Tampilkan postingan dengan label No Ajahn Chah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label No Ajahn Chah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Juni 2012

Birth and Death [ Kelahiran dan Kematian ]



1
A good practice is to ask yourself very sincerely, "Why was I born?" Ask yourself this question in the morning, in the afternoon, and at night…every day.

Latihan yang baik adalah bertanya kepada diri Anda sendiri dengan sungguh-sungguh,
“Mengapa saya dilahirkan?” Tanyakan diri Anda sendiri dengan pertanyaan ini pada
pagi hari, siang hari, dan malam hari... setiap hari.

2
Our birth and death are just one thing. You can’t have one without the other. It’s a little funny to see how at a death people are so tearful and sad, and at a birth how happy and delighted. It’s delusion. I think that if you really want to cry, then it would be better to do so when someone’s born. Cry at the root, for if there were no birth, there would be no death.
Can you understand this?

Kelahiran dan kematian kita adalah satu hal.
Anda tidak bisa mendapatkan yang satu tanpa yang lainnya.
Terlihat agak lucu; bagaimana pada saat ada kematian, orang-orang
menangis dan sedih; sedangkan pada saat ada kelahiran, orang-rang gembira dan
senang. Itu hanyalah khayalan. Saya rasa jika Anda benar-benar ingin menangis, lebih
baik melakukannya pada saat seseorang dilahirkan.
Menangislah pada awalnya, karena bila tidak ada kelahiran, maka tidak akan ada kematian.
Apakah Anda bisa mengerti hal ?

3
You’d think that people could appreciate what it would be like to live in a person’s belly. How uncomfortable that would be! Just look at how merely staying in a hut for only one day is already hard to take. You shut all the doors and windows and you’re suffocating already. How would it be to live in a person’s belly for nine months? Yet you want to stick your head right in there,
to put your neck in the noose once again

Anda akan berpikir bahwa orang mengerti apa yang akan terjadi jika hidup di dalam
kandungan seseorang. Betapa tidak nyaman! Bayangkan saja bila diam di dalam gubuk
hanya sehari saja rasanya sudah sulit. Kunci semua pintu dan jendela, Anda sudah
merasa tertekan. Jadi bagaimana rasanya tinggal di dalam kandungan seseorang selama
sembilan bulan? Tapi Anda tetap mau dilahirkan kembali! Anda tahu ketidak
nyamannya dalam kandungan, dan Anda masih mau menempelkan kepala di sana,
untuk menaruh leher Anda di dalam jerat itu sekali lagi.


4
Why are we born? We are born so that we will not have to be born again.

Mengapa kita dilahirkan? Kita dilahirkan agar kita tidak akan dilahirkan kembali.


5
When one does not understand death, life can be very confusing.

Ketika seseorang tidak mengerti tentang kematian, hidup dapat menjadi sangat
membingungkan.


6
The Buddha told his disciple Ananda to see impermanence, to see death with every breath. We must know death; we must die in order to live. What does that mean? To die is to come to the end of our doubts, all our questions, and just be here with the present reality. You can never die tomorrow; you must die now. Can you do it?
 If you can do it, you will know the peace of no more questions

Sang Buddha memberitahukan muridnya, Ananda, untuk melihat ketidak-kekalan,
untuk melihat kematian dalam setiap nafas. Kita harus memahami kematian; kita harus
mati agar dapat hidup. Apa artinya ini? Mati adalah jalan menuju akhir dari semua
keraguan, semua pertanyaan kita, dan ada di sini dengan kenyataan saat ini. Anda tidak
akan pernah mati besok. Anda harus mati sekarang. Dapatkah Anda melakukannya?
Bila Anda dapat melakukannya, Anda akan tahu kedamaian tanpa pertanyaan lagi.

7
Death is as close as our breath.

Kematian itu sedekat nafas kita.


8
If you’ve trained properly, you wouldn’t feel frightened when you fall sick, nor be upset when someone dies. When you go into the hospital for treatment, determine in your mind that if you get better, that’s fine, and that if you die, that’s fine, too. I guarantee you that if the doctors told me I had cancer and was going to die in a few months, I’d remind the doctors, "Watch out, because death is coming to get you, too. It’s just a question of who goes first and who goes later." Doctors are not going to cure death or prevent death. Only the Buddha was such a doctor, so why not go ahead and use the Buddha’s medicine?

Kalau Anda telah terlatih dengan benar,Anda tidak akan merasa ketakutan ketika jatuh
sakit, juga tidak sedih jika seseorang meninggal. Ketika Anda pergi ke rumah sakit
untuk menjalani perawatan, tanamkan di dalam pikiran jika Anda menjadi lebih sehat,
itu bagus; dan jika Anda meninggal, itu juga bagus. Saya menjamin Anda bahwa bila
dokter berkata kepada saya bahwa saya mengidap kanker dan akan mati beberapa bulan
lagi, saya akan mengingatkan dokter itu, “Hati-hati, karena kematian juga akan datang
menjemputmu. Ini hanya masalah siapa yang pergi duluan dan siapa yang pergi
belakangan.” Dokter tidak dapat menyembuhkan kematian dan tidak dapat mencegah
kematian. Hanya Buddha yang dapat disebut dokter, jadi kenapa tidak pergi dan
menggunakan obat dari Buddha?


9
If you’re afraid of illness, if you are afraid of death, they you should contemplate where they come from. Where do they come from? They arise from birth. So, don’t be sad when someone dies - it’s just nature, and his suffering in this life is over. If you want to be sad, be sad when people are born: "Oh, no, they’ve come again. They’re going to suffer and die again!"

Jika Anda takut sakit, jika Anda takut mati, sebaiknya Anda merenungkan dari mana
mereka berasal. Dari mana mereka datang? Mereka muncul dari kelahiran. Jadi jangan
sedih bila seseorang meninggal. Itu adalah hal yang alami, dan penderitaanya dalam
kehidupan ini berakhir. Jika Anda mau bersedih, bersedihlah pada saat orang
dilahirkan: “Oh tidak, mereka datang lagi. Mereka akan menderita dan mati lagi!”


10
The "One Who Knows" clearly knows that all conditioned phenomena are unsubstantial. So this "One Who Knows" does not become happy or sad, for it does not follow changing conditions. To become glad, is to be born; to become dejected, is to die. Having died, we are born again; having been born, we die again. This birth and death from one moment to the next is the endless spinning wheel of samsara.

“Dia yang mengetahui” dengan jelas tahu bahwa semua keadaan yang berkondisi
adalah tidak kekal. Jadi “Dia yang mengetahui” tidak akan menjadi senang atau sedih,
karena tidak mengikuti perubahan kondisi. Untuk menjadi senang, adalah untuk
dilahirkan; untuk menjadi kesal, adalah untuk mati. Setelah mati, kita lahir kembali;
setelah dilahirkan, kita mati lagi. Kelahiran dan kematian dari satu momen ke momen
berikutnya adalah putaran roda samsara yang tidak pernah berakhir






Body [ Jasmani ]





11
If the body could talk, it would be telling us all day long, "You’re not my owner, you know." Actually it’s telling it to us all the time, but it’s Dhamma language,
so we’re unable to understand it.

Bila tubuh bisa berbicara, ia akan berkata kepada kita sepanjang hari, “Kamu bukan
majikanku, kamu tahu.” Sebenarnya dia berkata kepada kita secara terus-menerus,
tetapi dengan bahasa Dhamma. Jadi kita tidak dapat mengerti.


12
Conditions don’t belong to us. They follow their own natural course. We can’t do anything about the way the body is. We can beautify it a little, make it look attractive and clean for a while, like the young girls who paint their lips and let their nails grow long, but when old age arrives, everyone is in the same boat. That is the way the body is. We can’t make it any other way.
But, what we can improve and beautify is the mind.

Kondisi bukan milik kita. Kondisi mengikuti jalan alaminya. Kita tidak bisa melakukan
apapun tentang jalannya tubuh. Kita bisa mempercantiknya sedikit, membuatnya
terlihat ceria dan bersih sejenak, seperti gadis muda yang memoles bibirnya dan
membiarkan kukunya tumbuh panjang, tetapi ketika usia tua datang, semua orang akan
mengalami kondisi yang sama. Itulah jalan tubuh kita. Kita tidak dapat mengubahnya
dengan cara apapun juga. Apa yang kita bisa perbaiki dan percantik adalah pikiran.


13
If our body really belonged to us, it would obey our commands. If we say, "Don’t get old," Or "I forbid you to get sick" does it obey us? No! It takes no notice. We only rent this "house", not own it. If we think it does belong to us, we will suffer when we have to leave it. But in reality, there is no such thing as a permanent self, nothing unchanging or solid that we can hold on to.

Kalau tubuh ini benar-benar milik kita, pasti ia akan mematuhi perintah kita. Jika kita
bilang, “Jangan jadi tua,” atau “Saya melarangmu untuk sakit,” apakah dia mematuhi
kita? Tidak! Tubuh ini tidak peduli. Kita hanya menyewa “rumah” ini, tidak
memilikinya. Kalau kita berpikir tubuh ini milik kita, kita akan menderita ketika harus
meninggalkannya. Tetapi dalam kenyataannya, tidak ada yang abadi, tidak ada yang
tidak berubah atau tetap dimana kita bisa bergantung padanya.




Breath [ Nafas ]



14
There are people who are born and die and never once are aware of their breath going in and out of their body. That’s how far away they live from themselves.

Ada orang yang lahir dan mati tanpa pernah sekalipun menyadari nafas masuk dan
keluar dari tubuhnya. Itu menunjukkan betapa jauhnya mereka hidup dari dirinya
sendiri.


15
Time is our present breath.

Waktu adalah nafas kita saat ini.


16
You say that you are too busy to meditate. Do you have time to breathe? Meditation is your breath. Why do you have time to breathe but not to meditate? Breathing is something vital to people’s lives. If you see that Dhamma practice is vital to your life, they you will feel that breathing and practicing the Dhamma are equally important.

Anda berkata bahwa Anda terlalu sibuk untuk bermeditasi.
Apakah Anda punya waktuuntuk bernafas?
Meditasi adalah nafas Anda. Mengapa Anda punya waktu untuk
bernafas tetapi tidak punya waktu untuk bermeditasi? Bernafas adalah sesuatu yang
penting dalam kehidupan seseorang. Jika Anda melihat bahwa latihan Dhamma penting
bagi hidup Anda, maka Anda akan merasa bahwa bernafas dan
berlatih Dhamma adalah sama pentingnya.




Dhamma



17
What is Dhamma? Nothing isn’t.

Apa Dhamma itu? Tidak ada yang bukan (Dhamma).


18
How does the Dhamma teach the proper way of life? It shows us how to live. It has many ways of showing it - on rocks or trees or just in front of you. It is a teaching but not in words. So still the mind, the heart, and learn to watch. You’ll find the whole Dhamma revealing itself here and now. At what other time and place are you going to look?

Bagaimana Dhamma mengajarkan cara hidup yang semestinya? Dhamma menunjukkan
bagaimana cara kita hidup. Dhamma mempunyai banyak cara untuk menunjukkannya.
Melalui karang atau pohon atau apa saja yang ada di depan Anda. Sebuah pengajaran
tanpa kata-kata. Maka tenangkan pikiran, hati, dan belajar memperhatikan. Anda akan
menemukan keseluruhan Dhamma muncul dengan sendirinya di sini dan sekarang.
Kapan dan dimana lagi Anda hendak mencarinya?


