Kamis, 27 September 2012

Guk ! Guk ! Guk !


Saya pernah melihat seekor anjing yang tidak mampu
memakan habis nasi yang telah saya berikan kepadanya,
jadi dia berbaring dan tetap menjaga nasinya di sana.
Anjing tersebut sangat kenyang sehingga ia tidak bisa
makan lagi, tetapi dia tetap berbaring sambil berjaga
di sana. Dia akan menunggu dan ngantuk, dan kadang-kadang dengan tiba-tiba memandang sekilas kepada
makanan yang tersisa tersebut. Jika ada anjing lain yang datang untuk makan, tidak peduli berapa besar ataupun kecil anjing tersebut, dia akan menggeram. 
Jika ayam-ayam datang untuk makan nasi tersebut, dia akan menggonggong: Guk! Guk! Guk! Perutnya sudah terasa akan pecah, tetapi dia tidak dapat membiarkan seekor hewan pun datang untuk makan. Anjing tersebut kikir dan hanya mementingkan diri sendiri.
Manusia juga bisa bersifat seperti itu. 
Jika mereka tidak mengetahui Dhamma, jika mereka tidak mempunyai kesadaran akan tugas-tugas mereka terhadap orang-orang yang di atas maupun di bawah mereka, jika pikiran-pikiran mereka dikuasai oleh kekotoran-kekotoran akan rasa tamak, marah, dan ketidaktahuan,maka bahkan ketika mereka sangat kaya mereka akan kikir dan hanya mementingkan diri sendiri. Mereka tidak tahu bagaimana cara berbagi. Mereka merasa sulit bahkan untuk memberikan dana kepada anak-anak miskin dan orang-orang tua yang tidak punya apapun untuk dimakan. Saya telah memikirkan tentang hal ini dan ia membuat saya berpikir bagaimana manusia-manusia tersebut begitu mirip dengan hewan pada umumnya. Mereka tidak mempunyai kebajikan sebagai seorang manusia sama sekali. Sang Buddha menamakan mereka manussa-tiracchano: manusia yang seperti binatang. Seperti itulah mereka karena mereka kurang akan niat bajik, rasa kasih, rasa turut berempati, dan ketenang-seimbangan.


(Insight Vidyâsenâ Production)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar