Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Juni 2012

"Do everything with a mind that lets go”



Venerable Ajahn Chah dilahirkan pada 17 Juni 1918 di sebuah desa kecil dekat kota Ubon Rajathani, Thailand bagian timur laut. Setelah menyelesaikan sekolah dasar, beliau menghabiskan tiga tahun untuk menjalani masa percobaan kebhikkhuan sebelum kembali menjalani kehidupan normal membantu orang tuanya di sawah. Pada usianya yang keduapuluh, Beliau memutuskan untuk meneruskan kehidupan kebhikkhuannya, dan pada bulan April 1939, Beliau menerima upasampada.

Kehidupan awal Ajahn Chah sebagai bhikkhu dijalaninya dengan mengikuti pola tradisional, yaitu dengan belajar Buddhisme dan bahasa Pali. Pada tahun kelima, ayah Beliau menderita sakit keras dan kemudian meninggal, mengingatkan Ajahn Chah akan kelemahan dan penderitaan hidup manusia. Hal ini menyebabkan Beliau berpikir secara dalam tentang tujuan hidup yang sebenarnya, meskipun Beliau telah belajar secara serius dan mendapatkan kemampuan berbahasa Pali, Beliau merasa sangat jauh dari pengertian tentang akhir dari penderitaan hidup. Merasa kekecewaan mulai muncul, akhirnya pada 1946 Beliau meninggalkan masa pembelajarannya dan mulai memasuki kehidupan sebagai pertapa.

Beliau berjalan sejauh 400 km ke Thailand bagian tengah, tidur di tengah hutan, dan menerima sedekah makanan di desa-desa sepanjang perjalanannya. Beliau kemudian memutuskan untuk tinggal di sebuah vihara dan menjalankan vinaya secara penuh. Ketika berada di sana, Beliau diberitahu tentang Venerable Ajahn Mun Buridatto, seorang guru meditasi yang sangat dihormati pada saat itu. Keinginannya untuk bertemu dengan seorang guru yang pandai, Ajahn Chah memulai perjalanannya ke arah timur laut untuk mencari Ajahn Mun.

Pada waktu itu, Ajahn Chah mendapati masalah bahwa Beliau telah mempelajari banyak ilmu tentang moralitas dan meditasi, secara sangat terperinci dan dalam, namun Beliau tidak mampu menemukan cara untuk mempraktekkan semua yang telah diperolehnya itu. Ajahn Mun berkata kepadanya, meskipun ajaran-ajaran terasa sangat berat, namun ajaran-ajaran itu memiliki inti yang sangat sederhana. Dengan perhatian murni (mindfulness) yang terbangun, jika segala sesuatu tampak seperti muncul dari hati pikiran, maka di sanalah ada jalan yang benar untuk praktek. Ajaran yang langsung dan singkat ini merupakan sebuah penerangan bagi Ajahn Chah, dan setelahnya mengubah cara pandang Beliau tentang praktek ajaran. Baginya, Sang Jalan telah jelas.
Selama tujuh tahun berikutnya, Ajahn Chah menjalankan latihan dalam gaya Tradisi Hutan yang keras, tidak mengherankan mengingat daerah di sana merupakan tempat yang sesuai untuk mengembangkan meditasi. Beliau tinggal di hutan yang penuh dengan binatang yang berbahaya seperti harimau dan kobra. Resiko kematian yang Beliau alami di sana digunakannya untuk menemukan makna sebenarnya dari kehidupan. Pada suatu saat, Beliau menjalankan latihan di tanah kremasi, untuk menantang dan mengatasi ketakutannya akan kematian. Pada waktu yang lain, Beliau duduk di bawah hujan badai dan dingin, merasakan kesepian sebagai bhikkhu yang tidak memiliki tempat tinggal yang tetap.

Pada tahun 1954, bertahun-tahun setelah pencarian, Beliau diajak untuk kembali ke kampung halamannya. Beliau akhirnya tiba di suatu tempat yang telah lama dicarinya, yaitu hutan Pah Pong, dalam kondisi sakit-sakitan dan kekurangan makanan. Namun pada saat itu, Ajahn Chah mendapati murid-muridnya semakin meningkat jumlahnya. Di sanalah asal mula vihara yang kenal dengan Wat Pah Pong didirikan, dan setelah itu vihara-vihara cabang lainnya dibangun di mana-mana.
Pada 1967, Ajahn Chah menerima seorang murid dari Amerika yang kemudian dikenal sebagai Ajahn Sumedho. Pada saat itu, Ajahn Sumedho yang sedang menjalani latihan meditasi secara intensif di sebuah vihara dekat perbatasan Laotian, menyadari bahwa dia memerlukan seorang guru yang dapat mengajarkannya segala aspek kehidupan kebhikkhuan. Kebetulan ada salah seorang murid Ajahn Chah sedang mengunjungi vihara tersebut dan menceritakan tentang keberadaan Ajahn Chah kepada Bhikkhu Sumedho. Setelah itu, Bhikkhu Sumedho pun berangkat menemui Ajahn Chah untuk berguru.