19
First you understand the Dhamma with your thoughts. If you begin to understand it, you will practice it. And if you practice it, you will begin to see it, you are the Dhamma and you have the joy of the Buddha.

Pertama Anda mengerti Dhamma dengan pikiran Anda. Jika Anda sudah mulai
mengerti, Anda akan melatih Dhamma. Jika Anda melatihnya, Anda akan mulai
melihatnya. Ketika Anda melihatnya, Andalah Dhamma tersebut dan Anda telah
memperoleh kebahagiaan dari Buddha.


20
The Dhamma has to be found by looking into your own heart and seeing that which is true and that which is not, that which is balanced and that which is not balanced.

Dhamma harus ditemukan dengan melihat ke dalam hati Anda sendiri, dan melihat
mana yang benar dan mana yang salah, mana yang seimbang dan mana yang tidak
seimbang.


21
There is only one real magic, the magic of Dhamma. Any other magic is like the illusion of a card trick. It distracts us from the real game: our relation to human life, to birth,
to death and to freedom.

Hanya ada satu keajaiban yang sesungguhnya, keajaiban Dhamma. Keajaiban yang lain
seperti ilusi dari sebuah permainan kartu sulap. Ilusi mengalihkan kita dari permainan
yang sesungguhnya: hubungan kita dengan kehidupan manusia, kelahiran, kematian,
dan kebebasan.


22
Whatever you do, make it Dhamma. If you don’t feel good, look inside. If you know it’s wrong and still do it, that’s defilement.

Apapun yang Anda lakukan, buatlah menjadi Dhamma. Jika Anda tidak merasa baik,
lihat ke dalam diri Anda. Jika Anda tahu itu salah tetapi tetap melakukannya, itu adalah kekotoran batin.


23
It’s hard to find those who listen to Dhamma, who remember Dhamma and practice it, who reach Dhamma and see it.

Sungguh sulit menemukan mereka yang mendengarkan Dhamma, yang mengingat
Dhamma dan melaksanakannya, yang mencapai Dhamma dan melihatnya.
24
It’s all Dhamma if we have mindfulness. When we see the animals that run away from danger, we see that they are just like us. They flee from suffering and run towards happiness. They also have fear. They fear for their lives just as we do. When we see according to truth, we see that all animals and human beings are no different. We are all mutual companions of birth, old age, sickness, and death.

Semuanya adalah Dhamma bila kita memiliki perhatian penuh. Ketika kita melihat
binatang berlari dari bahaya, kita melihat bahwa mereka seperti kita. Mereka melarikan
diri dari penderitaan dan mencari kebahagiaan. Mereka juga memiliki rasa takut.
Mereka takut akan kehidupannya seperti juga kita. Ketika kita melihatnya menurut
kebenaran, kita melihat bahwa semua binatang dan manusia tidak berbeda. Kita semua
adalah rangkaian dari kelahiran, usia tua, kesakitan, dan kematian.


25
Regardless of time and place, the whole practice of Dhamma comes to completion at the place where there is nothing. It’s the place of surrender, of emptiness, of laying down the burden. This is the finish.

Tanpa menghiraukan waktu dan tempat, keseluruhan pelaksanaan Dhamma menuju ke
arah penyelesaian di tempat yang tidak ada apa-apa. Itu adalah tempat untuk
melepaskan, kekosongan, untuk meletakkan beban. Ini adalah akhir.


26
The Dhamma is not far away. It’s right with us. The Dhamma isn’t about angels in the sky or anything like that. It’s simply about us, about what we are doing right now. Observe yourself. Sometimes there is happiness, sometimes suffering, sometimes comfort, sometimes pain …this is the Dhamma. Do you see it? To know this Dhamma, you have to read your experiences.

