun yang dipikirkannya juga tidak sama. Kelakuannya jauh lebih bijaksana.

Oleh karena itu dikatakan: "Berusahalah untuk melebihi tetapi jangan meniru". Ada dua jalan —melebihi dan meniru. Orang yang dungu akan mengambil segala sesuatu. Kalian jangan lakukan itu! Jangan lupakan dirimu sendiri.

Untuk saya, tahun ini badan saya kurang sehat. Beberapa hal akan saya limpahkan kepada bhikkhu-bhikkhu dan samanera-samanera lainnya untuk membantu mengerjakannya. Mungkin saya akan beristirahat. Sejak dahulu kala selalu begitu, demikian pula di dunia: selama ayah dan ibu masih hidup, anak-anak sehat dan sejahtera. Ketika orang tua telah meninggal, anak-anak terpisah. Dari kaya mereka menjadi miskin. Begitulah pada umumnya yang terjadi dalam kehidupan awam, dan orangpun bisa melihatnya di sini. Misalnya, ketika Achan (guru) masih hidup, semuanya baik dan sejahtera. Begitu beliau wafat, kehancuran segera terjadi. Mengapa begini? Karena ketika sang guru masih hidup orang merasa puas diri dan melupakan diri sendiri. Mereka tidak berusaha untuk belajar dan berlatih. Seperti dalam kehidupan awam, ketika ibu dan ayah masih hidup, anak-anak menyerahkan semuanya pada mereka. Mereka bersandar pada orang tua dan tidak tahu bagaimana cara menjaga diri mereka sendiri. Ketika orang tua meninggal mereka jadi miskin. Begitu pula dalam kebhikkhuan. Jika Achan pergi atau wafat, para bhikkhu cenderung bergaul bebas, terpisah dalam kelompok serta hanyut dalam kemunduran, hampir begitu setiap saat.

Mengapa demikian? Karena mereka melupakan diri sendiri. Dengan hidup dari kebaikan sang guru semua berjalan lancar. Ketika sang guru wafat, para siswa cenderung bercerai-berai. Pandangan mereka berbenturan. Mereka yang berpikir keliru hidup di satu tempat, mereka yang berpikir benar hidup di tempat lain. Mereka yang merasa tidak nyaman, meninggalkan teman lamanya serta mendirikan tempat baru dan memulai garis baru dengan kelompok murid mereka sendiri. Begitulah semua terjadi. Saat inipun demikian. Semua itu karena kita salah. Ketika sang guru masih hidup kita bersalah, kita hidup ceroboh. Kita tidak mempelajari norma-norma praktek yang diajarkan oleh guru serta mengembangkannya di dalam batin kita. Kita tidak bersungguh-sungguh mengikuti jejak beliau.

Bahkan pada zaman Sang Buddha pun begitu, ingat kitab suci? Bhikkhu tua itu, siapa namanya... ya, Bhikkhu Subhadda! Ketika Yang Ariya Maha Kassapa kembali dari Pava, dalam perjalanan beliau menanyai seorang pertapa, "Apakah Sang Buddha baik-baik saja?" Si pertapa menjawab, "Sang Buddha telah memasuki Parinibbana tujuh hari yang lalu".

Para bhikkhu yang belum mencapai kesucian sangatlah berduka, menangis dan meratap. Mereka yang sudah menembus Dhamma merenungkan pada diri mereka sendiri, "Ah, Sang Buddha telah wafat. Beliau telah pergi". Tetapi mereka yang masih dipenuhi kekotoran, seperti Bhikkhu Subhadda berkata:

"Untuk apa kalian menangis? Sang Buddha telah wafat. Itu bagus! Sekarang kita bisa hidup santai. Ketika Sang Buddha masih hidup Beliau selalu mengganggu kita dengan aturan-aturan atau yang lainnya, kita tidak dapat melakukan ini atau mengatakan itu. Sekarang Sang Buddha telah wafat, itu baik! Kita bisa melakukan apa saja yang kita inginkan, mengatakan apa yang kita mau... Untuk apa kalian menangis?"

Keadaannya selalu begitu sejak dahulu sampai saat ini.

Akan tetapi, walaupun tidak mungkin untuk melindungi secara keseluruhan... Seperti misalnya kita mempunyai satu gelas dan kita merawatnya dengan baik. Setiap kali kita memakainya kita bersihkan dan menyimpannya di tempat yang aman. Dengan berhati-hati terhadap gelas itu kita bisa menggunakannya untuk waktu yang lama, dan ketika kita sudah selesai memakainya orang lain juga dapat memakainya. Sekarang, menggunakan gelas dengan ceroboh dan memecahkannya setiap hari, serta memakai satu gelas selama sepuluh tahun sebelum ia rusak, manakah yang lebih baik?

Praktek kitapun seperti itu. Sebagai contoh, jika dari semua yang hidup di sini, berlatih terus-menerus, hanya sepuluh yang berlatih dengan baik, maka Wat Ba Pong akan sejahtera. Seperti di desa-desa, dalam satu desa dengan seratus rumah, andaikan hanya ada lima puluh saja orang yang baik maka desa itu akan sejahtera. Sesungguhnya untuk mencari sepuluh saja cukup sulit. Atau ambil satu vihara seperti ini di sini: sangatlah sulit untuk menemukan lima atau enam orang bhikkhu yang benar-benar bertanggung jawab, yang benar-benar melaksanakan latihan/praktek.

Bagaimanapun juga, sekarang kita tidak mempunyai tanggung jawab apapun, selain daripada untuk berlatih sebaik mungkin. Pikirkanlah itu, apakah yang kita miliki di sini? Kita tidak memiliki harta, kekayaan, dan keluarga lagi. Makanpun kita hanya sekali sehari. Kita sudah melepaskan banyak hal, bahkan yang lebih baik dari semua itu. Sebagai bhikkhu dan samanera kita melepaskan segala sesuatu. Kita tidak memiliki apapun. Hal-hal yang digemari orang sudah kita buang. Pergi menjadi bhikkhu adalah dalam rangka praktek. Mengapa kemudian kita mengharapkan hal-hal lain, menuruti ketamakan, kemalasan atau khayalan? Mengisi batin kita dengan hal-hal lain adalah sudah tidak pantas lagi.