Ajahn Chah dengan senang hati bersedia menerima siswa baru, tanpa perlakuan khusus meskipun Bhikkhu Sumedho adalah orang Barat. Bhikkhu Sumedho tetap diharuskan untuk menerima sedekah makanan apa adanya dan menjalani latihan yang sama dengan bhikkhu-bhikkhu lainnya di sana.

Latihan di sana sungguh keras dan banyak sekali pantangan. Ajahn Chah kerapkali menekan siswa-siswanya hingga batas kemampuan mereka, untuk menguji kekuatan dan daya tahan mereka, sehingga mereka dapat mengembangkan kesabaran mereka. Beliau terkadang memberikan tugas yang panjang dan tidak pasti, hanya untuk mengurangi kemelekatan mereka terhadap ketenangan. Tekanan yang diberikan selalu berkompromi dengan keadaan sebagaimana adanya, dan tekanan yang keras terutama diletakkan pada kepatuhan dalam menjalankan vinaya.

Di kemudian hari, banyak orang Barat yang datang berkunjung ke Wat Pah Pong untuk berlatih meditasi. Pada saat Bhikkhu Sumedho telah menjalani masa vassa kelimanya, Ajahn Chah memberikan kepercayaan kepadanya untuk mengajar meditasi. Beberapa bhikkhu baru yang datang berkunjung memutuskan untuk menetap dan menjalani latihan di sana.

Pada 1977, Ajahn Chah diundang untuk mengunjungi Inggris oleh perkumpulan Sangha Inggris. Dasar kunjungan ini adalah kegiatan amal dengan tujuan mendukung Sangha lokal di Inggris. Beliau mengajak Bhikkhu Sumedho dan Bhikkhu Khemadhammo ikut serta dalam kunjungan tersebut, dan karena mereka melihat sesuatu hal yang menarik, mereka memutuskan tinggal di London, di Vihara Hampstead (bersama dengan dua siswa Ajahn Chah yang lainnya). Pada tahun 1979, Beliau kembali ke Inggris, dan kemudian pergi ke Amerika dan Kanada untuk mengajar di sana.

Sepulangnya dari perjalanan, kesehatan Beliau mulai memburuk akibat penyakit diabetes yang dideritanya. Rasa sakit yang dirasakannya kerap digunakan beliau sebagai obyek perenungan (meditasi) terhadap fenomena ketidakkekalan. Beliau selalu mengingatkan orang-orang untuk berusaha keras mencari perlindungan di dalam diri masing-masing, jadi tidak selalu mengandalkan guru. Hal ini dikarenakan Ajahn Chah merasa dirinya tidak akan mampu mengajar lebih lama lagi. Sebelum masa vassa pada tahun 1981 berakhir, Beliau menjalani operasi di Bangkok yang sedikit banyak memulihkan kondisinya. Dalam beberapa bulan kemudian, Beliau sama sekali tidak berbicara, dan secara signifikan mulai kehilangan kendali atas anggota tubuhnya. Beliau perlahan menjadi lumpuh, dan hanya dapat beraktivitas di atas tempat tidurnya. Para siswanya dengan penuh perhatian merawat gurunya sebagai ungkapan terima kasih dan rasa hormat terhadap guru yang telah dengan sabar danpenuh cinta kasih menunjukkan jalan kepada banyak orang.

Setelah menjalani sepuluh tahun yang mengagumkan dalam kondisi sakit, Ajahn Chah akhirnya meninggal dunia pada tanggal 16 Januari 1992. Lebih dari satu juta orang menghadiri pemakaman beliau, termasuk keluarga kerajaan Thailand. Ajahn Chah mewariskan komunitas vihara yang berkembang dengan sangat pesat serta para pengikut ajarannya yang tersebar di Thailand dan Inggris, Amerika Serikat, Swiss, Italia, Australia, dan Selandia baru. Praktek akan ajaran Sang Buddha terus berlanjut dengan membawa inspirasi dari guru meditasi yang hebat ini.