Dhamma berada tidak jauh. Benar-benar dekat kita. Dhamma bukanlah tentang
malaikat di langit atau sesuatu seperti itu. Dhamma adalah tentang kita, tentang apa
yang sedang kita lakukan sekarang. Amati diri Anda sendiri. Kadang-kadang ada
kebahagiaan, kadang penderitaan, kadang nyaman, kadang sakit ...ini inilah Dhamma.
Apakah Anda melihatnya? Untuk mengetahui Dhamma, Anda harus membaca
pengalaman-pengalaman Anda.


27
The Buddha wanted us to contact the Dhamma, but people only contact the words, the books and the scriptures. That is contacting that which is "about" Dhamma, and not contacting the "real" Dhamma as taught by our Great Teacher. How can people say that they are practicing well and properly if they only do that?
They are a long way off.

Sang Buddha menginginkan kita untuk berhubungan dengan Dhamma,
tetapi orang orang hanya berhubungan dengan kata-kata, buku-buku, dan kitab suci.
Ini hanya menghubungkan dengan apa yang disebut “tentang” Dhamma, dan bukan berhubungan dengan Dhamma yang “asli” seperti yang diajarkan oleh Guru Agung kita. Bagaimana mereka dapat berkata bahwa mereka telah berlatih dengan benar dan semestinya, jika hanya melakukan itu? Jalan mereka masih jauh sekali.


28
When you listen to the Dhamma you must open up your heart and compose yourself in the center. Don’t try to accumulate what you hear or make a painstaking effort to retain what you hear from memory. Just let the Dhamma flow into your heart as it reveals itself, and keep yourself continuously open to its flow in the present moment. What is ready to be retained will be so, and it will happen of its own accord, not through any determined effort on your part.

Ketika Anda mendengarkan Dhamma, Anda harus membuka hati Anda dan
menempatkan diri di tengah hati. Jangan mencoba untuk mengumpulkan apa yang
Anda dengar atau berusaha keras untuk memahami apa yang Anda dengar melalui
ingatan. Biarkan Dhamma mengalir ke dalam hati Anda sampai menampakkan dirinya
sendiri, dan teruslah membuka diri ke arah aliran itu pada saat ini. Apa yang seharusnya
dipahami akan Anda pahami dengan sendirinya,
tidak melalui usaha keras yang Anda 
tetapkan.


29
Similarly when you expound the Dhamma, you must not force yourself. It should happen on its won and should flow spontaneously from the present moment and circumstances. People have different levels of re3feptive ability, and when you’re there at that same level, it just happens, the Dhamma flows. The Buddha had the ability to know people’s temperaments and receptive abilities. He used this very same method of spontaneous teaching. It’s not that he possessed any special superhuman power to teach, but rather that he was sensitive to the spiritual needs of the people who came to him, and so he taught them accordingly.

Juga ketika Anda menguraikan Dhamma, Anda tidak boleh memaksakan diri. Uraian
Dhamma harus terjadi dengan sendirinya dan harus mengalir secara spontan pada saat
dan di lingkungan yang ada sekarang. Setiap orang mempunyai kemampuan untuk
menerima pengetahuan dengan tingkatan yang berbeda, dan ketika Anda berada pada
tingkatan yang sama, aliran Dhamma akan terjadi. Sang Buddha mempunyai
kemampuan untuk mengetahui temperamen dan kemampuan seseorang untuk
menerima ajaran. Beliau menggunakan metode spontan yang sama dalam mengajar. Itu
bukan karena Buddha memiliki kemampuan supranatural untuk mengajar, tetapi karena
Beliau lebih sensitif terhadap kebutuhan batin dari orang-orang yang datang kepada-
Nya. Jadi Beliau mengajar sesuai kebutuhan orang tersebut







Heart and Mind [ Hati dan Pikiran ]



30
Only one book is worth reading: the heart.

Hanya ada satu buku yang patut dibaca: hati.