Pikirkan: mengapa kita menjadi pertapa? Mengapa kita berlatih? Kita menjadi pertapa untuk berlatih. Jika kita tidak berlatih maka kita hanya bermalas-malasan. Jika kita tidak berlatih, maka kita lebih buruk daripada umat awam, kita tidak mempunyai fungsi apapun. Jika kita tidak melakukan pekerjaan apapun atau menerima tanggung-jawab kita, itu merupakan kesia-siaan dari kehidupan samana (Samana: seorang pencari kebenaran yang meninggalkan kehidupan duniawi. Berasal dari istilah Sansekerta untuk "seseorang yang berjuang", kata itu manunjukkan seseorang yang sudah berjanji menjalankan latihan keagamaan.). Itu bertentangan dengan tujuan seorang samana.

Jika demikian kasusnya maka berarti kita lalai. Lalai itu bagaikan mati. Tanyalah dirimu sendiri, apakah kamu punya waktu untuk berlatih ketika kamu mati? Teruslah tanyakan pada dirimu, "Kapan aku akan mati?" Jika kita merenungkan dalam cara ini, batin kita akan waspada setiap saat, kewaspadaan akan selalu hadir. Jika waspada, ada sati, maka ingatan terhadap "apa adalah apa" dengan sendirinya akan mengikuti. Kebijaksanaan akan jernih, melihat dengan jelas segala sesuatu sebagaimana adanya. Ingatan menjaga sang batin, mengenali munculnya semua perasaan pada setiap saat, siang dan malam. Itulah arti dari memilikisati. Memiliki sati berarti tenang. Tenang berarti waspada. Jika seseorang waspada maka ia berlatih dengan benar. Inilah tanggung jawab khusus kita.

Jadi hari ini saya ingin menyampaikan hal ini pada kalian. Jika kelak kalian meninggalkan tempat ini ke salah satu vihara cabang atau ke manapun, jangan lupakan diri kalian sendiri. Kenyataannya kalian masih belum sempurna, masih belum selesai. Kalian masih mempunyai banyak pekerjaan yang harus dilakukan, banyak tanggung jawab yang harus dipikul, yaitu praktek untuk mengembangkan dan melepaskan. Masing-masing dari kalian, harap perhatikan benar hal ini. Apakah kalian hidup di sini atau di vihara cabang, pertahankan norma-norma latihan ini. Sekarang ini jumlah kita banyak, banyak pula vihara-vihara cabang. Semua vihara cabang ini mengakui Wat Ba Pong sebagai asal mereka. Bisa kita katakan bahwa Wat Ba Pong adalah "orang tua", guru, contoh bagi semua vihara cabang. Jadi, terutama para guru, bhikkhu dan samanera dari Wat Ba Pong, haruslah berusaha untuk memberi contoh, menjadi panduan bagi semua vihara cabang lainnya, teruslah untuk tekun dalam praktek dan tanggung jawab sebagai seorang samana.

(www.kalyanadhammo.net)

Bab 4. Latihan Yang Benar Latihan Yang Mantap



Di Wat Wana Potiyahn (Salah satu cabang utama Vihara Achan Chah, Wat Ba Pong) ini sangatlah tenang, tetapi ini tidak akan berarti jika batin kita tidak tenang. Semua tempat sesungguhnya tenang. Bahwa beberapa tempat tampak kacau itu adalah karena batin kita yang kacau. Bagaimanapun, tempat yang sepi bisa membantu untuk menjadi tenang, dengan memberi orang kesempatan untuk berlatih sehingga menjadi harmonis dengan ketenangannya.

Kalian semua harus mengingat bahwa latihan ini sulit. Berlatih hal-hal yang lain tidaklah begitu sulit, bahkan mudah, tetapi batin manusia sangat sulit untuk dilatih. Sang Buddha melatih batin Beliau. Batin merupakan hal yang penting. Segala sesuatu yang ada dalam susunan batin-jasmani menjadi satu pada pikiran. Mata, telinga, hidung, lidah, dan tubuh, semuanya menerima sentuhan dan mengirimkannya ke dalam batin, yang merupakan pengawas dari semua alat indera. Oleh karena itu sangatlah penting untuk melatih batin. Jika batin terlatih dengan baik semua persoalan akan berakhir. Jika masih ada persoalan berarti batin masih ragu, ia tidak mengetahui sesuai dengan kebenaran. Itulah sebabnya mengapa timbul persoalan-persoalan.

Jadi sadarilah bahwa kalian semua sudah siap sepenuhnya untuk berlatih Dhamma. Apakah dengan berdiri, berjalan, duduk, atau berbaring, alat-alat yang kalian perlukan untuk berlatih sudah tersedia, di manapun kalian berada. Mereka ada di sana, sama seperti Dhamma. Dhamma merupakan sesuatu yang berlimpah ruah di mana saja. Di sini, di daratan atau di dalam air... di mana saja... Dhamma selalu ada di sana. Dhamma itu sempurna dan lengkap, tetapi latihan kitalah yang belum lengkap.

Sang Buddha yang Tercerahkan dengan Sempurna mengajarkan satu cara yang dengannya kita semua dapat berlatih dan mengenali Dhamma. Ia bukan sesuatu yang besar, hanyalah sesuatu yang kecil, tetapi benar. Misalnya, lihatlah rambut. Jika kita mengenali hanya sehelai rambut, maka kita mengetahui setiap helai, baik milik kita maupun orang lain. Kita mengerti mereka hanya sekedar "rambut". hanya dengan mengenali sehelai rambut kita mengetahui semuanya.

Atau lihatlah manusia. Jika kita melihat kondisi-kondisi alamiah/sebenarnya di dalam diri kita sendiri maka kita juga akan mengerti semua orang lainnya di dunia ini, karena semua orang adalah sama. Begitu pula Dhamma. Ia merupakan sesuatu yang kecil tetapi juga besar. Jadi untuk melihat kebenaran satu kondisi haruslah melihat kebenaran dari mereka semuanya. Bilamana kita mengetahui kebenaran sebagai apa adanya, semua persoalan akan berakhir.

Meskipun begitu, latihannya cukup sulit. Mengapa hal itu sulit? Ia menjadi sulit karena keinginan, tanha. Jika kalian tidak "menginginkan" maka kalian tidak akan berlatih. Tetapi jika kalian berlatih atas dasar nafsu-keinginan maka kalian tidak akan melihat Dhamma. Ingatlah hal itu. Jika kalian tidak ingin berlatih maka kalian tidak bisa praktek. Pertama kalian harus ingin berlatih agar benar-benar melaksanakan praktek. Apakah melangkah maju atau melangkah mundur kalian menemukan nafsu. Inilah sebabnya para pelaksana di masa lalu mengatakan bahwa praktek ini merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk dikerjakan.

Kalian tidak melihat Dhamma karena adanya nafsu-keinginan. Kadang kala nafsu ini sangat kuat, kalian ingin segera melihat Dhamma, tetapi Dhamma bukanlah batin kalian —batin kalian belum menjadi Dhamma. Dhamma merupakan satu hal dan batin adalah hal yang lainnya. Bukanlah berarti apa yang kalian sukai adalah Dhamma dan apa yang tidak kalian sukai bukan Dhamma. Bukan begitu rumusannya.

Sesungguhnya batin kita hanyalah satu keadaan dari Alam, seperti sebuah pohon di hutan. Jika kalian menginginkan papan atau balok ia harus dihasilkan dari pohon, tetapi pohon itu tetap saja pohon. Ia belum menjadi balok atau papan. Sebelum ia dapat dimanfaatkan, kita harus menebang pohon serta menggergajinya menjadi balok atau papan. Ia merupakan pohon yang sama tetapi berubah menjadi sesuatu yang lain. Pada hakikatnya ia hanyalah sebatang pohon, satu keadaan dari Alam. Tetapi dalam keadaan mentahnya ia tidaklah banyak bermanfaat bagi mereka yang memerlukan kayu. Batin kita adalah seperti keadaan itu. Ia merupakan satu keadaan Alam. Seperti ia merasakan buah pikiran, ia membedakannya ke dalam indah, jelek, dan sebagainya.

Batin kita ini harus dilatih lebih lanjut. Kita tidak bisa membiarkannya begitu saja. Ia merupakan satu keadaan dari Alam... latihlah untuk menyadari bahwa ia merupakan satu keadaan dari Alam. Naikkan pada Alam sehingga ia cocok dengan kebutuhan kita, yaitu Dhamma. Dhamma merupakan sesuatu yang harus dipraktekkan dan dihasilkan.

Jika kalian tidak berlatih kalian tak akan mengetahuinya. Terus terang kalian tidak akan memahami Dhamma dengan cara membaca atau mempelajarinya. Atau jika kalian mengetahuinya pengetahuan kalian masih tetap kurang. Misalnya, tempolong ini. Setiap orang tahu bahwa ini tempolong tetapi mereka tidak sepenuhnya mengetahui tempolong. Mengapa mereka tidak sepenuhnya mengetahuinya. Jika saya menyebut tempolong ini sebagai panci-gagang, apa yang kalian katakan? Seandainya setiap kali saya memerlukannya saya berkata, "tolong ambilkan panci-gagang itu kemari", hal itu akan membingungkan kalian. Mengapa begitu? Karena kalian belum sepenuhnya mengetahui tentang tempolong. Jika kalian mengetahuinya maka tak akan ada persoalan. Kalian hanya akan mengambil barang itu dan memberikannya kepada saya, karena sesungguhnya tidaklah ada tempolong. Apakah kalian paham? Ia menjadi tempolong karena kebiasaan. Kebiasaan ini diterima di seluruh negeri, jadi ia merupakan sebuah tempolong. Tetapi sesungguhnya tidak ada "tempolong" sejati. Jika seseorang ingin menyebutnya panci-gagang ia bisa menjadi panci-gagang. Ia bisa menjadi apa saja yang kalian sebutkan. Ini disebut "konsep". Jika kita sepenuhnya mengerti tentang tempolong, bahkan jika seseorang menyebutnya panci-gagang tak akan ada persoalan apapun. Apapun sebutan orang terhadapnya kita tidak ragu karena kita tidak buta terhadap keadaan sebenarnya. Inilah orang yang mengerti Dhamma.

Sekarang marilah kita kembali pada diri kita sendiri. Seandainya seseorang berkata, "Kamu gila!" atau "Kamu bodoh", misalnya. Meskipun hal itu tidak benar, kalian akan merasa tidak enak. Segala sesuatu menjadi sulit karena ambisi kita untuk memiliki dan mencapai. Karena nafsu-nafsu untuk memperoleh dan manjadi ini, karena kita tidak mengetahui sesuai dengan kebenaran maka kita tidak mempunyai kepuasan. Jika kita mengerti Dhamma, memahami Dhamma, keserakahan, kebencian, dan khayalan akan lenyap. Jika kita memahami benda-benda sebagaimana mereka adanya maka tiada lagi sandaran bagi mereka.

Mengapa praktek ini begitu sulit dan sukar? Karena nafsu-keinginan. Begitu kita duduk untuk bermeditasi kita ingin tenang. Jika kita tidak ingin mencari ketenangan kita tidak akan duduk, kita tidak akan berlatih. Begitu kita duduk kita ingin ketenangan langsung ada di sana, tetapi menginginkan batin menjadi tenang malah membuat kita bingung dan kita merasa resah. Begitulah prosesnya. Jadi Sang Buddha bersabda, "Janganlah berbicara dikarenakan oleh nafsu, janganlah duduk karena nafsu, janganlah berjalan karena nafsu... Apapun yang kalian kerjakan; janganlah melakukannya dengan nafsu. Nafsu berarti menginginkan. Jika kalian tidak ingin melakukan sesuatu kalian tidak akan mengerjakannya. Jadi praktek kita sampai pada titik ini kita bisa agak patah semangat. Bagaimana kita bisa berlatih? Begitu kita duduk ada nafsu di batin.

Karena hal inilah jasmani dan batin sulit untuk diamati. Jika mereka bukan pribadi ataupun milik pribadi lalu milik siapakah mereka itu? Sangat sulit untuk memutuskan hal ini, kita harus bersandar pada kebijaksanaan. Sang Buddha bersabda kita harus berlatih dengan "melepaskan". Sungguhlah sulit untuk benar-benar mengerti "berlatih dengan melepaskan" ini, bukan? Jika kita melepaskan maka kita tidak berlatih, bukan? ...Karena kita sudah melepaskan.

Seandainya kita pergi membeli beberapa butir kelapa di pasar, dan ketika kita membawanya pulang seseorang bertanya:

"Untuk apa Anda membeli kelapa itu?"

"Saya membeli mereka untuk dimakan".

"Apakah Anda akan memakan sabutnya juga?"

"Tidak".

"Saya tidak percaya. Jika Anda tidak akan memakan sabutnya mengapa Anda membelinya juga?"

Nah, sekarang apa yang akan kalian katakan? Bagaimana kalian akan menjawab pertanyaan mereka? Kita berlatih dengan nafsu. Jika kita tidak mempunyai nafsu kita tak akan berlatih. Praktek dengan nafsu adalah tanha. Merenungkan dengan cara ini, kalian tahu, bisa menimbulkan kebijaksanaan. Misalnya, kelapa tadi: apakah kalian akan memakan sabutnya juga? Tentu tidak. Lalu mengapa kalian membawa mereka juga? Karena waktunya belum tiba bagi kalian untuk membuang mereka. Mereka berguna untuk membungkus kelapa. Jika, setelah memakan kelapanya, kalian buang sabutnya, maka tidak ada persoalan.

Begitulah praktek kita. Sang Buddha bersabda, "Jangan bertindak berdasarkan nafsu, jangan berbicara berlandaskan nafsu, jangan makan berlandaskan nafsu". Berdiri, berjalan, duduk, atau berbaring... apapun... jangan melakukannya dengan nafsu. Ini berarti mengerjakan dengan melepaskan. Seperti membeli kelapa di pasar. Kita tak akan memakan sabutnya tetapi belum waktunya untuk membuang mereka. Pertama kita simpan mereka. Begitulah dengan praktek. Konsep dan Yang melampaui Konsep (Konsep (sammutti) menunjuk pada kenyataan semu atau sementara, sedangkan yang melampaui/transenden (vimutti)menunjuk pada kebebasan dari kemelekatan atau khayalan yan ada di dalamnya.) saling berdampingan, seperti kelapa. Daging, kulit dan sabut semua menjadi satu. Ketika kita membelinya kita membeli semuanya. Jika seseorang ingin menuduh kita memakan sabut kelapa, itu urusan mereka, kita tahu apa yang kita lakukan.

Kebijaksanaan adalah sesuatu yang harus kita temukan untuk diri kita sendiri. Untuk melihatnya kita harus berjalan tidak terlalu cepat maupun lambat. Apa yang harus kita lakukan? Pergilah ke mana tidak ada cepat maupun lambat. Berjalan dengan cepat atau berjalan dengan lambat bukanlah sang jalan.

Tetapi kita semua tidak sabar, kita tergesa-gesa. Begitu kita mulai, kita ingin bergegas mencapai akhir, kita tidak ingin tertinggal. Kita ingin berhasil. Ketika saatnya untuk mengatur batin untuk bermeditasi, beberapa orang berjalan terlalu jauh... Mereka menyalakan dupa, bersujud dan bertekad, "Selama dupa ini belum habis terbakar saya tak akan bangkit dari duduk saya, sampai pun saya pingsan atau mati, tidak jadi persoalan apapun... aku akan mati duduk?" Setelah mengucapkan tekadnya mereka mulai duduk. Begitu mereka duduk gerombolan Mara (Mara: personifikasi Buddhis untuk kejahatan, si Penggoda, yang kekuatannya menentang setiap usaha untuk mengembangkan kebajikan dan sila.) datang menyerang mereka dari semua sisi. Mereka baru duduk sejenak lalu sudah berpikir bahwa dupanya telah habis terbakar. Mereka membuka mata mengintip... "Oh, masih tersisa begitu banyak!"

Mereka menggertakkan gigi dan duduk lebih lama, merasa panas, bingung, gelisah, dan kacau... Sampai akhir batas mereka berpikir, "Pasti sudah habis sekarang" ...Mengintip lagi... "Oh, tidak! Bahkan belum separuh jalan!"

Dua atau tiga kali ia begitu dan dupa itu tetap belum habis, jadi mereka meyerah, memasukkannya dan duduk di sana membenci diri sendiri. "Aku begitu bodoh, aku begitu tak ada harapan!" Mereka duduk dan membenci diri sendiri, merasa tidak ada harapan. Ini hanya menimbulkan frustasi dan rintangan. Ini disebut rintangan dari itikad-jahat (vyapada). Mereka tidak bisa menyalahkan orang lain jadi mereka menyalahkan diri sendiri. Mengapa begini? Semuanya karena keinginan.

Sesungguhnya tidaklah perlu seperti itu. Memusatkan perhatian berarti konsentrasi dengan melepaskan, bukan mengkonsentrasikan diri kalian sendiri ke dalam ikatan-ikatan.

Tetapi kita mungkin membaca kitab suci, tentang kehidupan Sang Buddha, bagaimana beliau duduk di bawah pohon Bodhi dan memutuskan untuk diri sendiri, "Selama Aku belum mencapai Penerangan Sempurna Aku tak akan bangkit dari tempat ini, biarpun darahku mengering".

Membaca hal itu di dalam buku, kalian mungkin berpikir untuk mencobanya sendiri. Kalian akan melakukannya seperti Sang Buddha. Tetapi kalian belum mempertimbangkan bahwa kendaraan kalian hanyalah kecil. Kendaraan Sang Buddha sungguh besar, beliau bisa membawa semuanya mungkin kalian membawa semuanya sekaligus? Ini merupakan cerita yang sungguh berbeda.