YO DHAMMAM DESESI ADIKALYANAM MAJJHEKALYANAM PARIYOSANAKALYANAM TI

Dhamma itu indah pada awalnya, indah pada pertengahannya dan indah pada akhirnya


Senin, 21 Mei 2012

Sekilas Tentang Ajahn Chah




Ajahn Chah dilahirkan dalam suatu keluarga besar yang tak kurang sesuatu apapun di pedesaan Thailand Timur Laut. Ia ditahbiskan sebagai Samanera pada usia muda dan ketika telah mencapai usia dua puluh tahun, menjalani upasampada sebagai bhikkhu. Sebagai bhikkhu muda, Ajahn Chah mempelajari dasar-dasar Dhamma, Vinaya dan kitab-kitab suci lainnya. Belakangan ia mempelajari meditasi local yang mengikuti tradisi bertapa di hutan. Ia berkelana sebagai bhikkhu petapa tidur di hutan, gua dan tanah kuburan, dan menyempatkan waktu yang tidak lama tetapi merupakan periode pencerahan bersama Ajahn Mun, salah seorang guru meditasi Thai yang paling terkenal dan dihormati pada abad itu.

Setelah beberapa tahun berkelana dan berlatih, ia diundang untuk mendiami hutan lebat dekat tempat kelahirannya. Hutan ini tidak bertuan dan dikenal sebagai tempat kobra, macan, dan setan bersarang, sehingga seperti katanya , menjadi lokasi yang sempurna bagi seorang bhikkhu hutan. Di sekelililing Ajahn Chah, vihara yang besar terbentuk perlahan-lahan dengan semakin banyaknya bhikkhu dan umat awam yang datang mendengarkan petunjuknya dan tinggal di sana untuk berlatih bersamanya. Sekarang ada lebih dari empat puluh cabang vihara gunung dan hutan di seluruh Thailand dan juga Inggris dan Australia.

Memasuki Wah Pah Pong seseorang akan segera melihat bhikkhu-bhikkhu menimba air dari sumur dan sebuah tanda di tepi jalan berbunyi: “ Anda Mohon Tenang! Kami sedang mencoba bermeditasi. “

Walaupun meditasi kelompok diadakan dua kali sehari, inti meditasinya adalah kehidupan sehari-hari. Para bhikkhu mengerjakan pekerjaan dengan tangan mereka, mencelup dan menjahit jubah mereka sendiri, membuat sendiri kebutuhan mereka, dan menjaga agar bangunan vihara dan pekarangan tetap bersih. Di sini para bhikkhu hidup dengan cara sangat sederhana mengikuti janji petapa yang makan satu kali sehari dari mangkuk dana makanan dan membatasi milik serta jubahnya. Terpencar di hutan itu adalah gubuk-gubuk (kuti-kuti) untuk tiap bhikkhu, tempat untuk para bhikkhu hidup dan bermeditasi dalam kesendirian, dan tempat mereka berlatih meditasi berjalan di jalan-jalan yang bersih di bawah pohon.

Cara mengajar Ajah chah yang sederhana tetapi agung itu telah membuat khususnya orang barat tertarik dan telah banyak yang telah datang untuk bertapa dan berlatih bersamanya, bahkan beberapa diantaranya betah beberapa tahun lamanya. Dalam tahun 1975 Wat Pat Nanachat di dirikan dekat Wat Pah Pong sebagai vihara pelatihan khusus untuk orang barat yang semakin banyak berminat untuk menjalani pelatihan dalam vihara. Sejak itu banyak siswa barat senior dari Ajahn Chah memulai menyebarluaskan Dhamma ke barat. Ajahn Chah sendiri pernah mengunjungi ke Eropa dan Amerika Utara dan ia telah mendirikan cabang vihara yang berkembang pesat di Sussex, Inggris.

Kebijaksanaan merupakan landasan bagi kehidupan dan keberadaan, dan Ajah Chah telah berupaya melestarikan cara hidup sederhana para bhikkhu agar orang dapat belajar dan berlatih Dhamma pada masa sekarang.

Cara mengajar sederhana dari Ajahn Chah yang menakjubkan itu dapat memperdaya. Seringkali hanya setelah mendengar sesuatu darinya beberapa kali barulah kemudian tiba-tiba bathin seseorang menjadi matang dan ajaran bahkan itu menghasilkan makna yang lebih dalam. Ketrampilannya dalam cara menyesuaikan penjelasan Dhammanya terhadap pemahaman dan kepekaan pendengarnya, sungguh mengagumkan. Namun di atas kertas kadang-kadang ia Nampak tidak konsisten atau bahkan bertentangan! Pada saat demikian para pembaca hendaknya menyadari bahwa kata-kata itu adalah rekaman dari pengalaman hidup. Dengan cara yang serupa, jika ajarannya sewaktu-waktu berlainan dengan tradisi, hendaknya di camkan baik-baik dalam pikiran anda, bahwa YM Ajahn Chah selalu berbicara dari hatinya, dari kedalaman pengalaman meditasinya.

Ajah Chah (Tan Chao Kun Bodhinyana Mahathera) wafat pada tanggal 16 januari 1992 dalam usia 73 tahun. Banyak sudah buku-buku karya beliau yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.