31
The Buddha taught us that whatever makes the mind distressed in our practice hits home. Defilements are distressed. It’s not that the mind is distressed! We don’t know what our minds and defilements are. Whatever we aren’t satisfied with, we just don’t want anything to do with it. Our way of life is not difficult. What’s difficult is not being satisfied, not agreeing with it. Our defilements are the difficulty.

Buddha mengajarkan kita bahwa apapun yang membuat pikiran kita menderita di dalam
latihan artinya mengenai sasaran. Kekotoran batin adalah penderitaan. Bukan pikiran
yang menderita! Kita tidak tahu apa isi pikiran dan kekotoran batin kita. Terhadap
apapun yang kita rasa tidak puas, kita tidak akan mau berurusan lagi dengan hal itu.
Sebenarnya jalan hidup kita tidaklah sulit. Yang sulit adalah menjadi orang yang tidak
puas, tidak bisa menerima. Kekotoran batin adalah kesulitan yang sebenarnya.


32
The world is in a very feverish state. The mind changes from like to dislike with the feverishness of the world. If we can learn to make the mind still, it will be the greatest help to the world.

Dunia berada dalam bagian yang sangat tergesa-gesa. Pikiran berubah dari suka
menjadi tidak suka dengan segala tergesa-gesaan yang ada di dunia. Jika kita bisa
belajar untuk membuat pikiran tenang, itu akan menjadi bantuan yang sangat hebat bagi dunia.

33
If your mind is happy, then you are happy anywhere you go. When wisdom awakens within you, you will see Truth wherever you look. Truth us all there is. It’s like when you’ve learned how to read - you can then read anywhere you go.

Bila pikiran Anda senang, maka Anda pun akan senang kemana pun Anda pergi. Ketika
kebijaksanaan muncul dalam diri Anda, Anda akan menemukan kebenaran kemana pun
Anda melihat. Kebenaran itu ada dimana-mana. Sama halnya bila Anda telah belajar
membaca, Anda dapat membaca dimana saja


34
If you’re allergic to one place, you’ll be allergic to every place. But it’s not the place outside you that’s causing you trouble. It’s the "place" inside you.

Jika Anda merasa alergi pada ke suatu tempat, Anda akan merasa alergi di semua
tempat. Namun bukan tempat di luar Anda yang menyebabkan masalah, melainkan
“tempat” di dalam Anda.


35
Look at you own mind. The one who carries things thinks he’s got things, but the one who looks on only sees the heaviness. Throw away things, lose them, and find lightness.

Lihatlah pikiran Anda sendiri. Orang yang membawa benda mengira dia mempunyai
benda, tetapi orang yang melihatnya hanya melihat beban berat. Buanglah seluruh
benda, hilangkan, dan temukan keringanan.


36
The mind is intrinsically tranquil. Out of this tranquility, anxiety and confusion are born. If one sees and knows this confusion, then the mind is tranquil once more.

Pada hakikatnya, pikiran itu tenang. Di luar ketenangan ini, kegelisahan dan keraguan
muncul. Jika seseorang melihat dan mengetahui adanya keraguan, maka pikiran
menjadi tenang lagi.


37
Buddhism is a religion of the heart. Only this. One who practices to develop the heart is one who practices Buddhism.

Agama Buddha adalah agama hati. Hanya itu. Seseorang yang melatih hatinya adalah
orang yang melatih ajaran Buddha.


38
When the light is dim, it isn’t easy to see the old spider webs in the corners of the room. But when the light is bright, you can see them clearly and then be able to take them down. When your mind is bright, you’ll be able to see your defilements clearly, too, and clean them away.

Ketika cahaya redup, tidaklah mudah untuk menemukan jaring laba-laba tua di sudut
ruangan. Tetapi ketika cahaya terang, Anda dapat melihatnya dengan jelas dan dapat
membersihkannya. Ketika pikiran Anda terang, Anda akan dapat melihat kekotoran
batin dengan jelas, dan juga membersihkannya.