Mengapa kita berpikir seperti demikian? Karena kita terlalu ekstrim. Kadang-kadang kita berjalan terlalu rendah, kadang kala kita berjalan terlalu tinggi. Titik keseimbangan begitu sulit untuk ditemukan.

Sekarang saya berbicara hanya dari pengalaman. Pada waktu yang lalu, praktek saya seperti itu. Praktek dalam rangka melampaui keinginan... jika kita tidak ingin, dapatkah kita berlatih? Saya terhenti di sini. Tetapi berlatih dengan nafsu-keinginan merupakan penderitaan. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, saya bingung. Kemudian saya menyadari bahwa praktek yang mantap adalah hal yang penting. Orang harus berlatih dengan terus-menerus. Mereka menyebutnya praktek yang "teguh dalam semua sikap badan". Tetaplah membersihkan praktek/latihan kita, jangan biarkan ia menjadi malapetaka. Praktek merupakan satu hal, malapetaka adalah yang lainnya (Di sini permainan kata-kata Thai "pbadtibut" (praktek) dan "wibut"(malapetaka) tak terdapat di dalam bahasa Inggris.). Orang pada umumnya menciptakan malapetaka. Ketika mereka merasa malas mereka tidak mempedulikan latihan, mereka hanya berlatih ketika mereka merasa bersemangat. Begitulah kecenderungan saya saat itu.

Sekarang kalian bertanyalah pada diri sendiri apakah ini benar? Berlatih ketika kalian menyukainya, tidak ketika tidak menyukainya: apakah ini sesuai dengan Dharma? Apakah ini bersungguh-sungguh? Apakah ini sejalan dengan ajaran? Inilah yang membuat praktek tidak teratur.

Apakah kalian merasa suka atau tidak, kalian harus berlatih yang sama: demikianlah yang diajarkan oleh Sang Buddha. Orang pada umumnya menunggu sampai mereka berselera berlatih; ketika mereka tidak suka, mereka tidak peduli. Beginilah cara mereka. Inilah yang disebut malapetaka, ini bukanlah praktek. Dalam praktek yang sebenarnya, tak peduli apakah kalian berbahagia atau tertekan, kalian tetap berlatih; apakah mudah atau sulit kalian berlatih; apakah panas atau dingin, kalian berlatih. Praktek benar-benar seperti ini. Dalam praktek yang sebenarnya, apakah sedang berdiri, berjalan, duduk, atau berbaring kalian harus berkehendak untuk meneruskan praktek secara mantap, buatlah sati kalian tetap di semua sikap badan.

Pada pemikiran pertama, tampaknya kalian seperti harus berdiri selama kalian berjalan, berjalan selama kalian duduk, duduk selama kalian berbaring... Saya telah mencobanya tetapi saya tidak bisa melakukannya. Jika seorang pemeditasi harus membuat berdiri, berjalan, duduk, dan berbaring semua sama, selama berapa harikah ia bisa mewujudkannya? Berdiri selama lima menit, duduk selama lima menit, berbaring selama lima menit... saya tak bisa melakukannya untuk waktu yang lama. Maka saya duduk dan memikirkannya lagi beberapa saat. "Apakah arti semua ini? Orang di dunia tidak dapat berlatih seperti ini!"

Lalu saya menyadari... "Oh, itu tidak betul, itu tak benar karena itu tidak mungkin dikerjakan. Berdiri, berjalan, duduk, berbaring... buatlah semuanya konsisten. Untuk menjadikan sikap badan tetap seperti dalam cara yang mereka terangkan dalam buku adalah tidak mungkin".

Tetapi mungkin untuk melakukan ini: Batin... hanya perhatikan batin. Milikilah sati —ingatan, sampajañña —kesadaran-diri, dan pañña —kebijaksanaan menyeluruh... ini bisa kalian lakukan. Ini merupakan sesuatu yang sangat berharga untuk dipraktekkan. Ini berarti ketika berdiri kita mempunyai sati, ketika berjalan kita mempunyai sati, ketika duduk kita mempunyai sati, dan ketika berbaring kita mempunyai sati —secara terus-menerus. Ini memungkinkan. Kita menempatkan kesadaran di dalam sikap-sikap badan kita seperti ketika sedang berdiri, berjalan, duduk, berbaring.

Ketika batin sudah terlatih seperti ini ia akan terus-menerus mengingat Buddho, Buddho, Buddho... yang berarti "mengetahui". Mengetahui apa? Mengetahui apa yang benar dan apa yang salah pada setiap saat. Ya, ini mungkin. Ini mendekati praktek yang sesungguhnya. Yaitu, apakah sedang berdiri, berjalan, duduk, atau berbaring, di sana terdapat sati yang berkesinambungan.

Kemudian kalian harus memahami kondisi-kondisi yang harus dilepaskan dan yang harus dikembangkan. Kalian mengerti kebahagiaan dan ketidak-bahagiaan, batin kalian akan berada pada titik yang bebas dari kebahagiaan dan ketidak-bahagiaan. Kebahagiaan adalah jalan yang longgar, kamasukhallikanuyogo. Ketidak-bahagiaan adalah jalan sempit, attakilamathanuyogo (Ini merupakan dua ekstrim yang dinyatakan sebagai jalan yang salah oleh Sang Buddha dalam Khotbah Pertama Beliau. Mereka biasanya diterjemahkan "Menuruti berbagai kesenangan inderawi" dan "penyiksaan diri). Jika kita mengetahui kedua ekstrim ini, walaupun mungkin batin cenderung pada satu atau yang lainnya, kita bisa menariknya kembali. Kita tahu ketika batin cenderung ke arah kebahagiaan atau ketidak-bahagiaan dan kita menariknya kembali, kita tidak mengizinkannya untuk mengikutinya. Kita mempunyai kesadaran semacam ini, kita taat pada Satu Jalan, Dhamma yang tunggal. Kita taat pada kesadaran, tidak mengizinkan batin untuk mengikuti kecenderungannya.

Dalam praktek, yang penting adalah patipada. Apakah patipada itu? Ia hanyalah berbagai kegiatan kita, berdiri, berjalan, duduk, berbaring dan yang lainnya. Inilah patipada dari jasmani. Sekarang patipada dari batin: dalam sepanjang hari ini berapa kalikah kalian merasa tertekan? Berapa kali kalian merasa tersanjung? Adakah perasaan-perasaan yang kelihatan jelas? Kita harus memahami diri kita seperti ini. Setelah mengenali perasaan itu dapatkah kita melepaskannya? Apapun yang belum dapat kita lepaskan, kita harus mengusahakannya. Bila kita tahu bahwa kita belum bisa melepaskan perasaan tertentu maka kita harus mengambil dan memeriksanya dengan kebijaksanaan. Carilah alasannya. Benahilah. Inilah praktek. Sebagai misal, ketika kalian merasa bersemangat, berlatihlah, dan ketika kalian merasa malas, cobalah untuk terus berlatih. Jika kalian tidak bisa meneruskan dengan "kecepatan penuh", paling tidak gunakan separuh kecepatan. Jangan buang-buang waktu dengan bermalasan dan tidak berlatih. Dengan bersikap seperti itu, akan membawa malapetaka, itu bukan cara seorang pelaksana.

Saya mendengar beberapa orang berkata,

"Oh, tahun ini saya sungguh tidak beruntung".

"Bagaimana bisa?"

"Sepanjang tahun saya sakit. Saya sama sekali tak bisa berlatih".

Oh! Jika mereka tidak berlatih ketika kematian sudah mendekat, kapan mereka akan pernah berlatih? Jika mereka merasa baik apakah kalian pikir mereka akan berlatih? Tidak, mereka hanya terlena dalam kebahagiaan. Jika mereka menderita mereka tetap tidak berlatih, mereka terlena di sana. Saya tidak tahu kapan orang berpikir bahwa mereka akan berlatih! Mereka hanya bisa melihat bahwa mereka sakit, nyeri, hampir mati karena demam... itu benar, bawalah beban itu, di situlah praktek itu. Ketika orang merasa bahagia itu hanya memenuhi kepala mereka dan mereka menjadi somsong dan congkak.

Inilah sebabnya para pelaksana di masa lalu semuanya mempertahankan latihan batin yang mantap. Jika ada yang salah, biarlah itu hanya kesalahan jasmani, bukan kesalahan di dalam batin.

Suatu ketika dalam praktek saya, setelah saya berlatih sekitar lima tahun, saya merasa bahwa hidup bersama orang lain merupakan rintangan. Saya duduk di kuti dan mencoba untuk bermeditasi, tapi orang-orang tetap datang untuk berbincang dan mengganggu saya. Saya pergi untuk hidup sendiri. Saya pikir saya tidak bisa berlatih dengan orang yang mengganggu. Saya bosan, saya pergi untuk hidup di satu vihara kecil yang sepi di hutan, dekat sebuah desa kecil. Saya tinggal di sana seorang diri, tidak berbicara pada siapapun —karena tidak ada orang lain untuk diajak berbicara.

Setelah saya berada di sana selama kira-kira lima belas hari, muncul pikiran, "Hm. Akan sangat baik jika saya ditemani oleh seorang samanera atau pa-kow ("Pa-kow": seorang calon yang menjalani delapan sila, yang sering tinggal bersama para bhikkhu dan, selain melakukan praktek meditasi untuk dirinya, mereka juga membantu para bhikkhu dengan pekerjaan-pekerjaan tertentu yang tidak boleh dilakukan para bhikkhu berdasarkan vinaya.) di sini. Ia bisa membantu saya dalam beberapa pekerjaan ringan". Saya tahu itu akan muncul, dan pasti, inilah dia!

"Hei! Kamu memang aneh! Kamu katakan bosan dengan teman-temanmu, bosan dengan para bhikkhu dan samanera, dan sekarang kamu menginginkan seorang samanera. Apa ini?"

"Tidak", katanya, "aku menginginkan seorang samanera yang baik".

"Nah! Di manakah semua orang yang baik, dapatkah kamu menemukannya? Di mana kamu akan menemukan orang baik? Di seluruh vihara hanya ada orang tidak baik. Kamulah satu-satunya orang yang baik, yang harus melarikan diri seperti ini!"

...Kalian harus mengikutinya seperti ini, mengikuti jalan pikiran kalian sampai kalian melihat...

"Hm. Inilah yang terpenting. Di manakah bisa ditemukan orang baik? Tidak ada orang baik, kalian harus menemukan orang baik di dalam diri kalian sendiri!"

Sampai sekarang saya tetap mengajar murid saya seperti ini. Kalian tak akan menemukan kebaikan di manapun, kalian harus mencari di dalam diri sendiri. Jika kalian baik maka ke manapun kalian pergi akan jadi baik. Apakah orang lain mengkritik atau memuji kalian, kalian tetap baik. Jika kalian tidak baik, maka ketika orang mengkritik kalian, kalian menjadi marah, dan ketika mereka memuji, kalian menjadi senang.

Saat itu saya merenungkan hal ini dan merasa bahwa itu benar dari saat itu sampai sekarang. Kebaikan harus dicari di dalam. Segera setelah saya melihatnya, perasaan ingin melarikan diri lenyap. Selanjutnya, setiap saya mempunyai keinginan itu saya melepaskannya. Kapan saja ia muncul saya menyadarinya dan menempatkan kesadaran saya di sana. Dengan cara itu saya mempunyai landasan yang kokoh. Di manapun saya hidup, apakah orang mencela saya atau apapun yang akan mereka katakan, saya akan merenungkan bahwa masalahnya bukan "mereka" itu baik atau jahat. Baik dan jahat harus dilihat dalam diri kita sendiri. Bagaimanapun orang lain, itu adalah urusan mereka.

Janganlah berpikir, "Oh, hari ini terlalu panas", atau, "hari ini terlalu dingin", atau "hari ini..." Bagaimanapun hari ini itulah perwujudannya. Kalian mencela cuaca hanya karena kemalasan kalian sendiri. Kita harus melihat Dhamma di dalam diri sendiri, maka di sana ada jenis kedamaian yang lebih pasti.