39
Strengthening the mind is not done by making it move around as is done to strengthen the body, but by bringing the mind to a halt, bringing it to rest.

Menguatkan pikiran tidak dapat dilakukan dengan mengerakkannya seperti menguatkan
tubuh, tetapi dengan membuatnya diam, beristirahat.


40
Because people don’t see themselves, they can commit all sorts of bad deeds. They don’t look at their own minds. When people are going to do something bad, they have to look around first to see if anyone is looking: "Will my mother see me?" "Will my husband see me?" "Will my children see me?" "Will my wife see me?" If there’s no one watching, then they go right ahead and do it. This is insulting themselves. They say no one is watching, so they quickly finish their bad deed before anyone will see. And what about themselves? Aren’t they a "somebody" watching?

Karena orang tidak melihat dirinya sendiri, mereka bisa melakukan segala jenis
perbuatan buruk. Mereka tidak melihat pikirannya sendiri. Ketika orang akan
melakukan perbuatan buruk, mereka akan memastikan ke sekeliling dahulu untuk
melihat apakah ada orang lain yang melihat: “Apakah ibu saya akan melihat?” “Apakah
suami saya akan melihat?” “Apakah anak-anak akan melihat?” “Apakah istri saya akan
melihat?” Bila tidak ada yang melihat, maka mereka akan melakukan perbuatan
buruknya. Ini namanya mempermalukan diri sendiri. Mereka mengatakan tidak ada
yang melihat, jadi mereka segera menyelesaikan perbuatan buruknya sebelum orang
lain melihat. Dan bagaimana dengan dirinya sendiri?
Bukankah ada “seseorang” yang memperhatikan?


41
Use your heart to listen to the Teachings, not your ears.

Gunakan hatimu untuk mendengarkan ajaran, bukan telingamu.


42
There are those who do battle with their defilements and conquer them. This is called fighting inwardly. Those who fight outwardly take hold of bombs and guns to throw and to shoot. They conquer and are conquered. Conquering others is the way of the world. In the practice of Dhamma we don’t have to fight others, but instead conquer your own minds,
patiently resisting all our moods.

Ada orang yang melakukan perang terhadap kekotoran batinnya sendiri dan
menaklukkannya. Ini namanya perang batin. Mereka yang berperang secara fisik,
mengambil bom dan pistol untuk dilempar dan ditembak. Mereka menaklukkan dan
ditaklukkan. Menaklukkan orang lain adalah jalan dunia ini. Dalam melaksanakan
Dhamma kita tidak perlu berperang dengan orang lain, melainkan menaklukkan pikiran
sendiri, dengan sabar menyingkirkan semua suasana hati.


43
Where does rain come from? It comes from all the dirty water that evaporates from the earth, like urine and the water you throw out after washing your feet. Isn’t it wonderful how the sky can take that dirty water and change it into pure, clean water? Your mind can do the same with your defilements if you let it.

Dari mana hujan datang? Hujan datang dari semua air kotor yang menguap dari bumi,
seperti air seni dan air yang Anda buang setelah membersihkan kaki. Bukankah
mengagumkan, bagaimana langit dapat mengambil air kotor dan mengubahnya menjadi
air murni, air bersih? Pikiran Anda dapat melakukan hal yang sama terhadap kekotoran
batin bila Anda membiarkannya bertindak.


44
The Buddha said to judge only yourself, and not to judge others, no matter how good or evil they may be. The Buddha merely points out the way, saying, "The truth is like this."
Now, is our mind like that or not?

Sang Buddha berkata untuk hanya menilai diri sendiri dan tidak menilai orang lain,
tidak peduli seberapa pun baik atau buruknya orang tersebut. Sang Buddha
menunjukkan hal ini dengan berkata, “Kebenaran adalah seperti ini.” Sekarang, apakah
pikiranmu seperti itu atau tidak?