Walaupun beberapa di antara kalian mungkin merasakan kedamaian ketika sedang duduk bermeditasi, janganlah tergesa-gesa untuk menyalami diri kalian. Demikian pula jika terjadi kebingungan, janganlah mencela diri sendiri. Jika sesuatu terlihat baik, jangan menyenangi mereka dan jika mereka tidak baik janganlah membenci mereka. Amati saja mereka semua, amati apa yang kalian miliki. Hanya mengamati, jangan mengadili. Jika baik jangan menggenggamnya erat-erat; jika buruk, jangan melekat padanya. Baik dan buruk keduanya bisa menggigit, jadi jangan menggenggam mereka.

Praktek ini adalah hanya duduk, duduk dan mengamati semuanya. Suasana hati yang baik dan buruk datang dan pergi sesuai dengan alamiahnya. Jangan hanya memuji batin kalian atau hanya mencelanya, ketahuilah saat-saat yang tepat untuk hal-hal ini. Jika saatnya untuk memberi salam maka salamilah, tetapi sedikit saja, jangan berlebihan. Tepat seperti mengajar seorang anak, kadang kala kalian boleh memukul pantatnya sedikit. Di dalam praktek kita, kadang kala kita harus menghukum diri sendiri, tetapi janganlah menghukum dirimu sepanjang waktu. Jika kalian selalu menghukum dirimu sepanjang waktu, maka kalian akan berhenti berlatih. Tetapi kalian juga tidak boleh memanjakan diri dan menganggap enteng. Itu bukan cara berlatih. Kita berlatih sesuai dengan Jalan Tengah. Apakah Jalan tengah itu? Jalan Tengah ini sulit diikuti, kalian tidak bisa mempercayakan pada suasana-hati atau keinginan-keinginan kalian.

Jangan berpikir bahwa duduk dengan mata terpejam saja adalah praktek. Jika kalian berpikir seperti itu cepatlah ubah pikiran kalian! Praktek yang mantap adalah mempunyai sikap praktek saat berdiri, berjalan, duduk, dan berbaring. Jika berhenti dari meditasi duduk jangan berpikir bahwa kalian berhenti bermeditasi, renungkan bahwa kalian hanya mengubah sikap badan. Jika kalian merenungkan seperti itu maka kalian akan mendapatkan kedamaian. Di manapun kalian berada, kalian akan memiliki sikap praktek ini terus-menerus, kalian akan mempunyai kesadaran yang mantap di dalam diri kalian sendiri.

Mereka yang setelah menyelesaikan saat duduk di malam hari, lalu menuruti suasana-hati mereka, menghabiskan waktu sepanjang hari dengan membiarkan batin berkelana ke mana ia suka, akan merasa pada malam selanjutnya ketika duduk bermeditasi, semua yang mereka dapatkan adalah "akibat buruk" dari berpikir tanpa tujuan di siang hari. Tidak ada landasan ketenangan karena mereka telah membiarkannya beku sepanjang hari. Jika kalian berlatih seperti ini batin kalian secara bertahap akan menjauh dari sang praktek. Ketika saya menanyai beberapa murid saya, "Bagaimana dengan meditasi kalian?" Mereka berkata, "Oh, semuanya sudah hilang sekarang". Kalian lihat? Mereka bisa mempertahankan untuk satu atau dua bulan tetapi dalam satu atau dua tahun semuanya sudah berakhir.

Mengapa bisa begini? Karena mereka tidak menerapkan pokok penting ini ke dalam praktek mereka. Ketika mereka telah selesai duduk mereka melepaskan samadhi mereka. Mereka mulai duduk untuk masa yang lebih singkat dan singkat lagi, sampai mereka mencapai titik di mana begitu mereka mulai duduk mereka segera ingin mengakhirinya. Akhirnya mereka bahkan tidak duduk sama sekali. Sama halnya dengan bersujud di hadapan arca Sang Buddha. Pada awalnya mereka berusaha untuk bersujud setiap malam sebelum mereka tidur, tetapi sesaat kemudian batin mereka mulai menyimpang. Seterusnya mereka tidak peduli dengan bersujud lagi, mereka hanya mengangguk, sampai akhirnya semua hilang. Mereka membuang semua prakteknya.

Oleh karena itu, sadarilah pentingnya sati, berlatihlah terus-menerus. Latihan yang benar adalah latihan yang mantap. Apakah sedang berdiri, berjalan, duduk, atau berbaring latihan harus berkelanjutan. Ini berarti bahwa praktek, atau meditasi, dikerjakan di dalam batin, tidak di dalam jasmani. Jika batin kita bersemangat, bersungguh-sungguh dan sangat rajin, maka di sana ada kesadaran. Batin merupakan sesuatu yang penting. Batinlah yang mengawasi segala sesuatu yang kita lakukan.

Jika kita memahami dengan benar maka kita berlatih dengan benar. Jika kita berlatih secara benar kita tak akan tersesat. Biarpun kita hanya melakukan sejenak ia tetap benar. Misalnya, ketika kalian selesai duduk bermeditasi, ingatkan diri kalian bahwa sesungguhnya kalian tidak selesai meditasi, kalian hanyalah mengubah sikap badan. Batin kalian tetap tenang. Apakah ketika berdiri, berjalan, duduk, atau berbaring, kalian tetap memiliki sati. Jika kalian memiliki kesadaran semacam ini kalian dapat mempertahankan praktek di dalam batin kalian. Pada malam hari ketika kalian kembali duduk, praktek kalian berlanjut tanpa terganggu. Usaha kalian tidak gagal, mengantarkan batin untuk mencapai ketenangan.

Ini disebut latihan yang mantap. Apakah kita sedang berjalan atau mengerjakan hal lain kita harus berusaha menjadikan praktek tetap berlanjut. Jika batin kita mempunyai ingatan dan kesadaran secara terus-menerus, praktek kita dengan sendirinya akan berkembang, ia akhirnya akan menyatu. Batin akan menemukan kedamaian, akrena ia akan mengetahui apa yang benar dan apa yang salah. Ia akan melihat apa yang terjadi dalam diri kita serta menemukan kedamaian.

Jika kita mau mengembangkan sila (pengendalian moral), atau samadhi (ketetapan batin) pertama-tama kita harus mempunyai pañña (kebijaksanaan). Sebagian orang berpikir bahwa mereka akan mengembangkan pengendalian sila selama setahun, samadhi pada tahun berikutnya dan setelah itu mereka akan mengembangkan kebijaksanaan. Mereka pikir tiga hal ini saling terpisah. Mereka pikir bahwa tahun ini mereka akan mengembangkan, tetapi jika batinnya tidak kokoh (samadhi), bagaimana mereka bisa mengerjakannya? Jika tidak ada pemahaman (pañña) bagaimana mereka bisa melakukannya? Tanpasamadhi atau pañña, sila akan lemah.

Pada kenyataannya ketiga hal ini terjadi bersamaan pada titik yang sama. Jika kita memiliki sila kita memiliki samadhi, jika kita memiliki samadhi kita memiliki pañña. Mereka semuanya satu, seperti mangga. Apakah kecil atau besar, ia tetap mangga. Ketika masak ia tetap mangga yang sama. Jika kita berpikir secara sederhana seperti ini kita bisa lebih mudah melihatnya. Kita tak perlu belajar banyak hal, cukup pahami hal ini, pahami praktek kita.

Ketika bermeditasi ada orang yang tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan, sehingga mereka menyerah, dengan berkata bahwa saat ini mereka belum memiliki cukup kebajikan untuk praktek meditasi. Mereka bisa melakukan hal-hal buruk, mereka mempunyai bakat semacam itu, tetapi mereka tidak berbakat untuk berbuat baik. Mereka mengabaikannya dengan mengatakan bahwa mereka belum mempunyai cukup dasar. Begitulah orang pada umumnya, mereka berdampingan dengan kekotoran-kekotoran batin mereka.

Sekarang kalian memiliki kesempatan untuk berlatih, cobalah pahami bahwa apakah kalian merasa sulit atau mudah untuk mengembangkan samadhi, semuanya terserah pada kalian, bukan pada samadhi. Jika sulit, itu karena kalian berlatih secara salah. Di dalam praktek, kita harus mempunyai "Pandangan Benar" (sammaditthi). Jika pandangan kita benar maka yang lainnya juga benar. Pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, konsentrasi benar —Jalan Mulia berunsur delapan. Jika ada pandangan benar, semua faktor lainnya akan mengikuti.

Apapun yang terjadi, jangan biarkan batin kalian keluar dari jalur. Lihatlah ke dalam diri sendiri dan kalian akan melihat secara jelas. Untuk praktek yang terbaik, seperti yang saya lihat, tidaklah perlu untuk membaca terlalu banyak buku. Ambillah semua buku itu dan simpanlah. Bacalah hanya pikiran kalian. Kalian semua sudah mengubur diri di dalam buku sejak saat kalian bersekolah. Saya pikir sekarang kalian berkesempatan serta mempunyai waktu, ambillah semua buku, tempatkan mereka dalam lemari dan kuncilah pintunya. Bacalah hanya pikiran kalian.

Ketika sesuatu muncul di dalam batin, apakah kalian menyukainya atau tidak, apakah ia tampak betul atau salah, potonglah dengan "ini bukanlah sesuatu yang pasti". Apapun yang muncul pangkaslah, "tidak pasti, tidak pasti". Hanya dengan satu kapak ini kalian bisa memotong semuanya. Semuanya "tidak pasti".

Selama bulan depan di mana kalian akan tetap tinggal di vihara hutan ini, kalian harus mencapai banyak kemajuan. Kalian akan melihat kebenaran. "Tidak pasti" ini sangatlah penting. Ia mengembangkan kebijaksanaan. Lebih banyak kalian mengamati, lebih banyak kalian akan melihat "ketidak-pastian" ini. Setelah kalian memotong sesuatu dengan "tidak pasti" ia akan berputar dan akan muncul lagi. Ya, itu sungguh "tidak pasti". Kalian melekat pada tanda... "tidak pasti" ...dan sebentar kemudian giliran muncul, ia bersemi lagi... "Ah tidak pasti". Galilah di sini! Tidak pasti. Kalian akan melihat hal tua yang sama ini telah membodohi kalian selama berbulan-bulan, bertahun-tahun, sejak kalian dilahirkan. Hanya satu inilah yang telah mengelabui kalian selama ini. Amatilah hal ini dan sadarilah bagaimana ia sebenarnya.

Ketika praktek kalian mencapai titik ini kalian tak akan melekat pada sensasi/perasaan, karena mereka semua tidak pasti. Pernahkah kalian memperhatikannya? Mungkin kalian melihat sebuah jam dan berpikir, "Oh, ini bagus". Belilah dan amati... tidak berapa lama kalian sudah bosan padanya. "Pena ini sungguh indah", maka kalian bersusah-payah membelinya. Dalam beberapa bulan sekali lagi kalian bosan padanya. Begitulah adanya. Di manakah ada kepastian?

Jika kita melihat semua hal ini sebagai tidak pasti maka nilainya jadi memudar. Semuanya menjadi tidak berarti. Mengapa kita harus menggenggam benda-benda yang tidak bernilai ini? Kita menyimpannya hanya seperti kita menyimpan keset tua untuk membersihkan kaki kita. Kita melihat semua sensasi sama nilainya karena mereka semua bersifat sama.

Ketika kita memahami sensasi, kita memahami dunia ini. Dunia adalah sensasi dan sensasi adalah dunia. Jika kita tidak dikelabui oleh sensasi kita tidak dikelabui oleh dunia. Jika kita tidak dikelabui oleh dunia kita tidak dikelabui oleh sensasi/perasaan.

Batin yang melihat hal ini akan mempunyai landasan kebijaksanaan yang kokoh. Batin seperti itu tidak akan mempunyai banyak persoalan. Persoalan-persoalan apapun yang datang akan dapat ia selesaikan. Jika tidak ada persoalan lagi, maka tidak ada lagi keraguan. Kedamaian muncul sebagai manfaatnya. Inilah yang disebut "Praktek". Jika kita benar-benar berlatih ia haruslah seperti ini.

(www.kalyanadhammo.net)